kumparan
25 Januari 2019 21:59

Determinasi dan Kemampuan Adaptasi, Alasan Tubize Rekrut Firza Andika

Proses perkenalan Firza Andika sebagai pemain Tubize di Equity Tower, SCBD, Jumat (25/1/2019). (Foto: Sandi Firdaus/kumparan)
Bagi klub seperti AFC Tubize yang berlaga di First Division B Liga Belgia, merekrut pemain, apalagi pemain muda, tentu tidak bisa dilakukan secara asal. Hal itu pula yang mereka terapkan pada Firza Andika.
ADVERTISEMENT
Firza resmi diperkenalkan sebagai pemain baru Tubize pada Jumat (25/1/2019). Bertempat di Equity Tower, Jakarta, Firza menandatangani kontrak selama dua tahun yang akan mengikatnya bersama Tubize sampai 2021. Setelah Egy Maulana Vikri, Firza menjadi pemain Indonesia selanjutnya yang mulai merintis karier di Eropa.
Namun, membela klub Eropa tentunya bukan hal yang mudah. Atmosfer sepak bola Eropa yang berbeda akan jadi tantangan tersendiri bagi Firza. Ia sadar akan hal tersebut dan mengaku sudah melakukan adaptasi sejak menjalani masa trial di klub yang didirikan sejak 1990 tersebut. Ia juga senang dengan lingkungan Tubize yang baik dan terbuka kepadanya.
"Kemarin waktu trial, alhamdulillah Firza tidak ada masalah untuk cuaca, dan soal makanan juga tidak ada masalah. Alhamdulillah. Firza juga kalau sarapan pagi tidak pakai nasi, pakai buah. Firza juga sudah belajar dari Egy, soal kehidupan di sana, jadi harus dipersiapkan juga," ungkap Firza.
ADVERTISEMENT
Selain tantangan bagi Firza, tantangan juga jadi milik Shim Chan-koo, CEO Tubize. Merekrut pemain muda asing tentu butuh pertimbangan khusus. Namun, Chan-koo mengaku bahwa ia memang sudah memperhatikan Firza sejak ia menjalani trial. Dari situ, ia sadar bahwa Firza memiliki potensi.
Pesepak bola Timnas Indonesia U19 Firza Andika melakukan selebrasi. (Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
"Jadi, saya melihat bahwa Firza ini berpotensi, dan potensi itu terlihat selama ia menjalani sesi trial di Tubize. Selama sesi latihan itu juga, ia melihat Firza punya mental yang kuat, inteligensi yang bagus, serta berpotensi untuk beradaptasi dengan sepak bola Eropa," ujar Chan-koo.
"Tidak mudah memang bagi orang Asia untuk beradaptasi di Eropa, dari segi kultur, dari segi fisik, dari cuaca dan sebagainya. Tapi, saya melihat ada motivasi dan determinasi dalam diri Firza dan secara teknik dia juga bagus," lanjutnya.
ADVERTISEMENT
Selain soal perbedaan kultur, masalah tinggi badan juga jadi hal yang mengundang pertanyaan. Dengan tinggi badan yang tidak setinggi pemain Eropa, mampukah Firza beradaptasi? Akankah ia kalah secara tinggi badan dari para pemain Eropa? Chan-koo memberikan pandangannya soal ini.
"Kalau posisi Firza adalah penyerang, mungkin itu akan jadi masalah. Namun karena posisi Firza yang sekarang (bek sayap kiri), tinggi badan tidak jadi masalah karena banyak cara yang bisa ia gunakan selain mengandalkan tinggi badan. Mulai dari kemampuan positioning, kecerdikan--dan itu bisa jadi nilai lebih Firza," ungkapnya.
Selain di Tubize, Firza juga pernah menjalani trial di Spanyol, yaitu bersama UD Alzira. Namun, Firza akhirnya lebih memilih AFC Tubize dan sekarang ia siap menjalani petualangan barunya di Eropa.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan