kumparan
16 Juni 2018 11:16

Analisis: Portugal Tak Cuma Ronaldo dan Spanyol Terus Berevolusi

Cristiano Ronaldo
Selebrasi gol Cristiano Ronaldo ke gawang Spanyol. (Foto: Lucy Nicholson)
Pertandingan di Fisht Stadium, Sochi, Sabtu (16/6/2018) dini hari WIB, bukanlah Tim nasional (Timnas) Portugal vs Spanyol. Ada yang menganggapnya sebagai Cristiano Ronaldo vs Spanyol. Tepatkah anggapan tersebut? Mari menelaahnya.
ADVERTISEMENT
Dalam pertandingan matchday pertama Grup B Piala Dunia 2018 tersebut, target serangan Selecao das Aquinas menyoal Ronaldo seorang. Lihat saja bagaimana proses trigol yang diborong mereka yang menunjukkan peran dominan sang kapten.
Pertama, penalti yang dikonversi Ronaldo pada menit keempat. Ini berawal dari penetrasi sang bintang di dalam kotak penalti Spanyol yang memicu pelanggaran Nacho.
Begitu pula tendangan bebas Ronaldo pada menit ke-88. Yang dilanggar Gerard Pique di depan kotak bukan pemain Portugal lainnya, melainkan Ronaldo.
Hanya di gol kedua (44'), Ronaldo membutuhkan bantuan rekan setim. Bola sodoran Goncalo Guedes dilanjutkan dengan tendangan kaki kiri Ronaldo dari luar kotak penalti. Bola meluncur deras, saking derasnya sampai terlepas dari tangkapan David de Gea dan jatuh ke gawang Spanyol.
ADVERTISEMENT
cristiano ronaldo
Cristiano Ronaldo mencetak gol ke gawang Spanyol. (Foto: Hannah McKay/Reuters)
Apa yang ditunjukkan Ronaldo merupakan wujud dari efektivitas. Sepanjang pertandingan, dia hanya 4 kali melepaskan percobaan, 3 di antaranya dari luar kotak dan sisanya dari dalam saat sang bintang mengeksekusi penalti.
Berkat Ronaldo, Portugal mampu meraih satu poin, meski secara permainan mereka tergolong inferior. Portugal hanya menguasai 39% permainan dan melepaskan 3 upaya tepat sasaran. Bandingkan dengan 5 percobaan ke gawang milik Spanyol, belum termasuk tembakan Isco yang membentur mistar.
Ronaldo juga kerap menjadi motor serangan dalam situasi serangan balik. Dengan usia 33 tahun 130 hari, dia masih bisa berlari kencang mengeksploitasi ruang-ruang kosong di pertahanan Spanyol.
Koneksi
Apabila ditilik lebih detail, tidak cuma proses menjelang gol dan jumlah peluang, permainan Ronaldo bukan menyoal Ronaldo seorang. Coba lihat bagaimana upaya lini tengah membangun kombinasi operan hingga mendekati kotak penalti Spanyol. Di sini, peran William Carvalho begitu menonjol.
ADVERTISEMENT
Dalam formasi 4-4-2, Carvalho berduet dengan Joao Moutinho sebagai gelandang tengah. Mereka diapit oleh Bruno Fernandes dan Bernardo Silva yang beroperasi di sisi sayap.
Praktiknya, Carvalho beroperasi agak di depan Moutinho. Dia selalu mendekati pemain Portugal yang memegang bola di area Spanyol. Apabila bola berada di sayap, Carvalho mendatanginya. Sementara kalau melihat kotak penalti terlalu padat untuk ditembus, Ronaldo dan Goncalo Guedes sebagai duet penyerang kerap memberikan bola kepada Carvalho.
Berkat koneksi yang diciptakan Carvalho, Ronaldo dan Guedes bisa bergerak secara dinamis di depan. Ini penting mengingat dengan gaya permainan Portugal berdasarkan pada serangan balik dan sulit buat penyerang mereka menunggu di kotak.
Sementara itu, Moutinho beroperasi lebih banyak di daerah sendiri. Dia melakukan build-up serangan bermodalkan kombinasi operan dari full-back atau bek tengah.
ADVERTISEMENT
Tak heran apabila Carvalho dan Moutinho menjadi pemain yang paling banyak melakukan operan di kubu Portugal. Carvalho melepaskan 90 operan, sedangkan Moutinho 94 operan.
Evolusi ala Lopetegui
Umpan panjang, duel udara di kotak penalti, dan tembakan jarak jauh bukanlah perbuatan terlarang. Itulah yang coba ditanamkan Julen Lopetegui semasa membesut Spanyol.
Lopetegui memang tidak mengubah gaya yang diusung para pendahulu. Penguasaan bola dan operan dari kaki ke kaki tetap menjadi ciri utama. Namun, dia menuntut agar pemain La Furia Roja memiliki plan B apabila cara tersebut berujung kebuntuan.
Rencana cadangan itu mencakup keberanian mengirimkan bola udara ke kotak penalti, mengkreasikan serangan dari sayap, dan melepaskan tembakan jarak jauh. Sedikit pergesean tersebut, sempat dituturkan oleh Lopetegui, merupakan bentuk evolusi Spanyol, bukan revolusi.
ADVERTISEMENT
Timnas Spanyol
Para pemain Spanyol merayakan gol. (Foto: REUTERS/Murad Sezer)
Tongkat estafet kepelatihan yang pindah ke Fernando Hierro tidak mengubah pendekatan ala Lopetegui. Spanyol masih sama. Mereka bermain dengan operan dari kaki ke kaki dan sesekali mencoba plan B.
Dan, plan B ala Lopetegui-lah yang berperan penting dalam permainan Spanyol ketika melawan Portugal. Lihat saja proses gol-gol mereka, bukan membangun serangan dari kaki ke kaki.
Lesakan pertama diawali oleh umpan panjang Sergio Busquets kepada Diego Costa. Pemilik nama terakhir memenangi duel dengan Pepe, kemudian mencari ruang tembak di antara dua pemain Portugal yang coba mengadangnya.
Busquets kembali mengambil lakon dalam plan B Spanyol yang berujung gol kedua. Dia memantulkan bola udara dengan kepalanya untuk disontek oleh Costa.
ADVERTISEMENT
Sementara itu, gol ketiga juga jauh dari identitas Spanyol era Vicente del Bosque. Nacho melepaskan tembakan luar kotak alih-alih melakukan kombinasi operan demi kans yang lebih pasti. Spekulasi pun membuat jala gawang Portugal bergetar.
Menyoal evolusi Spanyol, kredit khusus pantas dialamatkan kepada Busquets dan Costa. Keduanya sungguh fleksibel. Mereka bisa menerapkan gaya lama, yakni kombinasi operan dari kaki ke kaki untuk mencapai kotak penalti, atau menjajal rencana cadangan dari udara. Postur tinggi Busquets dan tubuh kekar Costa dalam berduel memang menjadi faktor pendukung.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan