Bisnis
·
6 Desember 2020 15:00

UMKM di Era Digital Harus Melek Design & Brand

Konten ini diproduksi oleh kumparan
UMKM di Era Digital Harus Melek Design & Brand (136779)
KUR Mikro BRI. Foto: Bank BRI
Di era digital saat ini, para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) harus memikirkan cara untuk membangun merek yang kuat, agar produk yang dipasarkan secara daring dapat menarik minat dan merebut hati konsumen.
ADVERTISEMENT
Setidaknya hal tersebut diungkapkan oleh Pendiri Sciencewerk Danis Sie, dalam talkshow BRI UMKM EXPO[RT] BRILIANPRENEUR 2020 yang bertajuk “Building a Relatable Branding” yang digelar secara daring pada Jumat (4/12). Talkshow tersebut merupakan rangkaian kegiatan pameran industri kreatif berorentasi ekspor yang diselenggarakan oleh BRI (IDX:BBRI) sebagai rangkaian perayaan HUT ke 125 tahun.
Dalam kesempatan tersebut, Danis Sie menyebut merek atau brand harus menjadi hal yang membedakan antara sebuah produk dengan barang serupa di pasar. Akan tetapi, merek bagus harus juga didukung kondisi produk yang unik dan berbeda.
“Dengan produk dan desain brand yang bagus maka tidak akan kalah dengan produk luar. Brand itu memberikan kesan pertama atau first impression terhadap suatu produk. Dia memberikan identitas pembeda supaya sebuah produk terlihat lebih menonjol dibanding produk lain,” ujar Danis dalam siaran pers BRI, Minggu (6/12).
ADVERTISEMENT
Selain Denis, turut hadir dalam talkshow yang fokus mengulas kiat-kiat membangun merek atau brand yang kuat di era kemajuan teknologi dan media sosial saat ini adalah Pendiri Sekata Living serta co-founder Whatever Workshop Hadistian Emir.
Menurut Danis, visualisasi yang menarik menjadi kata kunci, karena desain dan tampilan produk di dunia maya menjadi salah satu pertimbangan utama calon konsumen dalam memilih barang yang hendak dibeli secara daring.
UMKM di Era Digital Harus Melek Design & Brand (136780)
UMKM Binaan BRI. Foto: Dok. BRI
Lebih lanjut dia menjelaskan, branding yang kuat bisa dibangun pelaku UMKM dengan memperhatikan desain kemasan yang unik, atau menyediakan kemudahan komunikasi dan transaksi bagi pembeli dari dunia maya. Jika kedua hal ini bisa disediakan pelaku usaha maka calon pembeli akan merasa memiliki kesan khusus saat membeli produk terkait.
ADVERTISEMENT
“Untuk UMKM itu pertama harus tahu target pasar dan ceruknya (niche), lalu keunikan produk, kemudian yang paling penting adalah tahu tentang kompetitor. Kedua, bikin sesuatu yang unik dan berkualitas. Ketiga, masuk ke bagian pemasaran, desain, strateginya bagaimana. Terakhir, harus tetap konsisten dan terus berinovasi,” ujarnya.
Danis mengungkapkan, UMKM di Indonesia memiliki potensi besar untuk bersaing secara global dalam pemasaran berbagai produk. Karena itu, dia berpesan agar pelaku UMKM tidak merasa takut dan minder jika hendak membuat sebuah produk. Menurutnya, pengembangan produk harus dilakukan terus menerus jika pelaku usaha ingin barang dagangannya bisa semakin laku dan luas pasarnya.
“Cara mengembangkan produk itu pertama lakukan penelitian dulu, di social media harus tahu sedang ada tren apa. Kemudian, ambil elemen-elemen tadi ke cita rasa lokal dengan melibatkan pengrajin lokal. Untuk memancing pembeli cara menggandeng influencer masih efektif, tapi harus pilih-pilih influencer-nya juga, jangan asal,” ungkap Danis.
ADVERTISEMENT
Wawasan lain diberikan Hadistian Emir. Dia berkata, untuk mengembangkan pasar dan popularitas produk, pelaku usaha tidak butuh melakukan riset yang mahal. Penelitian bisa dilakukan mulai dari orang-orang terdekat, hingga penelusuran melalui dunia maya.
Akan tetapi, pelaku usaha harus memiliki modal kesabaran tinggi karena upaya membangun brand tidak bisa dilakukan secara instan. Riset yang baik dan mendalam menjadi kata kunci agar pembangunan merek sebuah produk bisa optimal.
Hadistian juga menyarankan agar UMKM tidak perlu menyusun ulang branding untuk penjualan di dunia maya, jika merek milik pelaku usaha sudah kuat di pasar luring.
“Kalau masih relevan, ganti cara komunikasinya saja dalam marketingnya. Karena kalau masih relevan itu unneccesary untuk rebranding. Marketing tools online dan offline itu berbeda. Begitu sudah memiliki branding yang kuat tidak perlu takut untuk masuk ke digital,” ujar Hadistian.
ADVERTISEMENT
Selain itu, Hadistian menyebut pelaku UMKM harus tahu elemen-elemen penting apa yang harus dimiliki untuk menciptakan pemerekan yang kuat. Faktor-faktor utama itu keyword, tone
and manner, benefit, reason to believe, dan target konsumer serta konsumer insight.
“Sekarang lebih ke soal branding, kalau melakukan riset ke customer, bikin sample packaging lalu berikan mereka. Apakah ini relevan untuk mereka atau tidak? Apakah ini level premium atau friendly? Dari situ kita bisa dapet customer insight,” ujarnya.
Kiat lain dari Hadistian yakni apabila pelaku UMKM ingin membuat sebuah merek maka jangan takut untuk bersabar apalagi menyiapkan branding. “Jangan buru-buru, yang penting kita tahu brand kita bagus, unik, kuat, dan siapkan sematang-matangnya. Karena kekuatan pikiran bisa mengubah penilaian orang terhadap sesuatu. Kalau awalnya mereka melihat barangnya biasa aja, tetapi jika branding kita kuat bisa jadi added value bagi produk kita dan mengubah penilaian mereka. Kita tidak apa-apa investasi waktu untuk menguatkan branding,” tutup Hadistian.
ADVERTISEMENT

sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white