kumparan
1 September 2018 16:25

Memperingati 10 Tahun 'Kemerdekaan' Manchester City

Musim yang indah untuk Manchester City. (Foto: Reuters/Lee Smith)
"Sepuluh tahun yang lalu, anak-anak tidak akan mengenakan kaos City di hadapan teman-temannya karena mereka tidak akan merasa bangga."
ADVERTISEMENT
Tak ada yang salah dari komentar yang dilontarkan Garry Cook, mantan Chief Executive Manchester City, kepada BBC di atas. Anak-anak Inggris lebih memilih mengenakan jersi Chelsea, Arsenal, dan Liverpool ketimbang City. Apalagi untuk ukuran Manchester, akan lebih membanggakan memakai kaus Manchester United yang bergelimang gelar itu ketimbang City, 'Tetangga yang Berisik' dan semenjana.
Bila Manchester City adalah sebuah negara, mungkin 1 September bakal ditetapkan menjadi hari besar mereka. Dan 2008 akan jadi tahun yang sama keramatnya seperti tahun kemerdekaan negara-negara lainnya.
1 September 2008 adalah momen Sheikh Mansour Bin Zayed Al Nahyan resmi mengambil alih City. Klub yang sedekade sebelumnya cuma tampil di level ketiga sepak bola Inggris itu dibeli dengan mahar 200 juta poundsterling.
ADVERTISEMENT
Kedatangan Mansour bak oase di padang gurun. Sebelumnya, City masih terpuruk di bawah rezim Thaksin Shinawatra. Salah satu aib yang paling menyakitkan, ya, kekalahan telak 1-8 dari Middlesbrough pada akhir musim 2007/08.
Taipan asal Thailand itu sempat membunuh keputusasaan para penggemar City usai mengambil alih klub 2007 silam. Namun, waktu membuktikan bila Thaksin bukanlah penyelamat sesungguhnya. Sven-Goeran Eriksson yang ditunjuk untuk menakhodai tim pun akhirnya mengakui bahwa Thaksin tidak mengerti apa-apa tentang sepak bola.
Derbi Manchester 2001. (Foto: AFP/Robin Parker)
Di hari 'kemerdekaan' itu, Mansour langsung menggebrak. Caranya, dengan mendatangkan Robinho Real Madrid seharga 32,5 juta poundsterling yang jadi rekor pembelian klub.
Kendati demikian, fakta bahwa uang tak dapat membeli segalanya memang benar adanya. Meski telah menggaet Wayne Bridge, Craig Bellamy, dan Nigel de Jong, City masih belum bisa beranjak dari papan tengah. The Citizens finis di posisi 10 dengan koleksi 50 angka, 40 poin lebih sedikit ketimbang Manchester United yang keluar sebagai juara.
ADVERTISEMENT
Gejala kesuksesan City baru tampak di musim 2009/2010, kala mereka berhasil finis di peringkat lima di klasemen akhir. Sebuah pencapaian terbaik mereka di milenium ketiga. Carlos Tevez yang ditampung dari United jadi topkskorer tim lewat 29 gol yang dibuatnya.
City di bawah arahan Roberto Mancini makin menunjukkan keseriusannya sebagai kandidat juara Premier League di awal musim 2010/2011. Total 120 juta poundsterling dikeluarkan untuk mendaratkan beberapa pemain top macam David Silva, Yaya Toure, dan Mario Balotelli. Di periode itu pula paceklik gelar selama 35 tahun pun akhirnya tandas. Gol kemenangan Yaya Toure ke gawang Stoke City membuat timnya menjadi raja di Piala FA.
Trofi Piala FA adalah pembuka yang manis untuk lembaran baru era keemasan City. Ya, semusim berselang, City akhirnya berhasil merengkuh mahkota Premier League setelah penantian 44 tahun lamanya.
ADVERTISEMENT
Makin spesial karena City menyingkirkan United secara dramatis. Mereka berhasil comeback dan menundukkan Queen Park Rangers 3-2. Sergio Aguero yang dibeli dari Ateltico Madrid jadi pahlawan lewat golnya di pengujung laga.
Kemenangan yang juga membawa 'Iblis Merah' merana. Pasalnya, di waktu bersamaan Wayne Rooney dan kawan-kawan sukses menundukkan Sunderland. Mulai dari sana, City berhasil menancapkan tonggaknya sebagai kesebelasan besar. Paling tidak, mereka membuat Manchester yang semula merah kini membiru.
Sayang, City harus menyerahkan gelar Premier League itu kepada United semusim berselang. Mancini pun dipecat meski trofi Community Shield sukses disabet. Dari sini, sudah terlihat betapa tingginya standar City. Manuel Pellegrini yang kemudian ditunjuk sebagai nakhoda berhasil menjawab tantangan. Premier League kembali mereka rajai, tak ketinggalan Piala Liga juga sukses disabet.
ADVERTISEMENT
Umur kepemimpinan Pellegrini juga tak bertahan lama. Pelatih asal Cile itu mengakhiri pengabdianya di akhir musim 2015/16. Terlepas dari kegagalannya dalam dua edisi Premier League terakhir, jasa Pellegrini tak bisa dienyahkan. Dia turut membangun citra City sebagai klub yang disegani di Eropa usai mencapai semifinal Liga Champions.
Hingga sampailah Pep Guardiola ke Etihad Stadium. Ekspektasi dan eksistensi City kian meluber, mengingat Guardiola merupakan salah satu pelatih terbaik di muka bumi saat ini, baik dari segi gelar maupun taktik. Nilai plus untuk mempertajam karakter City.
Namun, Premier League masih terlalu terjal untuk Guardiola. Tak ada satu pun titel yang diraih mantan arsitek Bayern Muenchen itu di musim pertamanya. Baru di musim kedua tuah Guardiola mulai bekerja. Titel Premier League kelima berhasil dipersembahkan. Torehan City dipermanis dengan toreahan 100 poin dan 106 gol dalam semusim yang didapat dari 32 kemenangan. Deretan angka yang menjadi rekor tersendiri di Premier League.
ADVERTISEMENT
Manchester City merayakan gelar juara. (Foto: Carl Recine/Reuters)
Suka tidak suka, City adalah klub yang dibangun dari gelontoran uang Mansour. Namun, uang --seperti pepatah bijak berkata-- tak mampu membeli segalanya, termasuk gelar juara. Dan memang bukan gelar yang dibeli kontan oleh City, melainkan para pemain dan pelatih yang kemudian menghadirkan konsistensi, karakter, dan juga gelar itu sendiri.
10 tahun yang mengubah cap City dari klub semenjana menjadi raja, dari 'Tetangga yang Berisik' yang membuat United tak berkutik. Sekarang, anak-anak tak lagi malu memakai kaus City, di seluruh dunia, tak hanya di Inggris.
Melanjutkan komentar Cook atas, "Sekarang, orang-orang di seluruh dunia mengenakan jersi City dengan bangga."
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan