Bola & Sports22 Oktober 2019 17:57

Dua Jurnalis Diintimidasi pada Kericuhan Laga PSIM vs Persis

Konten Redaksi kumparan
Dua Jurnalis Diintimidasi pada Kericuhan Laga PSIM vs Persis (85642)
Dua orang fotografer menjadi korban kekerasan pada kericuhan pada laga PSIM vs Persis Solo. (Ilustrasi) Foto: Luis Quintero/Unsplash
Kericuhan pada laga PSIM Yogyakarta dan Persis Solo di Stadion Mandala Krida, Yogyakarta, Senin (21/10/2019), berbuntut panjang. Suporter tuan rumah dan pemain PSIM, Achmad Hisyam Tolle, ternyata juga melakukan intimidasi kepada jurnalis.
ADVERTISEMENT
Guntur Aga Putra, pewarta foto Harian Radar Jogja, mengalami kekerasan oleh suporter saat meliput laga tersebut. Ia awalnya memotret dari sisi utara stadion, lalu Guntur beralih ke sisi barat setelah melihat penonton turun dari tribune.
Saat keadaan mulai tak terkendali, dan gas air mata mulai ditembakkan, Guntur pindah ke belakang barisan polisi lalu bergerak mendekat ke mobil pemadam. Ketika mencari tempat berlindung, ia malah terkena serangan.
“Ada yang mencekik dari belakang dan saya dipukuli. Ada yang meminta menghapus foto, tetapi tidak saya hapus,” katanya dalam rilis Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta bernomor 02/AJIYo/Rilis/X/2019, Selasa (22/10/2019).
Intimidasi juga menimpa jurnalis foto dari Goal Indonesia bernama Budi Cahyono. Namun, kali ini pelaku intimidasi bukan suporter, melainkan salah satu pemain PSIM, yaitu Hisyam Tolle. Pemain 25 tahun itu menghampiri Budi dan meminta foto-foto dirinya segera dihapus.
ADVERTISEMENT
"Kamera memang sempat diambil Tolle. Namun, saya bilang ke dia, jangan di sini (pinggir lapangan) hapus fotonya karena biar lebih aman. Kondisi sudah rusuh di dalam lapangan. Lalu, saya diajak untuk ke ruang ganti," ujar Budi.
Sesampainya di ruang ganti, intimidasi masih berlanjut. Hisyam Tolle lagi-lagi meminta semua foto yang ada dihapus.
Seperti diketahui, Hisyam Tolle juga mendapat kartu merah dari wasit lalu melakukan serangan kepada pemain Persis.
Menilik insiden itu, Tommy Apriando (Ketua AJI Yogyakarta) mengatakan bahwa tindakan kekerasan terhadap jurnalis telah menghalangi hak publik untuk memperoleh berita akurat dan benar karena jurnalis tidak bisa bekerja dengan leluasa di lapangan.
“Jurnalis itu bekerja untuk kepentingan publik. Tindakan para suporter dan pemain menunjukkan betapa tidak pahamnya mereka terhadap aturan hukum,” tutur Tommy.
ADVERTISEMENT
Lebih lanjut, Tommy membeberkan bahwa kekerasan terhadap jurnalis jelas melanggar Undang-Undang Pers Nomor 40 tahun 1999. Dalam undang-undang tersebut dijelaskan kekerasan terhadap jurnalis adalah perbuatan melawan hukum dan mengancam kebebasan pers.
Selain itu, kegiatan jurnalistik meliputi mencari bahan berita, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah hingga menyampaikan informasi yang didapat kepada publik yang diatur di Pasal 8 UU Pers juga jelas dilindungi hukum.
Ancaman bagi pelanggarnya pun tak main-main. Hukuman dua tahun penjara atau denda Rp500 juta menanti.
AJI Yogyakarta menegaskan, para pelaku kekerasan mestinya tak main hakim sendiri dan belajar soal hukum yang melindungi kerja jurnalis. Semestinya tidak boleh ada upaya menghalangi kerja jurnalis.
Apabila terjadi kesalahan pemberitaan pun, ada mekanisme pengaduan jurnalis ke media tempatnya bernaung atau melaporkan ke Dewan Pers. Tak ayal, AJI Yogyakarta mendesak polisi agar mengusut tuntas pelaku kekerasan.
ADVERTISEMENT
Menurut AJI Yogyakarta, tren kekerasan terhadap jurnalis terus meningkat, tapi sedikit yang diselesaikan secara hukum. Kekerasan terhadap jurnalis oleh suporter sepak bola di Yogyakarta sebelumnya pernah terjadi dan tidak tuntas ditangani melalui proses hukum. Buruknya penanganan kasus kekerasan terhadap jurnalis menjadi preseden buruk.
Tak cuma AJI Yogyakarta yang bersuara soal kekerasan terhadap jurnalis. Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) turut mengecam intimidasi kepada wartawan.
Mohamad Kusnaeni, Ketua I Bidang Organisasi & Pembinaan BOPI, menyebut bahwa penyerangan kepada jurnalis bisa mengganggu industri sepak bola. Ia juga menyarankan perusahaan media membuat pernyataan keras kepada operator kompetisi dan PSSI.
“Ini sampai tingkat membahayakan nyawa atau mengancam keselamatan. Rugi sekali jika sampai media tidak lagi meliput sepak bola. Tentu tidak akan membangun industri sepak bola. Dalam industri sepak bola ‘kan media memegang peranan penting. Saran saya, media harus membuat pernyataan keras kepada operator dan PSSI untuk tidak meliput sepak bola. Biar mereka membenahi dulu karena yang saya lihat tidak ada antisipasi buat pengamanan jurnalis,” ujar Kusnaeni kepada kumparanBOLA.
ADVERTISEMENT
Terlepas dari itu, Kusnaeni juga menyoroti perilaku buruk suporter dan pemain yang melakukan intimidasi kepada jurnalis. Menurut hematnya, hukuman keras harus dijalankan karena selama ini tidak ada yang bisa menimbulkan efek jera.
“Pemain bersangkutan harus menerima hukuman sepadan. Saya datang ke Yogyakarta melihat laga itu dan saya lihat intimidasi kepada jurnalis. Tingkah laku si pemain di lapangan pun menjadi salah satu pemicu rusuh penonton. Dia cukup brutal. Tidak memakai baju, tiba-tiba masuk lapangan dan menyerang sana-sini.”
“Kenapa dia melakukan itu? Karena tidak kesadaran bila itu sesuatu yang salah. Banyak faktor tidak merasa bersalah. Salah satunya dia yakin tidak mendapat hukuman berat. Kalau yakin dihukum berat pasti tidak berani. Coba dia dihukum keras pasti bakal berdampak ke penghasilannya. Selama ini memang tidak ada road map jelas soal keamanan stadion yang mengikat semua elemen baik itu pemain, wasit, penonton, bahkan jurnalis,” kata Kusnaeni.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white