kumparan
1 September 2018 20:32

Kalahkan Leicester, Liverpool Menangi 4 Laga Pembuka Premier League

Firmino mencetak gol kedua Liverpool di laga vs Leicester. (Foto: REUTERS/Darren Staples)
Laga pekan keempat Liverpool di Premier League 2018/19 ditutup dengan kemenangan atas Leicester City. Bertanding di King Power Stadium pada Sabtu (1/9/2018), skuat didikan Juergen Klopp menutup laga dengan skor 2-1. Gol Sadio Mane pada menit 10 dan Roberto Firmino pada menit 45 menjadi alasan mengapa raihan tiga poin itu berhasil dibawa pulang. Sementara, satu gol Leicester berhasil dicetak oleh Rachid Ghezzal pada menit 63.
ADVERTISEMENT
Formasi 4-2-3-1 yang diusung Claude Puel di laga ini menugaskan Marc Albrighton, James Madisson, dan Rachid Ghezzal di lini kedua sebagai penyokong penyerang tunggal, Demarai Gray. Efektivitas keempatnya bakal diuji oleh tembok pertahanan Liverpool yang disusun oleh Andy Robertson, Virgil van Dijk, Joe Gomez, dan youngster Trent Alexander-Arnold yang mengawal penjaga gawang Alisson Becker.
Klopp yang datang ke King Power Stadium dengan satu misi mencetak sejarah dalam rupa empat kemenangan berturut-turut di awal musim kembali menurunkan trio Sadio Mane-Roberto Firmino-Mohamed Salah menjadi senjata pamungkas di lini depan yang siap mengancam gawang lawan. Sementara, Naby Keita yang di tiga laga awal selalu masuk dalam 11 pemain awal digantikan oleh Andrew Henderson.
ADVERTISEMENT
Walau tak bermain di depan publik sendiri, The Reds tanpa ragu mengambil inisiatif serangan sejak awal laga. Agresivitas yang menjadi ciri khas lini serang Liverpool dibuktikan sejak menit keempat. Keberhasilan memburu umpan terobosan Salah dikonversi Firmino menjadi tembakan ke arah gawang.
Namun, kebobolan pada menit keempat menjadi kejijikan tersendiri bagi Kasper Schmeichel. Dengan sigap, ia mementahkan tembakan sang bintang Brasil. Bola liar tak dibiarkan Salah berlalu begitu saja. Sayangnya, tembakannya itu tak berhasil membuahkan keungggulan cepat karena menyamping tipis dari gawang.
Sial bagi Leicester, keunggulan cepat memang menjadi milik Liverpool di pertandingan ini. Gempuran dari sisi kiri yang dikomandoi James Milner mengacaukan pertahanan tuan rumah. Tak mau kehilangan momentum akibat terlalu asyik bermanuver sendirian, Milner melepaskan umpan kepada Robertson yang berhasil mengelabui lawan dan mencapai tengah kotak penalti.
ADVERTISEMENT
Di sana, Mane sudah menanti dan siap menuntaskan bangunan serangan yang digagas oleh kedua rekannya. Mane belum kehilangan ketajamannya. Dari tengah kotak penalti, lesakannya berhasil memberikan keunggulan perdana untuk Liverpool di menit ke-10.
Tersentak dengan gol perdana lawan, giliran tuan rumah yang membuktikan bahwa mereka tidak melakoni laga sebagai inferior. Harry Maguire yang memanfaatkan celah di area kanan Liverpool melepaskan umpan terobosan yang berhasil diterima oleh Gray. Sayangnya, lesakan Gray masih belum sanggup memenangi laga melawan Alisson. Untuk sementara, gawang Liverpool masih aman dari kebobolan.
Keunggulan Liverpool bertambah di menit 45, jelang turun minum. Kali ini, situasi sepak pojok yang menjadi biang keroknya. Milner membuktikan bahwa ia menjadi pemasok assist terpercaya bagi timnya. Eksekusi tendangan sudutnya berubah wujud menjadi assist bagi gol kedua Liverpool yang dicetak oleh Firmino. Liverpool turun minum dengan membawa kelegaan yang muncul berkat keunggulan 2-0 di paruh pertama.
ADVERTISEMENT
Di babak kedua ada pelajaran pahit, tapi penting yang harus dienyam oleh Alisson di laga-laga berikutnya. Di menit 63, ia melakukan blunder yang membuat lawan berhasil menceploskan gol perdana. Pertahanan Liverpool yang terbuka berhasil dimanfaatkan oleh Kelechi Iheanacho yang baru bermain pada menit 61 menggantikan Marc Albrighton. Proses gol ini bermula ketika Van Dijk mengumpan bola ke Alisson demi melepaskan diri dari kepungan dua pemain Leicester.
Oke, di satu sisi, sebagian besar penonton paham bahwa Alisson berambisi untuk menjadi seorang ball-playing goalkeeper. Namun, satu hal yang harus digarisbawahi, tugas utama seorang kiper adalah mengamankan gawang sendiri, bukannya membahayakan. Prinsip paling dasar ini yang alpa dalam penampilan Alisson di menit 63.
ADVERTISEMENT
Alih-alih langsung mengamankan bola dengan mengoper kepada kawannya, Alisson justru memainkan bola, melakukan manuver memutar badan sebagai upaya mengecoh Iheanacho yang berhadapan satu lawan satu dengannya. Tanpa ampun, pemain asal Nigeria itu merebut bola dan menghukum Alisson dengan satu umpan matang kepada Ghezzal yang ada di area kiri pertahanan Liverpool.
Tanpa ragu, Ghezzal melepaskan tembakan yang melahirkan gol perdana bagi Leicester di laga ini. Dari pinggir lapangan, Klopp tak dapat menyembunyikan kekecewaannya. Entah apa yang diucapkannya. Tapi, kalau boleh menebak, dari pinggir lapangan sana, ia menggerutu "Ngapain, sih?" melihat kelakuan sang penjaga gawang.
Pendukung Leicester di laga vs Liverpool. (Foto: Reuters/Carl Recine)
Di menit 73, Ghezzal kembali menjadi ancaman tim tamu. Serangan dari kanannya cukup merepotkan lawan. Beruntung, Robertson belum kehilangan tuahnya. Dengan cerdas, ia memancing Ghezzal melakukan kesalahan umpan yang memutus bangunan serangannya sendiri.
ADVERTISEMENT
Sampai laga memasuki menit 80, Leicester-lah yang memimpin perkara agresivitas serangan. Buktinya, The Foxes mencatatkan 11 tembakan, berbanding 8 tembakan milik Liverpool. Ancamannya pun tak bisa dipandang sebelah mata. Sebabnya, 5 dari 11 tembakan itu mengarah ke gawang.
Tambahan waktu lima menit pada kenyataannya tak memberikan ruang yang cukup bagi Leicester untuk menyamakan kedudukan, apalagi membalikkan keadaan. Dengan hasil ini, Klopp menuntaskan laga dengan keinginan yang tercapai. Untuk pertama kalinya, Liverpool membuka Premier League dengan empat kemenangan berturut-turut.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan