kumparan
2 Desember 2018 21:09

Luka Modric, Calon Perusak Hegemoni Messi-Ronaldo di Ballon d'Or

Luka Modric
Modric merayakan gol. (Foto: REUTERS / Ivan Alvarado)
Ricardo Izecson dos Santos Leite atau akrab disapa Kaka, menjadi orang terakhir yang menyabet penghargaan Ballon d’Or sebelum Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo menguasai penghargaan ini dalam satu dekade terakhir.
ADVERTISEMENT
Kini, harapan untuk menghentikan dominasi Messi dan Ronaldo terbuka dengan munculnya Luka Modric sebagai salah satu nomine di Ballon d’Or 2018. Menjadikan Modric sebagai salah satu kandidat terkuat rasanya seperti kembali menghargai kreativitas dan visi bermain cemerlang dari seorang pemain di atas lapangan.
Bukan, bukan berarti Messi dan Ronaldo tak punya kreativitas. Akan tetapi, ranah sepak bola mengenal dua pemain ini sebagai seorang predator di depan gawang lawan. Sedangkan, Modric muncul sebagai pemain penuh determinasi, daya jelajah luas, dan kemampuan dalam membaca pergerakan lawan serta kawan untuk menciptakan peluang.
Oleh karena itu, ketika Kaka meraih Ballon d’Or pada 2007 silam, barometer tentang syarat menjadi yang terbaik nyatanya bukan melulu soal seberapa tajam di depan gawang lawan. Sementara, Ronaldo dan Messi lebih terlihat seperti sebuah muara dari salah satu tujuan bermain bola: mencetak gol. Sedangkan, sosok-sosok yang menopang mereka, seperti tertutup sinar dan perannya.
ADVERTISEMENT
Di usianya yang telah menjejak 33 tahun, Modric nyatanya membuat semua atribut sebagai seorang jenderal di lapangan tengah semakin ciamik. Hal itu pula yang mengantarkan Modric tampil gemilang selama musim 2017/18. Baik bersama Real Madrid di level klub atau bersama Timnas Kroasia, Modric menunjukkan peran penting dan tak tergantikan.
Luka Modric
Luka Modric di laga vs Inggris. (Foto: REUTERS/Darren Staples)
Selama La Liga 2017/18 berjalan, Modric bermain 26 kali dari total 38 laga, 23 di antaranya menjadi starter. Kendati hanya mencetak 1 gol, WhoScored mencatat Modric rata-rata mencatatkan 1,3 tembakan per laganya. Sedangkan, soal mendistribusikan bola, Modric rata-rata melepas 59,5 operan per pertandingan dengan akurasi 89,9%, dan 1,5 di antaranya berbuah jadi umpan kunci.
Tak cuma dari segi penyerangan saja, Modric pun impresif soal membantu pertahanan dan memutus aliran bola lawan. Per laganya, Modric rata-rata melakukan 1,3 tekel berhasil dan 1,2 intersep. Jangan lupakan juga bahwa Modric adalah seorang yang memiliki kemampuan olah bola ciamik sehingga mampu melakukan 1 dribel sukses setiap bermain di laga La Liga.
ADVERTISEMENT
Modric memang gagal membawa Madrid jadi kampiun La Liga 2017/18, tapi di musim itu ia sukses mengantarkan Los Blancos menjadi jawara Liga Champions –yang juga jadi trofi ke-13 Madrid dan gelar keempat Modric di kompetisi antarklub Eropa tertinggi itu.
Kontribiusi Modric pun kentara sepanjang Madrid mengarungi Liga Champions 2017/18 dengan turun di 11 laga dari total 13 pertandingan (termasuk final). Dua kali Modric tak dimainkan masing-masing di laga terakhir penyisihan grup dan leg kedua 16 besar melawan Paris-Saint Germain --yang saat itu Madrid sudah unggul3-1 di leg pertama.
Lagi-lagi peran Modric tak kentara jika menjadikan jumlah gol sebagai acuannya karena hanya membukukan 1 gol. Akan tetapi, dari segi menjaga lini tengah dengan rataan 1,4 tekel sukses dan 1,3 intersep, Modric begitu vital. Belum lagi, urusan mengalirkan bola dengan rata-rata melepas 62,9 operan yang akurasinya menyentuh angka 89,9%.
ADVERTISEMENT
Lionel Messi dan Luka Modric
Duel antara Lionel Messi dan Luka Modric. (Foto: Lluis Gene/AFP)
Setelah sukses mengantarkan Madrid berjaya di Liga Champions, pendar Modric tak redup ketika memimpin Kroasia mentas di Piala Dunia 2018. Bahu-membahu bersama Ivan Rakitic dan Marcelo Brozovic di lini tengah, Modric membuat Kroasia tampil cemerlang dengan menyampu bersih tiga laga di penyisihan Grup D dengan kemenangan dan lolos ke 16 besar dengan status juara grup.
Skuat Vatreni cukup kesulitan di fase gugur karena harus bermain hingga babak adu penalti sebanyak dua kalii. Di 16 besar mereka menang 3-2 atas Denmark di adu penalti dan mengalahkan tuan rumah Rusia 4-3 di perempat final. Namun, kondisi tersebut justru menunjukkan bagaimana daya juang Kroasia, khsusunya Modric begitu tinggi ketika bermain.
Kroasia akhirnya lolos ke partai final usai mengalahkan Inggris. Keberhasilan menjejal laga puncak menjadi sejarah baru dalam keikutsertaan Kroasia di Piala Dunia, sekaligus mengalahkan capaian edisi 1998 yang menjejak semifinal dan mengisi tempat ketiga.
ADVERTISEMENT
Di laga pemungkas edisi 2018, Modric memang gagal membawa trofi juara ke Krosia, tetapi perjalanannya bersama Kroasia menjadi epos dalam perhelatan pesta sepak bola empat tahunan ini.
Modric menjadi magi buat Kroasia dan tak tergantikan. Oleh karenanya, eks pemain Tottenham Hotspur itu tercatat menjadi pemain dengan menit bermain terbanyak di Piala Dunia 2018 (694 menit) dan menjadi pemain dengan jarak jelajah terbanyak kedua (63 kilometer), ia hanya kalah dari rekannya di Kroasia, Ivan Perisic (73 kilometer).
Peran Modric pun terlihat dari catatan 2 gol dan 1 assist sepanjang turnamen. Tak heran pula, segala catatan apik itu mengantarkannya terpilih sebagai peraih Sepatu Emas (permain terbaik) Piala Dunia 2018. Berangkat dari raihan apik ini plus kesuksesannya bersama Madrid, Modric akhirnya terpilih sebagai Pemain Terbaik Dunia versi FIFA pada September lalu.
ADVERTISEMENT
Dengan terpilihnya Modric, angin segar kembali berembus soal penghargaan bagi pemain-pemain yang tak cuma menonjol soal mencetak gol. Akan tetapi, bagaimana kreativitas, kesediaan dalam melayani kawan, dan menjadi metronom di lapangan tengah, tak lagi dipandang sebelah mata.
Bukan tidak mungkin, Modric yang sudah menyegel Pemain Terbaik Dunia versi FIFA, bisa mengalahkan Ronaldo dan Messi di perburuan penghargaan Ballon d’Or 2018.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan