kumparan
15 Maret 2018 14:10

Keterpurukan Inggris, Kejayaan Spanyol, dan Hal-hal di Baliknya

Sevilla
Para pemain Sevilla bergembira. (Foto: Reuters / Jason Cairnduff)
"Semua orang akan membayar untuk segala hal buruk yang mereka lakukan. Dan Manchester United adalah sebuah monumen untuk hal-hal buruk yang ada di sepak bola. Mengenaskan, karena mereka punya segalanya untuk melaju tetapi Sevilla-lah yang akhirnya lolos."
ADVERTISEMENT
Kata-kata tersebut ditulis oleh Robert Palomar untuk Marca, harian olahraga yang berbasis di Madrid. Harian tersebut selama ini dikenal sebagai pembela Real Madrid nomor wahid. Akan tetapi, setelah Sevilla menundukkan Manchester United di leg kedua babak 16 besar Liga Champions, Rabu (14/3/2018) dini hari WIB, mereka beralih fungsi. Tak lagi menjadi pembela Real Madrid, Marca juga menjadi pembela persepakbolaan Spanyol.
Sevilla adalah sebuah epitome kehebatan sepak bola Spanyol. Bukan Real Madrid, bukan Barcelona, melainkan Sevilla. Mereka adalah tim peringkat lima di La Liga dan rekor mereka, khususnya di bawah pelatih anyar Vincenzo Montella, tidak bagus-bagus amat. Mereka pernah kemasukan 10 gol hanya dalam dua pertandingan menghadapi Eibar dan Atletico Madrid. Namun, di hadapan Manchester United yang notabene merupakan tim peringkat dua Premier League, Sevilla tetap perkasa.
ADVERTISEMENT
Memang, kemenangan Sevilla atas United itu tidak bisa pula secara serta merta dimaknai sebagai bentuk dominasi absolut Spanyol. Seperti yang dituliskan Palomar, di situ ada andil Manchester United juga yang tampil tidak becus. United (baca: Jose Mourinho) seharusnya tahu bahwa Sevilla bukanlah tim terkuat Spanyol, tetapi entah mengapa mereka tetap memilih pendekatan reaktif.
Namun, di situ juga bisa dilihat betapa sesungguhnya ada yang salah di Premier League. Bagaimana bisa sebuah tim yang bermain seperti Manchester United bisa duduk di peringkat kedua?
Kalau itu belum cukup, mari kita tengok kiprah tim-tim Inggris lain. Selain United, ada juga Chelsea dan Tottenham Hotspur yang telah tersingkir. Dengan demikian, di perempat final nanti hanya akan ada dua tim Inggris yang tersisa, Liverpool dan Manchester City. Ya, Inggris datang ke Liga Champions dengan lima wakil, tapi baru sampai babak 16 besar, mereka hanya menyisakan dua wakil.
ADVERTISEMENT
Walau demikian, sebenarnya selain Manchester United, prestasi tim-tim Inggris yang lainnya itu sudah sesuai ekspektasi. Liverpool bisa unggul telak atas Porto dan Manchester City menyingkirkan Basel tanpa banyak kesulitan (meski kalah di leg kedua saat memainkan pemain-pemain pelapis) adalah hal wajar. Kemudian, kekalahan Chelsea dari Barcelona dan tersingkirnya Tottenham Hotspur di tangan Juventus juga tidak benar-benar mengejutkan.
Maka dari itu, yang sebenarnya paling layak dikambinghitamkan dari torehan buruk tim Inggris ini adalah Manchester United. Di tangan merekalah sejatinya muruah Premier League berada.
Pasalnya, mereka mendapat lawan yang pas; tidak terlalu lemah tetapi juga tidak terlampau superior. Setidaknya, dengan dana 300 juta poundsterling yang telah dikucurkan dalam dua musim terakhir, United bisa menang lewat permainan yang apik menghadapi Sevilla. Namun, nyatanya mereka justru terjebak dalam delusi masa silam Mourinho.
ADVERTISEMENT
Namun, terlepas dari penampilan buruk United, suka tidak suka, Sevilla mampu memanfaatkannya dengan baik. Kemenangan di Old Trafford itu pun berarti dua hal bagi mereka, yaitu kemenangan pertama di tanah Inggris dan kelolosan mereka untuk pertama kalinya ke perempat final Liga Champions. Artinya, malam itu memang malam yang spesial untuk Sevilla. Silakan bilang itu takdir atau apa pun, yang jelas faktanya demikian dan tidak bisa diganggu gugat.
Yang jadi masalah, setelah berhasil menyingkirkan Manchester United, bisa apa Sevilla? Ya, mereka memang sudah menjadi epitome kehebatan persepakbolaan Spanyol dengan melakukan itu, tetapi apakah itu semua bakal berlanjut?
Manchester United vs Sevilla.
Manchester United vs Sevilla. (Foto: Reuters/Jason Cairnduff)
Sulit memang untuk memprediksi itu. Namun, kemungkinan besarnya adalah Sevilla bakal tersingkir di perempat final. Sebab, selain Roma, calon lawan yang mereka hadapi di delapan besar nanti adalah tim-tim yang, pertama, punya jam terbang tinggi di Liga Champions, dan kedua, punya kekuatan membunuh yang jauh lebih hebat ketimbang United.
ADVERTISEMENT
Ada Juventus di sana, ada pula Liverpool, Manchester City, Barcelona, Real Madrid, Bayern Muenchen, dan Roma. Kecuali Manchester City, semua tim itu pernah menjejak partai puncak Liga Champions. Sementara, Manchester City punya pemain-pemain hebat dan manajer yang sudah dua kali menjuarai Liga Champions. Artinya, Sevilla adalah satu-satunya pendatang baru di sini dan itu bisa membuat mereka menderita.
Namun, kalaupun Sevilla gugur, itu tidak akan berpengaruh besar pada dominasi Spanyol. Sebab, di sana masih ada Barcelona dan Real Madrid yang mustahil untuk tidak dijagokan. Walau demikian, tentunya masih harus ditunggu lagi siapa lawan-lawan yang bakal mereka hadapi karena, tentunya, kans Real atau Barcelona menghadapi City akan berbeda ketimbang kalau mereka menghadapi Roma.
ADVERTISEMENT
Terlepas dari itu semua, apa yang ditunjukkan Sevilla ini juga bisa dilihat sebagai bukti bahwa proses mereka selama sekurangnya 15 tahun terakhir bisa terbayarkan. Meski merupakan 'anak bawang' di Liga Champions, Sevilla adalah raja di Liga Europa. Di kompetisi domestik memang mereka terseok-seok, tetapi modal sebagai raja Liga Europa itu membuat mereka setidaknya lebih tahu cara bersikap di laga-laga fase gugur semacam ini.
Cara bersikap itulah yang tidak dimiliki United dan Spurs. Adapun, cara bersikap yang dimaksud tidak semata-mata berasal dari taktik para pelatihnya, tetapi juga soal mental para pemain dan mental klub secara holistik untuk menyikapi pertandingan semacam itu. United terlalu reaktif, sementara Spurs terlalu naif.
Alexis Sanchez
Alexis tak percaya United gugur. (Foto: Reuters/Jason Cairnduff)
United memang dulu merupakan nama yang disegani di Eropa, tetapi belakangan ini mereka tak lagi seperti dulu. Entah benar atau tidak, yang jelas hal itu bisa berpengaruh pada psike sang manajer. Ada rasa minder dalam diri United dan itu masih ditambah dengan rasa minder yang sejak dulu ada pada sosok Mourinho. Alhasil, dari situ jadilah penampilan United yang mengenaskan tadi.
ADVERTISEMENT
Sementara itu, Tottenham terlihat sebagai tim yang terlalu fokus pada diri mereka sendiri. Sudah berulang kali terdengar dari kubu mereka soal betapa hebatnya progres yang telah mereka lakukan sebagai sebuah klub. Namun, mereka lupa bahwa ketika mereka masih berprogres, mereka belum jadi klub yang matang. Ketika bersua dengan salah satu bangsawan Eropa, habislah mereka.
Kemudian, untuk Chelsea masalahnya sedikit berbeda. Bagi sang manajer, Antonio Conte, sendiri musim ini memang penuh turbulensi. Mereka tidak punya stok pemain yang cukup dan akhirnya, strategi dan pemilihan pemain yang dilakukan Conte pun jadi monoton.
Sebenarnya, apa yang dilakukan Conte pada laga melawa Barcelona tidak bisa dikatakan buruk. Meski dipaksa bertahan, mereka mampu menaklukkan Marc-Andre ter Stegen sampai lima kali. Hanya, empat dari lima upaya itu harus menerpa tiang dan mistar gawang. Untuk kasus Chelsea, bolehlah kita sebut bahwa Dewi Fortuna tak berpihak kepada mereka.
ADVERTISEMENT
Namun, ini semua tidak mengubah fakta bahwa dari lima tim Premier League yang masuk fase gugur Liga Champions, tiga di antaranya sudah gagal. Penyebabnya memang bermacam-macam, tetapi justru di situ poinnya.
Dari situ bisa dilihat bahwa Premier League tidaklah sesempurna yang ada di bayangan. Meski kompetisinya sendiri senantiasa berjalan menarik dan menghibur, pada akhirnya yang dibutuhkan di kancah Eropa adalah insting membunuh. Insting inilah yang sudah mampu benar-benar diasah oleh tim-tim Spanyol.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan