kumparan
25 September 2018 17:53

Kesuksesan Modric, Inspirasi untuk para Gelandang dan Bek

Luka Modric
Marcelo dan Luka Modric bercengkerama dalam ajang Best FIFA Awards. (Foto: John Sibley/Reuters)
Kemenangan Luka Modric tak cuma berarti untuk Real Madrid dan Timnas Kroasia, tetapi juga menandakan patahnya sebuah dominasi.
ADVERTISEMENT
Dalam 10 tahun terakhir, penghargaan pemain terbaik dunia, baik itu Ballon d'Or maupun versi FIFA, tidak pernah lepas dari genggaman dua nama. Siapa lagi kalau bukan Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo yang masing-masing menguasai lima edisi.
Semua berakhir di podium Best FIFA Football Awards London Palladium, Selasa (25/9/2018) dini hari WIB. Modric menaikinya sebagai pemenang kategori pemain pria terbaik setelah meraup 29,5% suara, mengungguli Ronaldo (19,8%) dan Mohamed Salah (11,23%).
Sebuah capaian mengagumkan tentunya karena Modric mengalahkan dua kompetitor yang tampil begitu tajam pada musim 2017/18. Baik Ronaldo maupun Salah merangkum 44 gol di berbagai pentas.
Cristiano Ronaldo, Lionel Messi
Ronaldo dan Messi di Best FIFA Football Awards. (Foto: Ben Stansall/AFP)
Faktor penentu ternyata bukanlah ketajaman, melainkan bagaimana kontribusi pemain terhadap timnya. Itulah modal Modric yang mengantarkan Real Madrid juara Liga Champions dan mendorong Kroasia sampai final Piala Dunia.
ADVERTISEMENT
Dari kesuksesannya, Modric pun memendam sebuah harapan agar pemain non-penyerang bisa mengulanginya. Karena sudah terlalu lama predikat pemain terbaik dunia melekat dengan penyerang tajam.
"Ada pemain lain yang pantas meraih penghargaan ini, tetapi gagal. Jumlah gol memang penting dan perlu diakui pula bahwa Ronaldo serta Messi merupakan pemain kelas dunia. Namun, pemain lain mengapresiasi musim saya yang berlangsung impresif," tutur Modric seperti dilansir oleh FourFourTwo.
"Saya merasa bahagia karenanya. Semoga kelak prestasi serupa bisa diraih gelandang atau pemain belakang," katanya menambahkan.
Luka Modric
Luka Modric menjadi pemain terbaik dunia tahun 2018 versi FIFA. (Foto: Ben STANSALL / AFP)
Kontribusi dan orientasi Modric terhadap tim memang telah mengantarkannya sebagai pemain terbaik versi FIFA. Besar kemungkinan, dia menorehkan prestasi serupa di pentas Ballon d'Or yang digelar majalah France Football.
ADVERTISEMENT
Sikap itu pula yang melatarbelakangi keinginan Modric untuk mengganti semua penghargaan pribadinya, termasuk Pemain Terbaik UEFA dan FIFA 2018, dengan trofi untuk tim. Memang terasa kurang klimaks buat eks pemain Tottenham Hotspur ini karena gagal mengalahkan Prancis di final Piala Dunia.
"Tentu saja saya ingin mengubah sesuatu sehingga bisa menjadi juara di Rusia. Karena bagi saya, prestasi tim lebih penting. Maka itu, saya rela menukar semua penghargaan individu dengan trofi Piala Dunia," pungkas Modric.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan