kumparan
16 Mei 2019 10:59

Ada Appie Nouri di Perayaan Gelar Juara Ajax

Abdelhak Nouri
Abdelhak Nouri saat memperkuat Ajax di Liga Europa musim 2016/17. Foto: Dean Mouhtaropoulos/Getty Images
Ada Abdelhak 'Appie' Nouri di perayaan gelar juara Ajax Amsterdam. Meski tidak hadir secara fisik, spirit Appie dibawa larut dalam perayaan gelar juara Eredivisie 2018/19 itu.
ADVERTISEMENT
Ini gelar spesial: Gelar liga pertama setelah lima tahun, gelar juara ke-34 Ajax di kompetisi liga yang diraih di pekan ke-34--angka yang sama dengan nomor punggung Appie.
Spanduk raksasa yang memperlihatkan cara Appie merayakan gol, dengan gaya menunjuk jersi bernomor punggung 34 menjadi koreo yang paling megah. Atraksi itu menjadi persembahan paling manis yang bisa diberikan oleh para suporter yang memenuhi tribune.
Manajemen pun jelas tak mau ketinggalan. Lewat akun media sosial resminya, Ajax menegaskan bahwa gelar juara ke-34 itu dipersembahkan khusus untuk Appie. Cara sederhana untuk mengingatkan bahwa Appie tak pernah kehilangan Ajax dan sepak bolanya.
Semuanya bermula pada 8 Juli 2017. Kala itu, Appie sedang memperkuat Ajax di laga pramusim melawan Werder Bremen. Kelainan detak jantung alias aritmia membuat Appie yang waktu itu berusia 20 tahun kolaps di lapangan.
ADVERTISEMENT
Laga pun langsung dihentikan, para petugas medis merespons cepat demi memberikan pertolongan pertama di lapangan. Appie segera dilarikan ke rumah sakit terdekat dengan helikopter dan diberi tindakan medically induced coma atau dikomakan secara medis.
Aritmia yang dialami Appie memicu cardiac arrest alias henti jantung. Di momen itu pulalah, suplai oksigen terhenti sehingga menimbulkan kerusakan otak permanen. Pada 10 Juli 2017, Ajax mengumumkan via akun Twitter-nya bahwa jantung Appie sudah bekerja dengan normal. Akan tetapi, ketika itu kondisi otaknya belum dapat diuji karena masih belum disadarkan.
Ajax Amsterdam
Pemain-pemain Ajax merayakan gol. Foto: EMMANUEL DUNAND / AFP
Satu tahun lebih mengalami koma secara medis, Appie akhirnya bangun juga. Kabar membaiknya kondisi eks pemain Ajax tersebut diterangkan oleh penuturan sang kakak, Abderrahim, yang dikutip oleh beberapa media Belanda. Sayangnya, kondisi fisik ini membuat Appie mesti pensiun dini sebagai pemain bola.
ADVERTISEMENT
Sebelum mengalami musibah ini, Appie dinilai sebagai talenta paling menjanjikan di Belanda dan Eropa. Pada musim 2016/17, ia mampu tampil impresif bersama Jong Ajax dan membuatnya diganjar penghargaan Pemain Terbaik Eerste Divisie.
Selain bersama Ajax, nama Appie juga harum di level internasional setelah memperkuat Tim Nasional Belanda di semua kelompok umur. Pada 2016, ia tercatat sebagai salah satu pemain yang masuk ke dalam Tim Terbaik Piala Eropa U-19.
Loading Instagram...
"Gelar juara ini untuk Appie, tapi saya tetap membayangkan semenyenangkan apa kalau ia ada di sini, ikut ambil bagian secara langsung bersama kami di sini. Pikiran seperti ini tidak mau pergi dari kepala saya."
Kalimat tadi adalah kata-kata Donny van de Beek dalam wawancara usai laganya. Di antara seluruh penggawa Ajax, Van de Beek memang dikenal sebagai teman terdekat Appie sejak di akademi.
ADVERTISEMENT
Terpukul dengan kejadian yang menimpa kawan karibnya itu? Itu sudah pasti. Tapi, Van de Beek punya cara sendiri untuk melawan hari-hari buruk tanpa sahabat. Kepada Appie, ia berjanji tak akan meninggalkan Ajax sampai klubnya itu merengkuh juara liga ke-34.
Kapan pun itu, sampai trofi itu diangkat, Van de Beek akan bersetia bersama Ajax. Kendati sebagian orang paham, Ajax adalah klub yang selalu membukakan pintunya lebar-lebar bagi para talenta muda yang ingin mengepakkan sayap di luar Belanda, ke klub-klub hebat di Eropa sana.
Donny van de Beek
Raut bahagia Donny van de Beek usai Ajax Amsterdam kalahkan Tottenham Hotspur. Foto: Reuters/Dylan Martinez
"Di awal-awal musibah itu, saya menjaga jarak dengannya karena saya ingin melindungi diri sendiri. Kalau saya melihatnya dalam keadaan seperti itu, saya akan benar-benar terpukul. Lalu saya marah dan tidak bisa tidur selama beberapa minggu. Kejadian ini benar-benar menyakitkan buat saya," cerita Van de Beek dalam wawancaranya bersama De Telegraaf.
ADVERTISEMENT
"Saya memutuskan untuk mengunjunginya. Setiap saya bersamanya, saya berbicara dengannya. Terkadang, saya melihat dia tersenyum, seperti memahami apa yang saya bicarakan. Setelah kejadian itu saya tidak pernah melupakan kata-kata Appie. Saya bertekad untuk meraih gelar juara ke-34 ini untuknya," jelas Van de Beek.
Berangkat dari kondisi fisiknya ini, apa boleh buat, Appie mesti pensiun dini sejak Juli 2018. Itu berarti, Appie mesti berjauh-jauhan dengan sepak bola. Tapi, sejauh apa pun itu, sepak bola selalu memberi tempat buat Appie. Kawan di atas lapangan bola yang menepati janji itu menjadi bukti.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan