kumparan
15 Sep 2018 2:29 WIB

Karena Chelsea Selalu Menjadi Rumah untuk John Terry

Selamat tinggal, John Terry! (Foto: Reuters/Tony O'Brien)
Maurizio Sarri memang baru mengawali kariernya sebagai pelatih Chelsea di awal 2018/19. Namun, bukan berarti ia abai akan nama besar yang pernah ikut membangun klub. Dan John Terry menjadi salah satu nama yang tak luput dari perhatiannya.
ADVERTISEMENT
Bila dirunut, Terry ada bersama Chelsea sejak tahun 1998 hingga 2017. Begitu masa baktinya bersama Chelsea berakhir, Terry memutuskan untuk bergabung bersama Aston Villa di awal musim 2017/18 dengan status bebas transfer.
Meski usianya tak lagi muda, kontribusi Terry tak bisa dipandang sebelah mata. Buktinya, 35 kali ia diturunkan Steve Bruce pada Divisi Championship musim 2017/18. Berkat kerja sama Terry dan James Chester di lini pertahanan, Villa hanya kebobolan 42 kali, terbaik ketiga di bawah Wolverhampton Wanderers dan Cardiff City di musim tersebut.
Namun, kekalahan 0-1 Villa dari Fulham di laga final play-off Divisi Championship pada 26 Mei 2018 membuat mereka gagal promosi ke Premier League. Kegagalan ini lantas menjadi latar belakang bagi Terry untuk menanggalkan seragam The Villans. Bek berusia 37 tahun itu telah resmi mengakhiri kerja samanya dengan klub yang bermarkas di Villa Park tersebut.
ADVERTISEMENT
Spartak Moskva menjadi salah satu klub yang mengincar Terry. Alih-alih gayung bersambut, tawaran tersebut justru ditolak oleh Terry. Spekulasi yang beredar, keputusan untuk hengkang ke klub asal Rusia itu tidak akan berakibat baik untuk kehidupan keluarganya.
Kabar baiknya, Terry tak sepenuhnya meninggalkan sepak bola. Hingga kini, ia masih aktif berlatih kebugaran di kompleks latihan klub lamanya, Chelsea Cobham, sembari mengejar lisensi UEFA. Atas dasar ini pula, Sarri menyatakan bahwa selalu ada pintu yang terbuka bagi Terry bila ia ingin bergabung dengan staf kepelatihan The Blues.
Sarri, pelatih Chelsea. (Foto: Reuters/Paul Childs)
“Tentu saja ia bisa bergabung di klub ini. Hanya, minggu lalu ia berkata pada saya bahwa ia masih ingin bermain selama satu musim lagi. Tapi, saya tidak tahu pasti seperti apa situasinya sekarang. Chelsea adalah rumahnya, ini fakta yang tidak bisa dibantah. Pastinya, ia akan selalu saya pertimbangkan. Dan bukan hanya saya, tapi seluruh orang di klub ini. Chelsea selalu menjadi rumah untuk John Terry," ucap Sarri, dilansir The Guardian.
ADVERTISEMENT
"Semuanya tergantung pada keputusannya. Saya membukakan pintu yang selebar-lebarnya untuk Terry karena ia adalah bagian dari sejarah klub ini. Ia memenangi segalanya dengan klub ini, jadi terserah dia. Tapi, saya sendiri belum yakin apakah hal ini bisa menjadi kenyataan atau tidak. Ia membicarakan banyak hal dengan saya, terutama tentang keinginannya untuk tetap bermain. Jadi, saya perlu berbicara kembali dengannya," jelas mantan pelatih Napoli ini.
Terry memang bukan orang asing bagi Chelsea. Ia bergabung dengan tim junior Chelsea pada usia 14 tahun. Sebanyak 717 penampilan dibukukannya bersama tim utama Chelsea. Dan sepanjang kariernya bersama Chelsea, ada 17 gelar juara yang ia persembahkan.
Terry mulai menjadi bagian tak terpisahkan dari Chelsea sejak musim 2000/01 walau jalannya tak mudah. Terry muda masih harus bersaing dengan pemain-pemain kawakan macam Marcel Desailly dan Frank Lebouf. Pada tahun 2000, ia bahkan sempat dipinjamkan ke Nottingham Forest. Beruntung, masa pinjaman itu tak lama, hanya setengah musim. Kiprahnya sebagai kapten dimulai pada musim 2004/05, bertepatan dengan kedatangan Jose Mourinho sebagai pelatih.
ADVERTISEMENT
Setelah mampu menggeser Leboeuf yang kemudian hengkang ke Marseille, Terry menjadi pilihan utama di lini pertahanan Chelsea. Dia menjadi saksi bagaimana Chelsea yang semenjana di tangan Ken Bates berubah menjadi Chelsea yang dikenal sekarang: mapan dan sukses di bawah ambisi Roman Abramovich.
Terlepas dari segala kontroversi ataupun olok-olok bertubi-tubi yang kerap diterimanya dari suporter lawan, Terry adalah legenda Chelsea. Bagi setiap legenda, selalu ada rumah yang tak pernah menutup pintu. Dan bagi Terry, selalu ada waktu untuk kembali dekat dengan jejalin sejarah yang pernah dibangun.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan