WIKA Akui Kontrak Baru Merosot Tajam Imbas Kebijakan Efisiensi Anggaran
30 Juli 2025 19:45 WIB
·
waktu baca 3 menit
WIKA Akui Kontrak Baru Merosot Tajam Imbas Kebijakan Efisiensi Anggaran
Kontrak baru WIKA Grup terpantau merosot 58 persen year on year (yoy).kumparanBISNIS

ADVERTISEMENT
PT Wijaya Karya (Persero) Tbk atau WIKA melaporkan penurunan kontrak baru per Juni 2025. Berdasarkan data terbaru, kontrak baru WIKA Grup terpantau merosot 58 persen year on year (yoy).
ADVERTISEMENT
Senior Manager Corporate Relation WIKA William menyebut penurunan tersebut terjadi karena adanya kebijakan efisiensi anggaran pemerintah. Sebagian besar proyek yang dikerjakan WIKA, berasal dari Kementerian Pekerjaan Umum.
"40 persen proyek WIKA didanai lewat PU, karena PU anggarannya dipotong jadi (kami) terkena dampaknya,” ujar William dalam konferensi pers WIKA, Rabu (30/7).
Dalam acara yang sama, Corporate Secretary WIKA Ngatemin mengatakan sejak pertengahan 2024 sampai saat ini, WIKA menghadapi tantangan baru berupa turunnya perolehan kontrak akibat dampak perubahan kebijakan pemerintah atas efisiensi anggaran.
Per Juni 2025, kontrak baru WIKA Grup yang telah digarap hanya sebesar Rp 4,33 triliun atau minus 58 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar Rp 10,24 triliun.
ADVERTISEMENT
"Di Q2 (kuartal II) kami, kontrak yang kami hadapi Rp 38,8 triliun," jelas Ngatemin.
Dia menjelaskan, angka Rp 38,8 triliun merupakan perolehan nilai dari seluruh kontrak WIKA yang belum diproduksi hingga kuartal II tahun ini.
Selain kontrak baru, WIKA juga mengalami penurunan pada kontrak baru WIKA Induk. Per Juni 2025, kontrak tersebut turun 40 persen atau Rp 1,49 triliun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 2,5 triliun.
Penurunan Kontrak Pengaruhi Kinerja
Penurunan kedua kontrak baru tersebut berpengaruh terhadap kinerja keuangan WIKA pada kuartal II 2025, dari sisi penjualan WIKA membukukan 5,85 triliun, jumlah ini menurun dibanding kuartal II 2024 yang sebesar Rp 7,53 triliun.
Lebih lanjut, dari sisi piutang, WIKA mencatat penurunan utang usaha sebesar Rp 6,26 triliun dalam periode kuartal II-2024 hingga kuartal II-2025. Dengan penurunan tersebut, total utang perseroan kini berada di angka Rp 33,6 triliun.
ADVERTISEMENT
"Langkah ini mencerminkan pengelolaan kas operasional perseroan yang disiplin dan mandiri, serta upaya konsisten perseroan untuk terus menurunkan jumlah utang,” lanjutnya.
Penurunan utang tidak lepas dari penerapan delapan substream penyehatan keuangan WIKA, dengan restrukturisasi keuangan sebagai pilar utama yang difinalisasi pada 28 Februari 2024.
Dalam setahun terakhir, perseroan melunasi pokok obligasi sukuk dan utang perbankan senilai Rp 5,60 triliun menggunakan kas operasional. Sementara itu, utang usaha kepada mitra kerja turun Rp 660 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sejak 2023, WIKA juga menghentikan penggunaan fasilitas pinjaman talangan supplier yang sebelumnya menjadi salah satu sumber pendanaan proyek.
“Penghentian ini sejalan dengan komitmen perseroan untuk menyelesaikan proyek dengan termin tanpa membebani neraca dengan kewajiban jangka pendek,” kata Ngatemin.
ADVERTISEMENT
Perbaikan arus kas turut didukung percepatan penagihan piutang. Dengan membentuk Divisi Asset Management dan mengintensifkan proses litigasi serta mediasi, WIKA menurunkan total piutang usaha sebesar Rp 1,33 triliun pada periode yang sama.
Dalam pemilihan proyek baru, katanya, WIKA bakal lebih selektif dengan mengutamakan kontrak berbasis pembayaran bulanan (monthly progress payment).
“Mekanisme ini membantu menjaga arus kas perseroan tetap sehat, sekaligus mencegah akumulasi utang kepada pemasok maupun pihak ketiga,” tambah dia.
WIKA saat ini tercatat memiliki 1.260 pegawai, tidak termasuk karyawan anak perusahaan.
