kumparan
17 Mei 2019 13:35

Final Piala FA: City Unggul Materi, Watford Berbekal Motivasi

Manchester City
Manchester City di pertandingan melawan Watford. Foto: Reuters/David Klein
Dalam sejarah, belum pernah ada tim Inggris yang mampu meraih tiga gelar domestik sekaligus —alias treble— dalam semusim. Pada akhir pekan ini, Manchester City berpeluang jadi yang pertama. Jika sukses menundukkan Watford dalam pertandingan final Piala FA, Manchester City akan mencatatkan sejarah penting.
ADVERTISEMENT
Pelatih City, Pep Guardiola, sudah menegaskan keinginannya untuk meraih hal tersebut. "Belum pernah ada tim Inggris yang melakukannya sehingga kami harus mencoba dan menjaga fokus kami pada pertandingan ini," katanya seperti dikutip dari Reuters.
Bicara soal peluang, City jelas punya. Mereka adalah tim terbaik di Inggris saat ini, terbukti dengan dua trofi yang sebelumnya sudah mereka rengkuh.
Di ajang Piala Liga, City angkat piala usai menundukkan Chelsea. Lalu, di kancah Premier League, The Citizens keluar sebagai jawara setelah mengakhiri perlawanan Liverpool yang bertahan sampai pekan terakhir. Jika Chelsea dan Liverpool saja bisa dikangkangi, tentunya City punya kans yang lebih besar dalam menjuarai Piala FA karena lawan mereka kali ini cuma Watford.
ADVERTISEMENT
Pep Guardiola
Pelatih Manchester City, Pep Guardiola, menjadi Pelatih Terbaik Premier League 2018/2019. Foto: Reuters/Carl Recine
Di awal musim 2018/19, jurnalis dan kolumnis The Guardian sepakat bahwa Watford adalah satu dari tiga kandidat kuat degradasi. Tak cuma mereka, para bandar taruhan pun berpendapat demikian. Alasannya, Watford adalah tim yang tak punya stabilitas, terutama karena mereka doyan bergonta-ganti pelatih.
Well, prediksi tersebut pada akhirnya tidak terbukti. Watford tak cuma lolos dari degradasi, tetapi juga sempat bertengger di sepuluh besar. Dengan catatan, mereka memang hanya finis di urutan ke-11 klasemen Premier League. Namun, bagi tim yang dijagokan untuk turun kelas, raihan tersebut sama sekali tidak buruk. Apalagi jika dipadukan dengan fakta bahwa mereka kini ada di final Piala FA.
Atas keberhasilan ini, Watford kudu banyak-banyak berterima kasih kepada sang pelatih, Javi Gracia. Sempat dianugerahi penghargaan Pelatih Terbaik Premier League edisi Agustus 2018, Gracia adalah sosok yang mampu menyusun skuat Watford menjadi tim tangguh. Dengan pakem dasar 4-2-2-2, Watford memainkan sepak bola berbasis kolektivitas yang dipadukan dengan kemampuan memanfaatkan teknik individual sejumlah pemainnya dengan baik.
ADVERTISEMENT
Pada dua pertandingan Premier League musim ini, Watford sebenarnya selalu menelan kekalahan dari City. Di laga pertama mereka kalah 1-2, pada pertemuan kedua mereka takluk 1-3. Akan tetapi, seperti yang diutarakan Gracia, dalam dua laga tersebut Watford menunjukkan permainan apik yang membuat City kerepotan.
"Kami kalah di dua laga itu tetapi dari sana bisa terlihat bahwa kami bisa mengalahkan mereka. Kami mampu mengimbangi mereka di dua pertandingan itu dalam berbagai situasi," kata Gracia.
"Di pertandingan pertama kami kalah 1-2 tetapi kami mampu mengimbangi mereka sampai akhir pertandingan dan sempat menebar ancaman di menit-menit akhir. Di laga kedua kami bertahan sampai babak kedua dan mereka kemudian mencetak gol dari posisi offside. Setelah itu jalannya pertandingan berubah. Itulah mengapa aku bilang kami punya kesempatan," tambahnya.
ADVERTISEMENT
Dalam pertandingan final nanti Watford kemungkinan besar tidak akan mengubah formasi maupun cara bermainnya. Pemain-pemain terbaik mereka, mulai dari Christian Kabasele, Abdoulaye Doucoure, Roberto Pereyra, Will Hughes, sampai Gerard Deulofeu dan Troy Deeney dipastikan bisa turun. Plus, bek kiri Jose Cholevas sudah bisa dimainkan karena hukumannya dicabut oleh FA.
Dengan komposisi tersebut, Watford akan tetap memainkan sepak bola agresif yang berpedoman pada shape retention. Sepanjang musim ini, rata-rata penguasaan bola mereka cuma menyentuh angka 47,4%. Tetapi, itu memang merupakan bagian dari rencana mereka.
Watford tidak perlu lama-lama menguasai bola untuk membuat lawan kerepotan. Menghadapi City yang diperkuat nama-nama kelas dunia, cara bermain demikianlah yang paling realistis untuk dieksekusi oleh The Hornets. Mereka bakal bertahan dengan rapat dan mencuri serangan lewat kecepatan Deulofeu, Hughes, Pereyra, Kiko Femenia, dan Cholevas, kekuatan Deeney, serta daya jelajah Doucoure.
ADVERTISEMENT
Bagi Watford sendiri, motivasi untuk memenangi Piala FA ini sangatlah tinggi. Pertama, karena mereka sendiri belum pernah menjadi juara di ajang ini. Pada 1984 untuk pertama kalinya mereka lolos ke final, tetapi akhirnya kalah dari Everton. Ini merupakan final perdana mereka setelah 35 tahun dan kesempatan ini tak bakal disia-siakan oleh Watford.
Video
Motivasi kedua datang dari sosok Heurelho Gomes. Kiper veteran ini bakal memainkan laga terakhirnya bersama Watford di final Piala FA. Datang ke Vicarage Road pada 2014, Gomes sudah masuk jajaran legenda klub. Setelah ini, dia akan gantung sarung tangan. Melepas Gomes dengan satu gelar Piala FA tentu saja akan jadi satu prioritas bagi para pemain Watford.
ADVERTISEMENT
Dengan modal-modal inilah Watford akan berusaha menantang City. Mereka tidak punya pemain bintang, tetapi punya pelatih cerdas dan motivasi berlipat ganda. City pun dipastikan bakal mendapat perlawanan sengit dari tim berkostum kuning-hitam ini.
Meski begitu, sekali lagi, City adalah tim terbaik di Inggris. Jika Chelsea dan Liverpool saja bisa ditaklukkan, apalagi cuma Watford? Terlebih, City nanti bakal bisa turun dengan kekuatan penuh. Kevin de Bruyne sudah pulih sepenuhnya dan bisa dimainkan sejak awal pertandingan.
Dengan pulihnya De Bruyne, Guardiola bisa mengembalikan Bernardo Silva ke habitat aslinya, sayap kanan. Bernardo akan menjadi bagian dari tridente yang juga dihuni oleh Raheem Sterling dan Sergio Aguero. Di lini tengah, De Bruyne akan didampingi David Silva dan Ilkay Guendogan.
ADVERTISEMENT
Guendogan sendiri sebenarnya bukan pemain terbaik City di posisi jangkar. Namun, karena kondisi Fernandinho belum seratus persen, pemain asal Jerman itulah yang kemungkinan akan diturunkan sebagai starter oleh Guardiola. Guendogan akan bermain di depan back-four yang beranggotakan Kyle Walker, Vincent Kompany, Aymeric Laporte, dan Oleksandr Zinchenko.
City vs Bournemouth
Ketika Kevin de Bruyne mencoba melewati Nathan Ake. Foto: REUTERS/Dylan Martinez
Dengan komposisi pemain seperti itu, City tentunya pantas diunggulkan. Keberadaan De Bruyne membuat daya kreasi mereka dari lini tengah bertambah. Bermainnya Bernardo di sayap akan membuat daya gedor lini depan mereka semakin kuat. Jika para starter itu menemui jalan buntu pun, City masih punya senjata di bangku cadangan dalam diri Riyad Mahrez, Leroy Sane, serta Gabriel Jesus.
Sudah unggul dari segi materi pemain, City sendiri punya motivasi tak kalah besar ketimbang Watford. Prospek menjadi tim Inggris pertama yang meraih trigelar domestik itu pasti akan terus diburu oleh City, terutama setelah mereka kembali gagal di kompetisi Eropa. Selain itu, City berpeluang mengawinkan gelar juara Piala FA putra dan putri karena sebelumnya tim putri mereka sudah sukses mengangkat trofi usai mengalahkan West Ham United.
ADVERTISEMENT
***
Manchester City dan Watford. Goliath dan David. Ini sebenarnya bukan pertandingan yang seimbang. Akan tetapi, sehebat-hebatnya Manchester City, mereka tetap bisa dikalahkan. Pada 2013 lalu, misalnya, City harus menelan kekalahan 0-1 dari Wigan Athletic dalam partai puncak Piala FA. Saat itu, Wigan padahal sudah dipastikan terdegradasi dari Premier League dan City merupakan juara bertahan Piala FA.
Artinya, di laga final, pada dasarnya Watford dan City punya peluang yang sama. Siapa yang akan menjadi juara adalah mereka yang mampu memanfaatkan peluang sekecil apa pun pada pertandingan final nanti.
=====
*) Manchester City dan Watford akan berhadapan dalam laga final Piala FA 2018/19 di Wembley Stadium, Sabtu (18/5/2019), pukul 23:00 WIB.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan