kumparan
14 Mei 2019 16:56

Exco PSSI: KPSN Mau Gelar KLB 10 Kali Sehari Juga Tak Masalah

Persiapan Kongres PSSI 2019. Foto: ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana/foc.
Sepak bola Indonesia kembali diterpa masalah. Praktik kotor berupa pengaturan pertandingan kembali menjadi isu hangat di tengah berbagai level kompetisi sepak bola Tanah Air.
ADVERTISEMENT
Semua bermula dari pengakuan Manajer Madura FC, Januar Herwanto, bahwa tim yang dipimpinnya diminta untuk mengalah oleh PSS Sleman di babak delapan besar Liga 2. Ada mahar berupa uang dalam jumlah yang cukup besar jika Madura FC mengalah.
Sementara, pengakuan lain datang dari mantan manajer klub Liga 3 Persibara Banjarnegara, Lasmi Indaryani, yang mengaku telah ditipu oleh sejumlah pihak guna menaikkan klubnya ke Liga 2.
Pengakuan-pengakuan tersebut mendapat respon yang cepat. Salah satu kerja nyata dari laporan-laporan itu adalah terbentuknya Satuan Tugas (Satgas) Anti Mafia Bola. Hingga akhirnya ditetapkanlah enam tersangka atas kasus Persibara yang kini telah menjalani sidang kedua.
Meski demikian, polemik nyatanya tak hanya menyangkut ranah sepak bolanya, melainkan juga menyentuh tataran orgnisasi. Ya, PSSI kini tengah dirongrong terkait pelaksanaan Kongres Luar Biasa (KLB). Pergantian pengurus yang diharapkan sejumlah pemilik suara (voters) tak terwujud sehingga voters memilih menggelar KLB melalui badan bernama Komite Perubahan Sepak Bola Nasional (KPSN).
ADVERTISEMENT
PSSI rajin menggelar KLB sejak 2011. Foto: Putri Sarah Arifira/kumparan
Namun, suara sumbang datang kepada kelompok yang diketuai oleh Suhendra Hadikunonto. KPSN dinilai akan menjatuhkan kepengurusan PSSI dan ujung-ujungnya dualisme seperti yang pernah terjadi di sepak bola Indonesia pada 2012 lalu.
Hadirnya KPSN hanya dianggapi santai oleh Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Refrizal. Baginya, tak ada yang perlu dikhawatiri dengan berdirinya KPSN.
"KPSN bukan anggota PSSI. Biarin aja enggak apa-apa (untuk gelar KLB). Tidak ada urusan, dia bukan anggota PSSI, kami tidak berhak melarang. Mau setiap hari KLB enggak apa-apa, 'kan bukan anggota kami," ucap Refrizal kepada kumparanBOLA.
"Kalau PSSI 'kan jelas dari FIFA, surat KLB-nya dari FIFA. Kalau kami melarang KPSN apa haknya kami? 'Kan bukan anggota kami. Mereka mau buat KLB 10 kali sehari juga tidak masalah, tidak ada hak kami melarang dia," tutur Refrizal.
ADVERTISEMENT
Perihal de javu seperti 2012 lalu, Refrizal mengaku pihaknya tak gentar. Pasalnya, saat ini FIFA hanya mengakui PSSI sebagai induk organisasi sepak bola Indonesia yang sah.
Refrizal, Exco PSSI. Foto: Sandy Firdaus/kumparan
"Mana bisa (buat dualisme Liga)? Kami 'kan ke FIFA. Sedangkan, mereka induknya 'kan ngawang-ngawang. Orang bisa saja bikin persatuan sepak bola, tapi kan tidak berinduk ke FIFA, yang berinduk ke FIFA itu PSSI," ujar Refrizal.
"Liganya nanti nyambung ke mana? 'Kan menggantung kayak layangan putus. Kami 'kan nyambung ke AFC dan FIFA. Rugi nanti kalau ada anggota PSSI yang ikut (KPSN), berarti harus keluar dari anggota PSSI. Rugi yang main di sana, tidak bisa main di international," tutup Refrizal.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan