kumparan
4 Maret 2019 6:37

Mandulnya Mohamed Salah Adalah Masalah Utama Liverpool

Mohamed Salah
Mohamed Salah di laga West Ham United vs Liverpool. Foto: REUTERS/David Klein
Liverpool kembali tergelincir setelah hanya bermain imbang 0-0 melawan Everton pada Premier League pekan ke-29, Minggu (3/3/2019). Hasil seri di Goodison Park itu kian memperpanjang catatan buruk 'Si Merah' dalam enam pertandingan Premier League terakhir (4 kali imbang dan 2 kali menang). Buntutnya, mereka kudu merelakan kursi pemuncak klasemen kepada Manchester City yang berhasil menaklukkan Bournemouth sehari sebelumnya.
ADVERTISEMENT
Produktivitas jadi problem Liverpool yang paling kentara. Bila ditotal, hanya 10 gol yang berhasil mereka bukukan atau 1,25 gol bila dirata-rata per laga. Parahnya lagi, dua kali sudah Liverpool bermain dengan skor kacamata dalam durasi enam laga ke belakang. Padahal, Liverpool mengemas rata-rata 2,3 gol per laga hingga pekan ke-23.
Tak lain tak bukan, rentetan hasil negatif itu terkait erat dengan jebloknya performa Mohamed Salah. Cukup logis mengingat mesin gol Liverpool itu tengah mengalami paceklik gol. Cuma sebiji gol yang diproduksi Salah dalam 6 pertandingan terakhir. Ini juga menjadi momen terburuknya bersama Liverpool: Melalui tiga laga Premier League beruntun tanpa gol.
Dalam duel bertajuk Derbi Merseyside tadi misalnya, Salah bukannya nihil peluang. Tercatat ia mendapatkan dua kesempatan untuk mencetak gol. Akan tetapi, semuanya hangus--termasuk peluang emasnya kala berhadapan satu lawan satu dengan Jordan Pickford di menit 27.
ADVERTISEMENT
See? Itulah mengapa kuantitas gol Liverpool mengalami penurunan signifikan dalam rentang waktu tersebut. Lebih dari itu, persentase kemenangan Virgil van Dijk dan kawan-kawan juga kian mengecil andai Salah gagal mencetak gol. Buktinya, cuma sekali Liverpool menang saat nama Salah tak terpampang di papan skor, yakni kala melibas Watford 5-0 pekan lalu.
Situasinya menjadi lebih sulit Juergen Klopp juga harus kehilangan Roberto Firmino lantaran cedera. Masalahnya, Divock Origi yang ditunjuk sebagai penggantinya bukanlah penyerang yang piawai untuk mendistribusikan bola, sebagaimana yang dilakukan Firmino untuk mendongkrak fluiditas lini depan. Hal itu tertuang lewat rata-rata umpan kuncinya yang cuma menyentuh angka 0,4 per laga, kalah jauh dari Firmino dengan 1,1.
ADVERTISEMENT
Oke, Sadio Mane yang didorong ke pos penyerang tengah memang tampil moncer setelah rutin mencetak gol dalam empat laga beruntun. Akan tetapi, produktivitas pemain asal Senegal itu juga tak berjalan awet. Nyatanya, ia gagal muncul sebagai penyelamat saat timnya bersua Manchester United dan Everton kali ini.
Liverpool vs West Ham
Firmino dan Mane rayakan gol di laga Liverpool vs West Ham. Foto: REUTERS/Andrew Yates
Masalahnya, Liverpool akan menjalani jadwal yang tak mudah hingga pertengahan Maret ini. Pekan depan mereka akan menjamu Burnley, klub yang sukses mencuri satu poin di Anfield musim lalu. Disusul laga hidup mati versus Bayern Muenchen di leg kedua babak 16 besar Liga Champions.
So, mau tak mau Klopp kudu membenahi barisan penyerangnya dengan segera kecuali mereka sudah siap untuk kembali kehilangan mahkota Premier League yang awalnya tinggal sepelemparan batu itu.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan