Kumparan Logo

Final Piala Dunia 2014: Di Maracana, Jerman Meraja dan Messi Merana

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Jerman juara Piala Dunia 2014. (Foto: FIFA)
zoom-in-whitePerbesar
Jerman juara Piala Dunia 2014. (Foto: FIFA)

Piala Dunia 2014 jadi momentum terbesar Lionel Messi untuk berjaya bersama Argentina. La Pulga berhasil melaju ke partai puncak --untuk pertama kalinya bagi Argentina sejak 1990 silam. Lain dengan Jerman. Sebagai tim spesialis turnamen, babak pamungkas bukanlah momen yang asing. Itu adalah final kedelapan mereka, meski sebelumnya cuma tiga di antaranya yang berhasil mereka akhiri dengan bahagia.

Langkah anak asuh Joachim Loew amat meyakinkan sejak fase grup dengan catatan 100%. Aljazair dan Prancis yang jadi lawan mereka selanjutnya juga sukses dikandaskan. Dan yang paling superior adalah saat menghempaskan tuan rumah Brasil 7-1 di babak semifinal. Kekalahan memalukan yang kemudian dikenang dengan Mineirazo.

Lha, Argentina? Hanya sekali mereka berhasil mengalahkan lawan di waktu normal --dalam fase gugur-- kala unggul tipis atas Belgia 1-0. Sedangkan sisanya, 'Tim Tango' kudu melewati babak tambahan saat menyingkirkan Swiss dan melakoni drama adu penalti saat menyudahi perlawanan Belanda.

Kendati demikian, Dewi Fortuna nampaknya berhembus kepada Argentina di Maracana kala itu. Sami Khedira yang mengalami cedera betis saat melakoni pemanasan jelang pertandingan. Loew kemudian menunjuk Christoph Kramer untuk menggantinkan posisinya. Apesnya lagi, pemain Borussia Muenchengladbach itu juga terpaksa ditarik keluar lantaran berbenturan dengan Ezequiel Garay.

Loew lantas memasukkan Andre Schuerrle sebagai penggantinya. Sebuah perjudian sebenarnya, mengingat Schuerrle bukanlah gelandang yang piawai dalam aksi bertahan. Namun, tak akan ada yang disesalkan nantinya. Sebab, dari kontribusi Schuerrle gol Jerman nantinya tercipta.

Minusnya gelandang tengah jadi celah bagi Jerman. Apalagi Bastian Schweinsteiger sudah mengantongi kartu kuning saat laga belum genap berjalan setengah jam. Mau tak mau, Miroslav Klose dan Thomas Mueller yang bertandem di garda terdepan juga turut membantu dengan aktif bergerak lebih dalam.

Kelemahan Jerman berangsur mampu digali Argentina. Berulang kali Messi dan Higuain berhasil lolos dari kawalan Jerome Boateng dan Mats Hummels, tetapi hasilnya alpa. Dari empat peluang yang didulang Messi, tak ada satu pun yang berbuah gol. Pun demikian dengan Higuain yang membuat sepasang peluang emas menjadi mubazir. Giliran berhasil menceploskan bola ke gawang Manuel Neuer, ia lebih dulu terjebak dalam posisi offside.

Masuknya Sergio Aguero dan Rodrigo Palacio juga tak mengubah apa pun. Keduanya tak mampu melepaskan tembakan ke arah gawang. Dari total 10 tembakan yang dilepaskan Argentina, tak ada satu pun yang mengenai sasaran!

Situasi yang berbeda dengan Jerman. Meski tak ada peluang yang benar-benar berbahaya, Klose, Kroos, dan Schuerrle masih menunjukkan itikad untuk mencetak gol dengan mengukir shot on target.

Satu-satunya peluang emas Jerman di waktu normal datang dari sundulan kepala Benedikt Howedes. Beruntung untuk Sergio Romero, bola yang di luar jangkauannya masih diselamatkan tiang gawang.

Demi lini depan yang lebih cair, Loew kemudian menukar Klose dengan Mario Goetze. Keputusan yang jadi penentu hasil akhir pertandingan. Ya, Goetze adalah satu-satunya pemain yang mampu mencetak gol di laga yang kudu dilanjutkan dengan babak tambahan itu. Di menit ke-112, dia menyambut umpan lambung Schuerrle dari sisi kiri. Mengontrol bola dengan dadanya, lalu melepaskan tendangan voli kaki kiri. Bola meluncur deras melewati Romero yang mengira bola akan dilepaskan ke tiang dekat.

X post embed

Sedangkan Argentina masih sama, tak mampu meneror gawang Neuer. Sundulan kepala dan tendangan bebas Messi sama sekali tak jadi ancaman. Tak ada gol tambahan hingga Nicola Rizzoli meniup peluit panjang. Jerman menang 1-0, mengantar mereka meraih trofi keempat mereka. Sedangkan Argentina terpaksa mengulangi kegagalan saat menjadi runner-up 24 tahun silam.

Messi yang gigit jari diberikan penghargaan Golden Ball, pemain terbaik sepanjang gelaran turnamen. Namun, tentu saja bukan itu yang dia butuhkan. Messi sudah kenyang dengan gelar individu, termasuk empat biji Ballon d'Or yang direngkuhnya saat itu. Trofi Piala Dunia yang diinginkannya, satu-satunya trofi yang belum ia dapatkan, bahkan hingga saat ini.

video youtube embed