Bisnis
·
14 Januari 2021 17:56

YLKI Anggap Penumpang Pesawat Boleh 100 Persen Itu Kebijakan Kontraproduktif

Konten ini diproduksi oleh kumparan
YLKI Anggap Penumpang Pesawat Boleh 100 Persen Itu Kebijakan Kontraproduktif (435995)
suasana di terminal 3 Bandara Soetta. Foto: Angkasa Pura II
Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi, menyayangkan kebijakan pemerintah yang memperbolehkan keterisian penumpang pesawat 100 persen saat periode Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) pada 11-25 Januari 2021.
ADVERTISEMENT
Tulus menganggap kebijakan tersebut secara umum berisiko tinggi karena kontak fisik lebih dekat. Sehingga potensi penularan COVID-19 menjadi lebih besar.
“Ini yang saya kira bisa juga kita simpulkan bahwa ini semacam policy yang kontraproduktif, di satu sisi pemerintah berkeras membatasi masyarakat mobilitas, pengendalian dan cukup ketat, tapi di sisi lain malah menyodorkan kebijakan yang bisa mendorong penularan,” kata Tulus saat dihubungi kumparan, Kamis (14/1).
Kebijakan tersebut sudah kadung diberlakukan setelah Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mencabut aturan penumpang pesawat maksimal 70 persen dalam SE Nomor 3 Tahun 2021 tentang Petunjuk Pelaksana Perjalanan Orang Dalam Negeri dengan Transportasi Udara Dalam Masa Pandemi COVID-19.
YLKI Anggap Penumpang Pesawat Boleh 100 Persen Itu Kebijakan Kontraproduktif (435996)
Tulus Abadi, ketua pengurus harian YLKI. Foto: Aprilandika Pratama/kumparan
Tulus merasa saat ini yang dibutuhkan adalah kepatuhan penumpang mengikuti persyaratan atau protokol kesehatan yang ditetapkan. Ia meminta jangan sampai penumpang abai seperti dengan bercakap-cakap dengan penumpang lainnya, apalagi tidak memakai masker.
ADVERTISEMENT
“Oleh karena itu harus diingatkan betul oleh maskapai dan pemerintah agar penumpang jangan sampai kontak fisik, batuk tidak ditutup, dan segala macam. Ini risikonya,” ujar Tulus.
Selain itu, Tulus menegaskan harus ada konsistensi dari maskapai dalam menjalankan kebijakan tersebut. Ia mencontohkan apabila dilarang makan di pesawat saat penerbangan kurang dari 2 jam, maka makanan tidak langsung dibagikan.
“Saya minta maskapai jangan membagikan snack selama penerbangan, kecuali penumpang minta karena kelaparan atau mungkin perlu untuk minum obat atau apa. Sehingga dibagikannya harusnya ketika dia turun,” tutur Tulus.