kumparan
9 Januari 2019 14:42

Masalah Chelsea, Masalah Napoli, Masalah Maurizio Sarri

Maurizio Sarri dalam laga melawan Spurs. (Foto: Reuters/Andrew Couldridge)
Ketika Harry Kane sukses menjadi pembeda dalam laga leg pertama semifinal Piala Liga Inggris 2018/19, dari pinggir lapangan, Maurizio Sarri mungkin mengingat masa-masa ketika ia menangani Napoli di musim 2017/18 silam.
ADVERTISEMENT
Di musim tersebut, Napoli menjadi satu-satunya tim yang mampu bersaing dengan Juventus dalam perebutan gelar juara Serie A. Sampai pekan 26, walau sempat menderita kekalahan dari Juventus di pekan 15, serta ditahan imbang tiga kali oleh Inter Milan, Chievo Verona, dan Fiorentina, Napoli tetap mampu menempel Juventus.
Petaka mulai hadir bagi mereka papda pekan 27. Kekalahan telak yang mereka dapat di kandang dari AS Roma, berlanjut pada pekan-pekan selanjutnya kala mereka ditahan imbang Inter Milan (lagi), Sassuolo, serta AC Milan, lanjut dikalahkan oleh Fiorentina 3-0 di Artemio Franchi, membuat peluang mereka menjuarai Serie A mulai menipis.
Alhasil. di akhir musim, mereka harus merelakan gelar Serie A jatuh ke tangan Juventus. Hasil imbang yang lebih banyak didapat Napoli daripada kemenangan, adalah salah satu sebab gagalnya Partenopei menghentikan dominasi Bianconeri. Jika ditelisik lagi, ada juga satu hal yang membuat Napoli, pada akhirnya, tergelincir dan gagal meraih gelar.
ADVERTISEMENT
Ketiadaan penyerang tajam di skuat mereka, yang membuat strategi Sarri jadi itu-itu saja, dan membuat gaya main mereka mudah ditebak lawan. Hal itulah yang, sekarang kembali ia alami di Chelsea. Kane, dengan penalti dan permainannya elegan di laga leg pertama semifinal Piala Liga Inggris 2018/19, mengingatkan Sarri akan masa kelam di Napoli tersebut.
Napoli usai ditahan imbang Milan. (Foto: Reuters/Alessandro Garofalo)
Lalu, apakah yang harus Sarri lakukan untuk keluar dari masa kelam ini?
Permainan Chelsea pada leg pertama semifinal Piala Liga Inggris 2018/19 sebenarnya tidak buruk. Mereka dominan atas Spurs, dengan persentase penguasaan bola sebesar 52% berbanding 48%, serta total tembakan yang mencapai angka 17 (5 tepat sasaran) berbanding 6 tembakan (4 tepat sasaran).
Secara logika, dengan permainan apik ini, masalah gol harusnya tinggal menunggu waktu saja bagi Chelsea. Namun, alih-alih memasukkan, mereka justru kemasukan. Kane, penyerang andalan Spurs, menjadi pembeda lewat satu gol yang ia cetak lewat tendangan penalti pada menit 27. Bukan cuma perkara gol, Kane memang jadi ancaman di kotak penalti Chelsea pada laga tersebut.
ADVERTISEMENT
Di laga itu, ia menjadi ujung tombak dari beberapa serangan balik yang dilancarkan oleh Spurs. Total 3 tembakan yang ia lepas, ketiganya semua mengenai sasaran. Masalah posisinya yang sudah offside sebelum dijegal Kepa Arrizabalaga, itu juga menunjukkan bahwa penempatan posisinya sebagai penyerang memang kelas satu.
Bersama Kane, Spurs mampu menjadi tim yang efektif. Dengan model permainan penguasaan bola atau serangan balik, hadirnya Kane di lini depan Spurs membuat Mauricio Pochettino, pelatiih Spurs, menerapkan skema serangan yang berbeda-beda. Kondisi sebaliknya justru malah terjadi di Chelsea.
Lagi-lagi, ketidakpercayaan Sarri terhadap Alvaro Morata maupun Olivier Giroud (Morata tidak masuk skuat di laga ini, sedangkan Giroud masuk sebagai pemain pengganti), membuat dirinya kembali menerapkan formasi dasar 4-3-3, dengan Eden Hazard yang diposisikan selaku penyerang tengah dan memainkan peran false nine. Di kedua sisi, ada Callum Hudson-Odoi dan Willian yang menemani.
ADVERTISEMENT
Harry Kane merayakan gol ke gawang Chelsea. (Foto: Reuters/Andrew Couldridge)
Untuk Hudson-Odoi, pemain yang sempat diisukan tidak betah di Chelsea dan ingin hengkang ini sukses menunjukkan penampilan ciamik. Dalam laga melawan Spurs, ia mencatatkan 2 tembakan (1 mengarah ke gawang) serta 2 umpan kunci. Di sisi lain, Willian sukses menorehkan 5 umpan kunci.
Sedangkan Hazard, seperti biasa, kembali menjadi pusat serangan Chelsea dengan torehan 5 tembakan (2 mengarah ke gawang) dan 5 umpan kunci. Namun, semua ini terasa percuma, karena tidak ada pemain yang berhasil membobol gawang --ya, macam Kane itu. Tak ada pemain dengan naluri gol yang apik.
Bukan cuma itu, model serangan yang mengandalkan ketiga pemain sayap di lini depan ini mudah dihentikan oleh Spurs. Mereka menerapkan garis pertahanan yang dalam dan sejajar, menumpuk pemain di kotak penalti, dan membiarkan pemain sayap menguasai bola hanya di area sayap, dan tidak membiarkan para pemain sayap masuk ke kotak.
ADVERTISEMENT
Gaya-gaya pertahanan inilah yang kerap diterapkan oleh lawan-lawan Chelsea, ataupun lawan-lawan Napoli dulu di Italia. Kemungkinan besar, hal yang sama juga pasti akan diterapkan oleh lawan-lawan Chelsea nantinya, dan itu seolah menunjukkan bahwa Sarri miskin kreasi taktik. Untuk mengatasi hal tersebut, sebenarnya ada dua hal yang bisa Sarri lakukan.
Pertama, Sarri harus segera membeli penyerang baru. Ini adalah opsi bijak nan cepat yang bisa ia ambil. Morata baru mencetak 7 gol dari 24 laga, serta kerap tegang ketika mengambil bola. Giroud baru mencetak 5 gol dari 23 laga, dan saat laga melawan Spurs, ia tidak bisa apa-apa. Torehan gol mereka jauh dari Hazard yang sudah mencetak 12 gol dari 26 laga.
ADVERTISEMENT
Hazard seusai laga melawan Spurs. (Foto: Reuters/Andrew Couldridge)
Perkara penyerang baru ini, sudah ada beberapa kabar yang santer terdengar. Salah satu yang cukup kencang adalah akan direkrutnya Gonzalo Higuain dari AC Milan. Higuain dan Sarri memang pernah bekerja sama di Napoli, dan Sarri senang akan kualitas penyerang asal Argentina itu. Andal dalam penyelesaian akhir, Higuain juga mampu mengacaukan pertahanan lawan lewat pergerakan dan penempatan posisinya.
Itu memang yang dibutuhkan Chelsea sekarang, mereka butuh penyerang dengan sentuhan baik, yang mampu mengubah umpan-umpan matang dari para pemain sayap menjadi gol. Menjadikan Hazard seorang finisher bukanlah sesuatu yang bijak. Pasalnya, ia acap menempatkan dirinya sebagai seorang gelandang serang.
Kedua, ini adalah solusi yang bisa diterapkan Sarri jika Chelsea gagal mendatangkan penyerang di Januari 2019 ini. Mereka bisa tetap mengandalkan formasi 4-3-3 dengan Hazard selaku penyerang tengah, tapi dengan beberapa modifikasi tersendiri. Modifikasi tersebut adalah tekanan dari lini kedua.
ADVERTISEMENT
Jika solusi ini dijalankan, maka pekerjaan berat akan menjadi milik Ross Barkley dan Mateo Kovacic. Keduanya, selain menjadi distributor bola, juga harus andal muncul dari lini kedua dan melepas tembakan jarak jauh akurat. Sejauh ini, keduanya menerapkan rataan tembakan per laga yang tidak terlalu tinggi, yakni 1,6 kali per laga (Barkley) dan 0,9 kali per laga (Kovacic).
Sarri memang pernah mengatakan bahwa ketika mereka menghadapi tim yang bertahan dalam, di tengah kondisi tim yang tidak memiliki penyerang mumpuni, maka tekanan dari lini kedua harus diberikan. Sialnya, sejauh ini, baik itu Barkley maupun Kovacic gagal memberikan itu. N'Golo Kante? Sesuai kata Sarri, walau pergerakan tanpa bolanya sudah lebih baik, ia harus tetap fokus bertahan.
ADVERTISEMENT
Solusi mana yang akan Sarri ambil, itu tergantung pada keputusan Sarri sendiri kelak. Atau malah, ia sudah punya solusi sendiri?
Ekspresi kekecewaan Sarri saat Chelsea keok dari Wolverhampton Wanderers. (Foto: Reuters/Andrew Boyers)
***
Pada suatu masa, Stuart Pearce (mantan pelatih Timnas Inggris U-21), pernah mengunjungi Pep Guardiola di Barcelona. Selama kunjungan dua harinya di sana, Pearce dan Guardiola banyak berdiskusi soal bagaimana seharusnya permainan sepak bola dijalankan. Sampai pada suatu titik, sebelum Pearce pulang ke Inggris, Guardiola bilang begini.
"Oh iya, jangan lupa untuk mempunyai pemain macam (Lionel) Messi di timmu."
Mungkin, ketika Pochettino dan Sarri berdiskusi, hal itulah yang akan keluar dari mulut Pochettino kala ia memberikan saran kepada Sarri soal permainan timnya. Hal yang tidak salah, dan secara eksplisit, Sarri pernah mengakui ini usai Chelsea ditahan imbang Southampton.
ADVERTISEMENT
"Jika kami bisa mencetak gol, kami dapat menemukan celah dengan lebih mudah. Kami harus memecahkan masalah di kotak penalti lawan. Pada pertandingan terakhir kami menguasai penuh jalannya pertandingan tapi tidak mudah pada momen seperti ini mencetak gol lebih dulu," ujar Sarri.
Akankah Sarri mencari pemain macam Kane tersebut? Atau, akankah ia bertahan dengan skuat Chelsea yang ada dan melakukan modifikasi?
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan