kumparan
26 Des 2018 20:09 WIB

Guardiola: Manchester City 2018/19 Lebih Baik dari Segi Defensif

Manchester City merayakan gelar juara. (Foto: Carl Recine/Reuters)
Masih lekat di ingatan, publik Inggris juga penggemar sepak bola di seluruh dunia memuji penampilan Manchester City di musim 2017/18 saat mereka menjadi juara. Wajar, City menjadi juara dengan torehan 100 poin dan koleksi 106 gol.
ADVERTISEMENT
Keberhasilan itu juga turut mengangkat nama Pep Guardiola. Setelah membawa City "cuma" finis di posisi ketiga pada musim 2016/17, Guardiola beradaptasi dengan gaya permainan Inggris (dia akhirnya memahami pentingnya second ball di Liga Inggris) dan sukses mematahkan anggapan bahwa ia sulit sukses di Inggris. Sekalipun beradaptasi, Guardiola tidak menanggalkan filosofinya.
Musim ini, perjalanan City memang lebih berat. Setelah bertanding 18 kali, The Citizens sudah menelan dua kekalahan. Teranyar, mereka takluk 2-3 di tangan Crystal Palace akhir pekan silam. Padahal, pada musim kemarin, City baru menelan kekalahan di pekan ke-23.
Meski begitu, Guardiola menilai timnya bermain lebih baik musim ini. Menurut jurutaktik asal Spanyol tersebut, selain lebih solid dalam bertahan, City juga lebih fleksibel dalam menerapkan beragam strategi. Bahkan, tidak jarang City bermain pragmatis ketika dibutuhkan.
ADVERTISEMENT
"Ada hal detail yang saat ini jauh lebih baik ketimbang musim lalu. Normal, karena kami punya banyak waktu bersama lebih banyak. Saat ini, kami punya lebih banyak alternatif untuk bertahan dan menyerang. Kami juga lebih solid ketika bertahan di dalam," ujar Guardiola dikutip dari Sky Sports, Rabu (26/12/2018).
Lalu, pelatih berusia 47 tahun ini mengaku sempat dikecewakan kala City kalah dari Manchester United 2-3 di pengujung musim 2017/18, sekaligus gagal merayakan pesta juara satu pekan lebih awal. Kekalahan itu, kata Guardiola, memberikannya pelajaran penting. Baru, setelah takluk dari United itu, City bangkir dan menundukkan Tottenham Hotspur 3-1.
"Bahkan ketika unggul 2-0 atau 3-0 dengan masih tersisa 20 menit pertandingan, saya tidak akan tenang dan bilang semuanya selesai. Tapi, di pertandingan itu (melawan Tottenham Hotspur) kami baru saja melewati perempat final yang sulit lawan Liverpool. Maka di 10-15 menit pertama, saya bisa membaca bahwa kami akan menjuarai Premier League," katanya.
ADVERTISEMENT
Pelatih Manchester City, Pep Guardiola, menjalani jumpa pers di Liga Champions. (Foto: Oli Scarff/AFP)
Gelar liga paling bergengsi di Negeri Ratu Elizabeth pun jadi pencapaian favorit bagi Guardiola. "Menang turnamen atau Liga Champions butuh permainan bagus di enam hingga tujuh pertandingan. Namun, di Premier League, kami bisa bermain setiap tiga hari sekali, jadi saya suka gelarnya," celoteh Guardiola.
Terpisah, ada Raheem Sterling yang buka-bukaan soal perkembangan para pemain di bawah arahan Guardiola. Dilansir laman resmi Manchester City, Sterling mengaku baru bisa menjadi pemain yang sempurna jika sudah juara. Untuk juara, dibutuhkan tiga faktor utama. Apa saja?
"Semuanya diatur dengan sempurna di sini (Inggris) untuk jadi pemenang. Anda butuh salah satu fasilitas latihan terbaik di dunia, pelatih terhebat di dunia, dan para pemain andal di sekitar Anda. Jadi, apalagi yang dibutuhkan selain itu?" kata Sterling.
ADVERTISEMENT
Gabung ke City pada 2015, satu tahun sebelum kedatangan Guardiola, Sterling pun mengaku berkembang dan menjadi dewasa bersama klub. "Mungkin karena kepercayaan dari pelatih kepada saya. Setiap musim saya ingin lebih baik dari sebelumnya," ujarnya.
Sementara menurut Riyad Mahrez, yang berganti seragam menjadi bagian The Citizens Juli lalu, tidak memungkiri masa-masa sulitnya begitu menginjakkan kaki masuk ke dalam tim dan beradaptasi dengan sistem Guardiola. Berbekal semangatnya, dia bisa membukukan lima gol dari 17 penampilannya.
"Ketika pemain datang, enam bulan pertama adalah momen yang sulit untuk beradaptasi dengan semua hal. Saya sendiri cukup bagus, masih baru di City, dan butuh beberapa bulan lagi untuk lolos (penyesuaian). Saya akan lebih baik lagi," ucap Mahrez.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan