kumparan
21 Feb 2019 17:36 WIB

Gara-gara Hindari Praktik Sogok, PSM Sering Ribut dengan Wasit

Pemain PSM Makasar, M Rahmat. Foto: Instagram/@m_rahmat.11
Klub-klub Liga 1 mulai terseret dalam dugaan pengaturan skor. Di antaranya Bali United dan Borneo FC seperti diungkap oleh seorang whistle blower dalam program Mata Najwa, Rabu (20/2/2019) malam WIB.
ADVERTISEMENT
Namun, tidak demikian dengan PSM Makassar. Klub beralias 'Juku Eja' ini justru menerima kredit khusus dari Wakil Satgas Antimafia Bola, Krishna Murti. Dalam akun Instagram pribadinya, Krishna menyebut berdasarkan keterangan sejumlah wasit yang diperiksa, PSM merupakan satu dari tiga klub yang tidak menyogok wasit pada Liga 1 2018.
Bukan tanpa dasar PSM bersikap demikian. CEO PSM Makassar, Munafri Arifuddin, mengatakan bahwa ada kebangaan bila para pemain merebut kemenangan tanpa bantuan dari wasit.
"Mendapatkan kemenangan dengan benar-benar, tanpa ada bantuan, itu akan memberikan kebangaan luar biasa. Buat apa bangga kalau bermain curang dalam pertandingan? Itu bukan bagian budaya kita," ucap Munafri saat dihubungi kumparanBOLA, Kamis (21/2/2019).
"Selain itu, bahwa kami kalah dengan sportif, akan memberikan pelajaran dan kekurangan yang diperbaiki. Sehingga saat 'dibantu' wasit, kami tidak mampu melihat bagaimana kinerja tim dalam pertandingan," katanya.
ADVERTISEMENT
Laga pekan ke-31 Liga 1, PSM Makassar vs Persija Jakarta. Foto: Dok. Media Persija
Efeknya tak melulu positif buat PSM. Karena menurut Munafri, hubungan timnya dengan wasit menjadi buruk karena sering melakukan protes keras dalam perjalanan Liga 1 musim lalu. Di momen-momen itulah emosi pemain dan pelatih terbakar hingga melakukan tindakan yang tak berkenan.
Salah satu contohnya adalah pertemuan di kandang Arema FC pada laga pekan kesembilan Liga 1 pada Mei 2018. Dua ofisial PSM terkena skors akibat tertangkap melancarkan protes keras kepada wasit. Selain itu, suporter juga melakukan pelemparan botol sehingga berujung denda Rp 30 juta.
Munafri menambahkan hal-hal tersebut tidak cuma terjadi di pertandingan tandang. Ada pula momen saat PSM dirugikan wasit dalam laga di depan suporternya sendiri.
"Bukan cuma satu kali kami didenda puluhan juta rupiah karena ribut dengan wasit. Bahkan, pintu kamar wasit di stadion sering diganti karena kami sering ribut, tendang pintu, dan sebagainya," ucap Munafri.
ADVERTISEMENT
"Kami hanya bisa seakan-akan berteriak di tengah hutan, tanpa ada yang bisa mendengar dan menggubrisnya. Kadang-kadang itulah yang terjadi saat kami sudah terlalu kesal. Kalau di kandang saja dikerjain, ya, keributan hasilnya," katanya.
Suporter PSM Makassar menangis setelah tim kesayangannya gagal menang atas Bhayangkara FC. Foto: Instagram/@gallery.supporter.indonesia
Nah, seiring semakin banyaknya pengakuan tentang pengaturan skor, kecurigaan Munafri akan perburuan gelar juara Liga 1 2018 semakin kuat. PSM gagal menjadi juara karena terpaut satu poin dari Persija Jakarta di puncak klasemen akhir.
Tampak tren menurun PSM di pengujung kompetisi. Mereka cuma meraih masing-masing dua kemenangan dan hasil imbang dalam lima pertandingan terakhir. Sebaliknya, Persija meraup empat kemenangan dan cuma menelan satu kekalahan dalam kurun serupa.
"Ya, menurut saya, pasti ada pengaruhnya. Kalau ada yang dibantu pasti berdampak pada tim lain. Kami 'kan mengakhiri liga dengan selisih satu poin saja dengan tim juara. Jadi sangat riskan kalau ada satu pertandingan saja yang diatur," ucap Munafri.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan