kumparan
11 Juli 2018 19:27

Di Kroasia, Luka Modric adalah Panutan

Davor Suker
Davor Suker memotret aksi Kroasia. (Foto: REUTERS/Damir Sagolj)
Di skuat Tim Nasional (Timnas) Kroasia, Luka Modric adalah idola. Dan inilah sebabnya Presiden Asosiasi Sepak bola Kroasia (HNS), Davor Suker, melontarkan pujian setinggi langit untuk gelandang Real Madrid itu. Suker mengatakan bahwa Modric harusnya bisa menangi Ballon d'Or edisi tahun depan.
ADVERTISEMENT
Memang terdengar agak berlebihan, tapi Suker punya dasar atas argumentasinya itu. Dia sadar bahwa Modric sangat aktif dalam urusan membangun serangan tim. Visi brilian dan kemampuan teknis yang mumpuni membuat gelandang berusia 32 tahun itu sanggup melakukan 2,8 umpan kunci (umpan yang menjadi kans), 2 tembakan, dan 2 aksi dribel per laga, sebagaimana WhoScored mencatat.
Dari situlah dia bisa menciptakan dua gol dan satu assist dalam total lima laga. Ngomong-ngomong, satu assist Modric itu hadir di masa perpanjangan waktu laga lawan Rusia dalam babak perempat final. Andai bek Kroasia tak bikin kesalahan yang berujung gol Mario Fernandes, tentulah assist-nya itu berujung kemenangan 2-1 atas Rusia. Berita baiknya, Kroasia bisa menang di babak adu penalti.
ADVERTISEMENT
Selain itu, sebagai seorang kapten dan pemimpin, pemain yang sempat merumput di Tottenham Hotspur ini selalu menjadi yang terdepan meredam emosi pemain-pemain yang gampang tersulut emosinya seperti Ivan Perisic, Sime Vrsaljko, dan Mario Mandzukic. Dua kualitas inilah yang menjadi dasar opini Suker tadi.
"Kapten saya (Modric) melakukan tugas yang luar biasa. Di ruang ganti dia menjadi panutan, di lapangan juga jadi idola bagi anak-anak tak hanya dari Kroasia. Jika saya bisa memilih, saya akan memilih Luka untuk menangi Ballon d'Or," ujar Suker, sebagaimana dilansir ESPN.
Luka Modric
Modric didakwa bersalah oleh Kejaksaan Kroasia. (Foto: STRINGER / AFP)
Sebagai sosok yang turut ambil bagian di skuat Vatreni yang tampil di semi final Piala Dunia 1998, Suker juga menyinggung kemiripan Modric dan rekan-rekannya di Kroasia edisi Piala Dunia 2018. Dia mengatakan bahwa kualitas pemain adalah hal yang terutama membuat orang-orang Kroasia kini bisa bersuka cita di jalan-jalan.
ADVERTISEMENT
Di tulisan sebelumnya, kami juga sempat menyinggung kualitas rekan-rekan Modric. Mulai dari hadirnya Ivan Rakitic sebagai tandem menyerang di lini tengah yang sepadan, hadirnya Marcelo Brozovic yang membuat transisi ke bertahan aman, hadirnya Mario Mandzukic yang terbiasa bermain melebar, hingga kecepatan sayap, terutama Ivan Perisic. Inilah yang membuat Modric pada akhirnya begitu moncer di Kroasia.
"Kualitas, pertama dan terutama, adalah hal yang membuat Kroasia yang sekarang mirip dengan Kroasia kami dulu. Kedua, ketangguhan fisik. Jika fisik mereka tak kuat, tentulah mereka takkan bermain bagus di Piala Dunia," tambah Suker.
"Saya merasa atmosfer yang menyenangkan ketika menyaksikan Kroasia di bangku penonton karena ada batas tipis antara menang dan kalah. Kami bisa saja kalah dari Denmark, dan untungnya, kami menang di babak adu penalti. Hanya sepak bola yang membuat seluruh orang Kroasia berhamburan ke jalan. Sepak bola itu sakral. Kami membangun fondasinya di 1998, sekarang mereka membangun lantai keduanya," pungkasnya.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan