kumparan
22 Oktober 2019 14:27

Enam Sikap BOPI Terkait Kerusuhan pada Laga PSIM vs Persis

PSIM vs Timnas U-23
Para pemain PSIM (ilustrasi). Foto: Dok. Media PSIM
Kerusuhan pecah pada laga PSIM Yogyakarta vs Persis Solo di Stadion Mandala Krida, Yogyakarta, Senin (21/10/2019). Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI), yang mengirimkan delegasi ke laga 'Laskar Mataram' vs 'Laskar Samber Nyawa' mengambil sikap terkait insiden itu.
ADVERTISEMENT
Ketua BOPI, Richard Sam Bera, mengeluarkan enam pernyataan soal kericuhan di partai yang sarat rivalitas panjang itu. Pertama, badan bentukan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) tersebut masih menyayangkan masih munculnya nyanyian atau yel-yel berbau rasial sepanjang laga.
Selanjutnya, BOPI menyoroti pihak PSIM, khususnya suporter dan panitia pelaksana (panpel), sebagai faktor penting penyebab kerusuhan.
“BOPI mengutuk keras kerusuhan di dalam dan luar stadion oleh segelintir pendukung PSIM. Akibatnya, kendaraan operasional kepolisian DIY rusak, begitu juga fasilitas publik lain. Ketiga, BOPI melihat operator dan panpel kurang sigap mengantisipasi. Pasalnya, potensi kerusuhan pasti ada dan ramai diperbincangkan,” kata Richard kepada kumparanBOLA, Selasa (22/10/2019).
Tak heran BOPI langsung melayangkan perintah agar PT Liga Indonesia Baru (LIB) dan PSSI tegas menjatuhkan sanksi untuk pihak yang bertanggung jawab.
ADVERTISEMENT
“Poin keempat kami meminta federasi dan operator untuk menjatuhkan sanksi tegas. Ini sudah melanggar peraturan dan hukum sepak bola profesional,” ujar Richard.
BOPI tampaknya sudah gerah. Berulang kali, mereka meminta jaminan kepada operator agar kerusuhan tak terjadi lagi. Namun, faktanya kericuhan suporter masih terjadi lagi.
Sanksi pun rasanya belum menimbulkan efek jera. Sepertinya, BOPI harus merealisasikan ultimatumnya untuk menyetop kompetisi biar semua berbenah dan kerusuhan tidak terulang.
“BOPI menuntut jaminan dari operator agar insiden serupa tak terulang. Menjelang akhir kompetisi, baik Liga 1 dan Liga 2, tensi semakin tinggi. BOPI memperingatkan semua yang terlibat di sepak bola profesional untuk menjaga suasana aman, nyaman, menghibur, dan profesional. Sepak bola harus menjadi alat pemersatu bangsa, bukan ajang bertindak anarkis dan beradu fisik,” tutur Richard.
ADVERTISEMENT
Sebagai informasi, laga PSIM versus Persis merupakan pertandingan yang menentukan kelolosan ke delapan besar. Keduanya mengincar poin sempurna agar masuk empat besar dan melaju ke babak berikut.
Jika salah satu di antara kedua tim itu meraih tiga poin, kelolosan terjadi dengan catatan Martapura FC tak bisa menang melawan PSBS Biak. Persis akhirnya menang 3-2 kontra PSIM. Namun, tiga poin itu tampak sia-sia karena Martapura FC menang tipis 1-0 melawan PSBS Biak.
Alhasil, Persis dan PSIM tak lolos ke delapan besar. Martapura merangsek ke posisi ketiga (31 poin) dan lolos ke delapan besar bersama Persik Kediri (33), Persewar Waropen (31), dan Mitra Kukar (30). Sementara Laskar Mataram mengakhiri kompetisi di peringkat ketujuh (27). Lalu, Persis (30) di pos kelima Wilayah Timur.
ADVERTISEMENT
Kronologi kerusuhan sendiri berawal saat Persis sudah unggul 3-2. Ahmad Hisyam Tolle melayangkan tendangan ke pemain Persis, Dedy Cahyadi, karena dianggap mengulur waktu. Wasit pun mengganjar kartu merah untuk Tolle.
Suporter PSIM tersulut dan mulai memasuki lapangan untuk mengejar pemain Persis. Keadaan tak terkendali dan pemain digiring masuk ke ruang ganti.
Polisi lantas melepas gas air mata. Di luar stadion ternyata kerusuhan masih berlanjut.
Saat polisi ingin mengevakuasi pemain Persis, suporter PSIM mengadang. Penyerangan pun dilakukan terhadap kendaraan evakuasi tersebut.
Meski sempat diserang, evakuasi pemain Persis berhasil dilakukan. Namun, suporter PSIM masih tak terima.
Mereka kembali merusak kendaraan polisi. Menurut data terakhir, dua mobil dinas polisi dibakar.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan