kumparan
9 April 2018 10:43

Terdampak Perang Dagang, Petani AS Mulai Meradang

Kedelai produksi petani AS. (Foto: REUTERS/Dan Koeck)
Keraguan anggota parlemen Amerika Serikat (AS), atas janji pemerintah Presiden Donald Trump untuk melindungi petani dari dampak perang dagang, mulai terbukti. Sejumlah asosiasi petani meradang, mereka mulai menyuarakan agar Trump menyudahi perang dagangnya dengan China.
ADVERTISEMENT
Dikutip dari Reuters, kebijakan pemerintah Trump soal perang dagang dengan China, telah mengabaikan kritik dan keberatan sejumlah kalangan termasuk petani. Padahal, negara-negara bagian yang merupakan sentra produksi pertanian AS, adalah basis suara pendukung Donald Trump pada Pilpres 2016 lalu.
“Ini bukan situasi yang bagus. Yang terjadi justru sebaliknya,” kata Senator AS dari Partai Republik, Pat Roberts, yang mengepalai Komite Pertanian Senat. Terkait janji untuk melindungi petani ini, senat tak melihat ada usulan kebijakan yang konkret.
"Kami tidak mendengar ada proposal khusus. Sejauh ini belum ada tawaran apa pun," kata Direktur Komunikasi dan Kebijakan Federasi Federasi Biro Pertanian AS, Will Rodger. "Dari poling kami, masalah perdagangan dengan AS harusnya dinegosiasikan, jadi baik China maupun AS tidak menggunakan tarif impor untuk perang dagang," tambahnya.
Ilustrasi petani AS. (Foto: Shutterstock)
Dikutip dari Politico, sejumlah petani juga mengungkapkan penolakan atas perang dagang yang dikobarkan Trump. "Kami ingin hidup kami, dan itu datang dari pasar," kata Mark Recker, petani jagung dan kedelai asal Iowa.
ADVERTISEMENT
Menurutnya, akibat pengenaan tarif impor oleh China atas produk-produk pertanian AS, para petani menunda pembelian peralatan utama pertanian. Bahkan sudah banyak yang beralih usaha ke sektor di luar pertanian.
Sebagai langkah balasan atas pengenaan tarif impor baja dan aluminium oleh AS, China menaikkan tarif impor atas 128 produk asal AS. Termasuk di dalamnya adalah produk pertanian seperti kedelai, buah-buahan, daging babi, serta komoditas lain yang banyak diekspor AS ke China.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan