kumparan
11 November 2019 18:21

Ketika Stadion Freiburg Berubah Jadi Arena Battle Royale

David Abraham (P)
Kapten Eintracht Frankfurt, David Abraham. Foto: AFP/Daniel Roland
Bayangkan dirimu berada dalam situasi seperti ini:
Kamu dipercaya jadi kapten sebuah kesebelasan dan tim yang kamu pimpin berada di ambang kekalahan. Pertandingan sudah memasuki masa injury time babak kedua dan kamu, beserta kawan-kawanmu, masih tertinggal satu gol.
ADVERTISEMENT
Dalam sebuah upaya menyerang, tim lawan berhasil menghalau bola keluar lapangan. Kamu, kapten tim, berada paling dekat dengan garis pembatas. Kamu pun berlari untuk mengambil bola. Akan tetapi, persis di hadapanmu ada pelatih lawan.
Di situasi seperti itu, apa yang akan kamu lakukan? Bergegas mengambil dan melemparkan bola kembali ke lapangan atau mendorong pelatih lawan itu sampai terjengkang?
Jika namamu adalah David Abraham, kami tahu jawabannya. Kamu pasti akan mendorong pelatih renta bernama Christian Streich yang sebenarnya tidak menghalangi langkahmu. Kamu akan membuat Streich terbanting ke tanah seperti baru saja menerima pukulan clothesline dari Braun Strowman.
Situasi ini bukan rekaan atau pengandaian. Ini sungguh-sungguh terjadi dalam pertandingan Bundesliga antara tuan rumah Freiburg dan Eintracht Frankfurt di Schwarzwald-Stadion, Senin (11/11/2019) dini hari WIB.
ADVERTISEMENT
Abraham adalah kapten Eintracht, Streich adalah pelatih Freiburg. Situasinya persis seperti yang kami gambarkan di atas. Freiburg unggul 1-0 berkat gol Nils Petersen pada menit ke-77, Eintracht berusaha membalas.
Eintracht butuh poin untuk bisa merangsek ke papan atas, sementara Freiburg tentu saja ingin mempertahankan kemenangan agar bisa terus duduk nyaman di urutan empat klasemen. Tensi meninggi, akal sehat hilang, dan Abraham pun menjelma jadi pegulat profesional.
Terjatuhlah Streich ke tanah. Abraham pun kemudian diburu oleh para pemain cadangan dan ofisial Freiburg. Pria Argentina berdarah Israel itu lari tunggang langgang. Seketika, akal sehatnya kembali dan pikiran ini melintas di otaknya, "What the f**k did I just do?"
Schwarzwald-Stadion berhenti jadi arena sepak bola. Ia tampak seperti arena battle royale yang bisa diisi siapa pun. Pemain, pelatih, ofisial, semuanya turun ke gelanggang. Masing-masing dari mereka ingin menunjukkan kemaluan siapa yang lebih besar.
ADVERTISEMENT
Vincenzo Grifo, contohnya. Pemain Freiburg ini ditarik keluar oleh Streich di tengah-tengah laga dengan kondisi sudah terkena kartu kuning. Namun, namanya juga kalap, tangan pun melayang sekenanya. Pria Italia itu tampak ingin betul mempermak muka Abraham.
Sekitar sepuluh menit lamanya kericuhan itu berlangsung. Untungnya, para penonton tidak turut terpancing emosi sehingga situasi bisa lebih mudah dikendalikan. Kisah 'lucu' ini ditutup dengan kartu merah yang diberikan kepada Abraham serta Grifo. Kartu kuning juga dilayangkan pada asisten trainer Freiburg, Florian Burns.
Christian Streich (C)
Pelatih SC Freiburg, Christian Streich. Foto: AFP/Thomas Kienzle
Seusai pertandingan, ketika emosi sudah mereda, Streich buka suara. Pria 54 tahun itu mengaku sudah memaafkan Abraham yang mendatanginya ke ruang ganti.
"Sepak bola itu 'kan olahraga fisik, tetapi tadi memang sudah kelewatan. Pertandingan tadi sangat panas dan kami perlu menenangkan diri. Semua sudah selesai, tak perlu diperpanjang," kata Streich, dilansir The Guardian.
ADVERTISEMENT
Di kesempatan terpisah, direktur olahraga Eintracht, Fredi Bobic, berjanji akan memberikan hukuman kepada semua pihak yang terlibat.
"Dia (Abraham, red) merasa terprovokasi, tetapi seharusnya dia tak melakukan itu. Dia paham, kok, kalau dia salah. Yang jelas, setelah ini semua pihak yang terlibat akan menerima konsekuensinya," ucap Bobic.
Well, begitulah. Agak disayangkan, memang, karena kedua pihak akhirnya memilih jalan damai. Padahal, lebih seru lagi kalau perkelahian ini dilanjutkan di parkiran.
0 Voters
Di situasi seperti itu, apa yang akan kamu lakukan?
Ya, mengambil bola.
0.00%
Mendorong pelatih lawan sampai terjatuh.
0.00%
Polling Selesai
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan