kumparan
4 Mar 2019 7:17 WIB

Tips Keuangan Agar Tak Tertipu Investasi MLM

Ilustrasi MLM (Multi Level Marketing). Foto: Shutter Stock
Waspadai modus Investasi berupa Multi Level Marketing (MLM) yang ternyata bodong di sekitar kita. Bukannya menjual produk atau jasa, investasi itu biasanya dijalankan tak wajar dengan sistem kepesertaan.
ADVERTISEMENT
Salah-salah bila Anda terjerat, bukannya untung malah buntung. Bahkan, bisa menyeret Anda ke dalam 'lingkaran setan' yang dapat menghabiskan uang dan aset secara sia-sia.
Lalu, bagaimana cara agar Anda tak terjerat investasi bermodus MLM bodong? Tak lain agar keuangan Anda tetap terkelola dengan baik.
Perencana Keuangan dari Finansia Consulting, Eko Indarto mengatakan hal yang perlu diperhatikan ketika ada tawaran investasi itu ialah memastikan cara kerjanya rasional. Misalnya saja, jelas produk atau bentuk investasi serta cara menjalankannya.
Di samping itu, kata dia, investasi itu juga menerapkan azas keadilan dan tidak mendompleng pihak-pihak tertentu.
"Ketahui cara kerjanya. Jangan hanya melihat hasil tapi harus tahu bagaimana hasil bisa tercapai apakah wajar cara itu bisa dicapai," katanya ketika dihubungi kumparan, Senin (4/3).
ADVERTISEMENT
Tak kalah penting, Eko menambahkan tawaran hasil yang logis juga mesti menjadi pertimbangan. Jangan hanya tergoda dengan tawaran tinggi, namun tak memperhatikan risiko yang bakal ditanggung.
Ilustrasi MLM (Multi Level Marketing). Foto: Shutter Stock
"Ketahui tawaran hasilnya. Makin tinggi tawaran hasil maka akan makin tinggi risiko gagalnya dan makin tinggi juga usaha kita untuk memperolehnya," imbuh dia.
Satu yang paling menentukan, menurutnya investasi itu mutlak harus memiliki legalitas dan terdaftar dalam lembaga pengawas seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Eko menekankan agar calon investor untuk teliti dan cermat dalam memeriksa status MLM investasi itu. Lalu, memeriksa juga rekam jejak hingga keikutsertaan pada asosiasi yang terpercaya.
"Legalitasnya, semua MLM yang legal pasti tergabung dalam asosiasi pemasaran langsung jadi kalau mau bergabung, ikut ke perusahaan jenis ini bukan perusahaan yang tidak ada legalitasnya," pungkasnya.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan