kumparan
7 Agu 2019 11:30 WIB

Analisis Final Piala Indonesia: Efek Buruk Pergantian Taktikal Persija

Pemain Persija Jakarta menyapa pendukungnya di Stadion Andi Mattalatta, Selasa (6/8). Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Persija Jakarta gagal menggondol trofi Piala Indonesia. Walau menang di leg pertama, yang berlangsung di Gelora Bung Karno, mereka gagal meraih hasil apik di leg kedua.
ADVERTISEMENT
Menghadapi PSM Makassar di Stadion Andi Mattalatta, Selasa (6/8/2019) sore WIB, Persija kalah dengan skor 0-2, lewat gol-gol yang dicetak Aaron Evans dan Zulham Zamrun. Kekalahan ini membuat 'Macan Kemayoran' kalah total agregat 1-2 dari PSM.
Pada pertandingan leg II itu, PSM memang memegang kendali permainan. Sejak awal, tim besutan Darije Kalezic tersebut menekan lini pertahanan Persija tanpa henti. Bahkan, gol pertama yang dicetak Evans terjadi di menit-menit awal laga.
Sepanjang pertandingan, Persija tak mampu lepas dari tekanan yang diterapkan para pemain PSM ini. Mereka kelimpungan dalam mengalirkan bola, sehingga permainan mereka macet. Marko Simic, penyerang andalan mereka, juga jarang mendapatkan bola.
Namun, selain karena sulitnya Persija lepas dari tekanan PSM, ada beberapa hal lain yang pada akhirnya membuat Persija kalah dari PSM di Andi Mattalatta. Apa saja?
ADVERTISEMENT
Kehilangan Sandi Sute, Awal dari Kesalahan Taktikal Persija
Persija memang termakan tekanan PSM, terutama di awal-awal babak pertama. Namun, bukan berarti Persija tidak mengusahakan sesuatu untuk lepas dari tekanan itu. Salah satu upaya mereka adalah dengan menekan balik lini tengah PSM.
Lini tengah PSM yang diisi oleh Muhammad Arfan, Rizky Pellu, dan Wiljan Pluim. Ketiga pemain ini juga aktif menekan para pemain Persija sejak dari lini belakang. Arfan kerap menekan Tony Sucipto maupun Ryuji Utomo saat mereka memainkan bola di lini pertahanan Persija.
Tekanan agresif inilah yang membuat Persija sulit mengembangkan permainan di awal laga. Saat Persija tertekan, muncullah satu sosok breaker yang sempat membuat lini tengah PSM ketar-ketir. Ia adalah Sandi Sute.
ADVERTISEMENT
Sandi memang sudah menjadi sosok sentral di lini tengah Persija sejak musim 2017. Kemampuannya dalam membaca permainan lawan, disertai dengan tekel maupun intersepnya yang kadang sangat agresif, dapat mengacaukan skema serangan lawan. Hal itulah yang ia lakukan saat PSM berusaha menguasai lini tengah.
Tanpa lelah, Sandi mengitari lini tengah, mencegah pemain PSM mengalirkan bola. Bahkan, dalam beberapa momen, ia tak segan melakukan pelanggaran untuk membuat para pemain di lini serang PSM tidak nyaman dalam menguasai bola. Itu yang ia lakukan pada Muhammad Rahmat dan Pluim.
Konferensi pers jelang laga final Piala Indonesia leg II dihadiri oleh Sandi Sute, Julio Banuelos, Darije Kalezic, dan Willem Jan Pluim. Foto: ANTARA/Abriawan Abhe
Namun, di laga itu Sandi kelewat agresif. Alhasil, baru 32 menit laga berjalan, ia harus mendapat kartu merah, hasil dari dua kartu kuning yang ia dapat usai menjegal keras Rahmat dan Pluim. Hilangnya Sandi ini tidak hanya berdampak pada jumlah kekurangan pemain yang diderita Persija saja.
ADVERTISEMENT
Lebih jauh, secara taktikal, kehilangan Sandi ini jadi awal dari dampak buruk dari pergantian yang dilakukan Julio Banuelos, pelatih Persija. Untuk menjaga stabilitas pertahanan, Banuelos mengambil keputusan yang cukup unik: Menarik Bruno Matos dan memasukkan Maman Abdurrahman.
Keputusan yang diambil ini pun menghadirkan dampak negatif bagi Persija. Memang, pertahanan mereka akhirnya stabil, walau harus kebobolan satu gol tambahan lewat Zulham. Namun, keluarnya Matos membuat lini serang Persija mati kutu.
Keluarnya Matos membuat Persija kehilangan sosok distributor sekaligus pendobrak dari lini kedua. Hasilnya, selain terisolirnya Simic di lini depan, Persija jadi tidak memiliki opsi serangan lain selain bola mati dan bola panjang.
Hadirnya Bambang Pamungkas dan Ramdani Lestaluhu juga tidak membuat serangan Persija jadi tajam. Mereka seolah kebingungan, karena selepas Matos keluar, lini serang Persija kehilangan kreativitasnya.
ADVERTISEMENT
Lalu, apa sebab awal semua ini terjadi? Kartu merah Sandi Sute.
Hadirnya Wiljan Pluim di Lini Tengah PSM
Selain kehilangan Sandi Sute, Persija juga dibuat repot dengan kehadiran Wiljan Pluim di lini tengah PSM. Pemain asal Belanda ini memang sudah jadi tulang punggung di lini tengah PSM dalam tiga musim terakhir, setelah didatangkan pada 2016 silam oleh pelatih PSM kala itu, Robert Rene Alberts.
Pemain ini tidak main di leg pertama final Piala Indonesia karena masih menderita cedera. Begitu main di leg kedua, ia langsung menggila dan menguasai lini tengah. Sebenarnya, ia sempat kena terjangan Sandi juga di babak pertama, yang membuat agresivitasnya sedikit teredam.
Namun, jika menilik penampilannya secara keseluruhan, memang Pluim adalah aktor kunci di laga final leg kedua tadi. Daya jelajah tinggi, kemampuan dribel, terobosan, serta kemampuan umpannya yang apik, terlihat jelas.
ADVERTISEMENT
Dalam satu momen, Pluim bisa berada di area sepertiga akhir dan turut serta menerobos pertahanan lawan. Namun, di sisi lain, Pluim bisa saja turun jauh ke lini pertahanan sendiri, menjadi orang yang menerima sodoran bola dari bek, lalu meneruskannya ke depan.
Bisa dibilang, Pluim menjalani peran yang lazimnya diperankan oleh Makan Konate di Arema: Penjelajah. Di laga lawan Persija, ia menjelajahi setiap jengkal area lapangan tengah agar permainan PSM jadi hidup. Peran ini juga ia ambil karena Marc Anthony Klok, rekannya di tengah, tidak main di laga ini.
Namun, ada satu hal lain yang unik dari Pluim. Saat PSM mengendurkan tekanan di babak kedua, ia berganti peran menjadi deep-lying playmaker. Ia lebih memilih diam di tengah, lalu mengandalkan kemampuannya dalam melepas umpan jauh untuk merepotkan lawan.
ADVERTISEMENT
Hal ini cukup efektif dalam memberikan daya kejut bagi pertahanan Persija di babak kedua, yang mulai menerapkan garis pertahanan tinggi. Umpan panjang dari Pluim ini terhitung mampu memanjakan Rahmat dan Ferdinand, dua pemain PSM yang banyak mengacak lin pertahanan Persija di babak kedua dengan kecepatannya.
***
Kepanikan adalah hal yang lazim melanda tim sepak bola saat berlaga di sebuah laga besar. Maka, laga final, selain jadi ajang adu taktikal, juga kerap jadi ajang adu mental dan pengalaman. Siapa yang mental dan pengalamannya apik, biasanya ia akan keluar jadi juara.
Bisa dibilang, di pertandingan ini, ada sedikit kepanikan yang melanda Persija saat Sandi Sute ditarik keluar. Alih-alih mengatur siasat mumpuni, Persija malah mengambil keputusan yang penuh risiko dan bersifat perjudian, yakni dengan mengeluarkan Matos.
ADVERTISEMENT
Ya, di laga sekelas final, perjudian yang tidak berhasil bisa menjadi salah satu sebab kekalahan sebuah tim. Saat ada siasat yang tidak berjalan sesuai rencana, maka hal itu akan memberikan dampak yang besar bagi permainan tim secara keseluruhan.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan