Bisnis
·
22 September 2020 6:42

Wall Street Jatuh, Investor Khawatir Stimulus Corona Tertunda

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Wall Street Jatuh, Investor Khawatir Stimulus Corona Tertunda (14658)
Ilustrasi Wall Street. Foto: Getty Images
Ketiga indeks utama Wall Street kembali jatuh pada awal pekan ini. Investor khawatir pada Eropa yang berencana kembali menerapkan lockdown dan penundaan stimulus baru oleh kongres, akan membuat pemulihan ekonomi AS lebih lama.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan laporan Reuters, Selasa (22/9), Dow Jones Industrial Average turun 509,72 poin atau 1,84 persen ditutup pada 27.147,7, indeks S&P 500 kehilangan 38,41 poin atau 1,16 persen menjadi 3.281,06, dan Nasdaq Composite turun 14,48 poin atau 0,13 persen menjadi 10.778,80.
Dow merosot 900 poin dan indeks Volatilitas Pasar CBOE, pengukur ketakutan Wall Street, melonjak ke level tertinggi dalam hampir dua pekan. Sementara S&P 500 berakhir turun sekitar 9 persen dari rekor tertingginya pada 2 September.
"Meskipun tidak ada yang terhindar, kelompok yang sensitif secara ekonomi akan terpukul paling keras. Washington sepertinya kecil kemungkinan menyelesaikan paket stimulus keempat dalam waktu dekat,” Kata David Joy, kepala strategi pasar di Ameriprise.
Kematian Hakim Agung AS, Ruth Bader Ginsburg, membuat pengesahan paket stimulus fiskal memiliki kemungkinan kecil untuk selesai sebelum pemilu 3 November mendatang.
ADVERTISEMENT
Kongres berlangsung buntu selama berminggu-minggu untuk menetapkan jumlah anggaran penanganan virus corona. Padahal paket stimulus sebelumnya ditetapkan sebesar USD 3 triliun.
Wall Street Jatuh, Investor Khawatir Stimulus Corona Tertunda (14659)
New York Stock Exchange (NYSE) Foto: REUTERS/Lucas Jackson
Sementara itu, penyedia layanan kesehatan berada di bawah tekanan karena ketidakpastian atas nasib Undang-Undang Perawatan Terjangkau (ACA) atau yang lebih dikenal sebagai Obamacarez
Kematian Ginsburg pun dikhawatirkan dapat mengarah pada pemungutan suara untuk menentukan nasib ACA selanjutnya.
"Hal tersebut membuat kekhawatiran pasar dan menambah kegelisahan sebelum pemilu," kata Ed Campbell, manajer portofolio dan direktur pelaksana di QMA di Newark, New Jersey.
Wall Street jatuh selama tiga pekan terakhir, karena investor menjual saham-saham terkait teknologi kelas berat, yang sebelumnya mengangkat S&P 500 dan Nasdaq ke level tertinggi sejak Maret.
ADVERTISEMENT
Berbeda dengan penurunan minggu lalu, penurunan saham kali ini dipimpin sektor berorientasi nilai seperti industri, energi, dan keuangan.
Perusahaan penerbangan, hotel, dan kapal pesiar menyiapkan adanya penurunan permintaan, ketika Inggris mengisyaratkan kemungkinan melakukan lockdown untuk kedua kalinya. Indeks perjalanan dan rekreasi Eropa mengalami penurunan terbesar sejak April.
Wall Street Jatuh, Investor Khawatir Stimulus Corona Tertunda (14660)
New York Stock Exchange (NYSE) Foto: REUTERS/Lucas Jackson
Peraih keuntungan terbesar pada Nasdaq 100 adalah Zoom Video Communications Inc, yang naik 6,8 persen karena prospek bahwa lockdown akan memicu penggunaan produk yang lebih besar.
JPMorgan Chase & Co dan Bank of New York Mellon Corp, masing-masing turun 3,1 persen dan 4,0 persen di tengah laporan bahwa beberapa bank global memindahkan sejumlah besar dana yang diduga terlarang selama hampir dua dekade, meskipun ada peringatan tentang asal-usul uang tersebut.
ADVERTISEMENT
Nikola Corp anjlok 19,3 persen setelah pendirinya, Trevor Milton, mengundurkan diri sebagai ketua eksekutif setelah pertengkaran atas tuduhan nepotisme dan penipuan.
General Motors Co, yang baru-baru ini mengatakan akan mengambil 11 persen saham pembuat truk listrik itu, tergelincir 4,76 persen.
Volume di bursa saham AS adalah 10,62 miliar saham. Jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata dalam 20 hari terakhir sebanyak 9,28 miliar saham.