Kumparan Logo
Produk Kenandy Leather Journal
Produk Kenandy Leather Journal.

Unik dan Klasik, UMKM Ini Produksi Jurnal Berbahan Kulit

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Produk Kenandy Leather Journal. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Produk Kenandy Leather Journal. Foto: Dok. Istimewa

Masih banyak orang yang menggemari hobi journaling di tengah perkembangan teknologi yang masif saat ini. Journaling atau kegiatan menulis dan menghias buku secara manual, bisa menjadi alternatif mengisi waktu luang yang produktif sekaligus menenangkan.

Peluang usaha inilah yang ditangkap oleh Andy purnawan dan Ken Savitrie. Mereka mendirikan brand Kenandy Leather Journal. Brand yang merupakan penggabungan dari nama mereka tersebut memproduksi buku jurnal berbahan kulit yang unik dan klasik.

Usaha yang digawangi Andy dan istrinya tersebut sudah berdiri sejak 2016. Dengan motivasi awal mereka yang sama-sama suka menulis, mereka mengembangkan komunitas menulis dan akhirnya mengembangkan usaha buku jurnal.

"Istri saya dulu wartawan wisata, saya penulis naskah film. Sama-sama suka nulis, kita coba ketemu bikin campaign yang namanya Ayo Menulis. Balik ke tradisional momen aja, karena menulis dengan manual atau tradisional itu lebih intim dan personal," ujar Andy kepada kumparan, Jumat (3/12).

Andy mengungkapkan, konsep desain jurnal kulit yang diproduksi Kenandy ternyata terinspirasi dari film Indiana Jones. "Dia kan ke mana-mana selalu bawa buku kecil, nah dari situ awalnya untuk style-nya, kenapa larinya ke bahan kulit dan jurnalnya kulit. Kami terinspirasi dari film Indiana Jones."

Selama hampir enam tahun berdiri, usaha Andy menghadapi berbagai tantangan. Menurut dia, tantangan paling besar adalah karena terbatasnya segmentasi pasar, di mana hanya berkisar di antara komunitas menulis atau journaling.

"Yang paling menjadi titik pembahasan kami setiap bulan itu bahwa produk kami spesialis journal reader ya, segmen kami khusus. Sehingga scope kita terbatas, scope kita itu komunitas menulis, komunitas planner," ungkapnya.

Produk Kenandy Leather Journal. Foto: Dok. Istimewa

Dengan adanya hambatan tersebut, Andy harus berpikir lebih jauh lagi. Salah satu jalan keluarnya adalah dengan berinovasi melalui campaign untuk mempromosikan buku jurnal sebagai hadiah.

"Kita coba untuk campaign bahwa hadiah itu tidak harus barang yang sekali pakai, sekali makan, atau mewah. Tapi hadiah itu bisa lho menjadi sebuah kenangan yang bisa digunakan dan bermanfaat. Nah campaign ini bagian dari inovasi kami, tantangan mulai cair," tutur Andy.

Namun, tantangan dari segi segmentasi tidak berhenti sampai situ. Pelanggan Kenandy biasanya hanya berkisar di umur 25-55 tahun, sehingga segmentasinya semakin terbatas.

"Jarang banget pembeli di bawah usia 25 tahun, anak SMP, SMA, itu hampir tidak ada. Bahkan anak kuliah termasuk jarang. Segmen kami termasuk yang sudah mapan secara kerjaan maupun ekonomi," katanya.

Andy pun harus berinovasi kembali, kali ini dia mulai menyasar promosi untuk menjadi suvenir yang mewah dan eksklusif. Dia pun mulai bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan yang membutuhkan suvenir VIP.

Omzet yang dihasilkan Kenandy pun cukup besar. Awal berdirinya Kenandy, omzet yang diraup berkisar Rp 5 juta - Rp 10 juta per bulan. Omzet tersebut semakin berkembang menjadi Rp 40 juta hingga Rp 60 juta di tengah hambatan terbatasnya segmentasi yang dialami UMKM ini.

Namun, pandemi COVID-19 yang menghantam dunia membuat omzet Kenandy yang awalnya stabil tersebut menjadi berkurang hingga 80 persen. Andy berkata, dia tetap bersyukur setidaknya Kenandy masih bisa bertahan melewati kondisi sulit ini.

"Kami tetap bertahan, kita enggak mengurangi karyawan atau tim, cuma memang ada penyesuaian gaji karena omzet kami sedikit, akhirnya sepakat pemotongan gaji dan pengurangan jam kerja. Kenandy masih terbilang aman walaupun penurunan omzet sangat banyak," jelas Andy.

Sedikit demi sedikit Kenandy bangkit dari keterpurukan. Andy mengatakan, target yang ingin dicapainya adalah memperbanyak mitra yang bisa mengapresiasi artisan lokal dan tidak menjual kembali barang dengan mengubah brand.

"Kita pengin punya mitra di luar negeri. Kita mencari buyer yang positif dalam hal ini menghargai artisan lokal. Banyak buyer yang datang ke Indonesia, suka produknya, lalu beli tapi dilabeli produk negara lain. Kasus itu yang sekarang ini kami perjuangkan," imbuhnya.

Produk Kenandy Leather Journal. Foto: Dok. Istimewa

Dia pun ingin Kenandy bisa membuka toko-toko di luar negeri. "Lebih ke konsinyasi konsepnya, kami yang memberikan harga, nanti konsinyasi berapa persen di setiap store atau mitra yang akan mengelola kita."

Untuk mengembangkan usahanya, Andy pun mengikuti program Brilianpreneur yang diselenggarakan oleh BRI. Kenandy menjadi salah satu UMKM yang lolos kurasi dan bisa mengikuti pameran atau ekshibisi dengan pasar level internasional.

Brilianpreneur merupakan kegiatan mempertemukan UMKM di seluruh Indonesia dengan para buyer internasional. Tahun ini, Brilianpreneur digelar pada 9-16 Desember 2021. Kegiatan ini menjadi rangkaian dari peringatan HUT ke-126 tahun BRI.

Andy mengaku target dan rencana pengembangan bisnis Kenandy sejalan dengan tujuan dilaksanakannya program Brilianpreneur. Dia mengungkapkan, ada banyak keuntungan yang bisa diraih dengan mengikuti program ini.

"Bagi kami keuntungannya memperluas jejaring kami, akan lebih luas lagi levelnya tidak lagi nasional tapi juga internasional sesuai dengan cita-cita kami, keinginan kami punya mitra di luar negeri. Saya pikir ini cocok banget dengan target kami tahun depan," pungkas Andy.