kumparan
27 Februari 2019 15:42

Mengenang Kiprah PSM Makassar di Kompetisi Asia

PSM Makassar vs PSIS Semarang
PSM Makassar vs PSIS Semarang Foto: Yusran Uccang/Antara
Tampil kembali di kompetisi Asia pada 2019, boleh jadi ini sebuah momen yang penting bagi PSM Makassar. Setelah sekian lama absen, PSM akhirnya dapat kembali mengenalkan diri ke Asia.
ADVERTISEMENT
Jika ditelisik, terakhir kali PSM tampil di kompetisi Liga Champions Asia adalah pada 2005 silam. Kala itu, berstatus sebagai runner-up Liga Indonesia X 2004 di bawah Persebaya Surabaya, PSM berhak atas satu jatah tampil di kompetisi level tertinggi Asia tersebut.
Namun, perjalanan PSM di ajang Liga Champions Asia 2005 itu tak bisa dibanggakan. Sama seperti perjalanan mereka saat pertama kali tampil di Liga Champions Asia pada 1996/97 saat kalah dari Pohang Steelers di putaran pertama, pada 2005 PSM tidak mampu melangkah jauh di ajang Liga Champions Asia.
Saat itu, PSM gagal bersaing dengan Shandong Luneng dan Yokomaha F. Marinos di Grup F Liga Champions Asia 2005. Dari enam laga, PSM hanya mampu membukukan 4 poin saja, hasil dari sekali menang dan sekali seri atas satu kontestan lain di Grup F, yakni BEC Tero Sasana.
ADVERTISEMENT
Namun, bukan berarti perjalanan PSM selamanya berakhir buruk di Liga Champions Asia. Pernah pada suatu masa, perjalanan tim berjuluk 'Juku Eja' itu di ajang Liga Champions Asia berjalan dengan apik. Itu terjadi pada 2001 silam, setelah PSM keluar sebagai kampiun Liga Indonesia musim 1999/00.
***
Musim yang manis baru saja dilalui oleh PSM pada 1999/00 silam. Berisikan para pemain bintang macam Kurniawan Dwi Yulianto, Miro Baldo Bento, Bima Sakti, serta diurus oleh dua orang bersaudara yang kala itu begitu mencintai PSM: Nurdin dan Kadir Haild, PSM sukses merengkuh gelar Liga Indonesia 1999/00 usai mengalahkan PKT di final.
Memang, sejak awal musim PSM sudah diprediksi akan keluar sebagai juara di akhir musim. Selain diperkuat para pemain bintang dan diurus oleh orang-orang yang begitu mencintai PSM, nama Syamsuddin Umar di posisi pelatih dan Henk Wullems di posisi direktur teknik semakin mempertegas kecakapan PSM dari sisi taktik dan teknik. Tak ada yang bisa menyentuh PSM di liga kala itu.
ADVERTISEMENT
Usai juara di negara sendiri, tentu PSM membutuhkan tantangan lebih dalam sebuah ajang yang mempertemukan mereka dengan juara-juara dari negara lain. Selain mengikui ajang Ho Chi Minh City Cup pada 2001 silam dan keluar sebagai juara (mereka mengalahkan Ho Chi Minh XI di final dengan skor 1-0), PSM berhak atas satu tempat di ajang Liga Champions Asia.
Bagi klub-klub Asia, prestise dari Liga Champions Asia ini sama besarnya dengan prestise Liga Champions Eropa bagi klub-klub Eropa. Maka, saat memiliki kesempatan untuk tampil di dalamnya, kesempatan itu tentu tidak akan disia-siakan, termasuk oleh PSM. Mereka pun berusaha keras tampil maksimal di Liga Champions Asia 2001 tersebut.
Sejak putaran pertama, mereka sudah mencoba untuk tampil maksimal. Menghadapi Song Lam Nghe An dari Vietnam dalam laga dua leg, PSM sempat kesulitan ketika mereka bermain imbang 0-0 di kandang sendiri. Namun, ketika main di Vietnam, mereka mulai menggila dan menang 4-1. PSM berhak lolos ke putaran kedua berkat keunggulan agregat 4-1.
ADVERTISEMENT
Pada putaran kedua ini, PSM masih menggila. Menghadapi tim asal Thailand, Royal Thai AIr Force, PSM sukses membantai mereka di Stadion Mattoanging dengan skor 6-1. Ketika main di Thailand, mereka juga berhasil membukukan kemenangan dengan skor 5-0. 'Pasukan Ramang' memastikan langkah mereka ke perempat final dengan total agregat 11-1.
Berhasil tampil maksimal dan lolos ke babak perempat final--menyamai prestasi Persib pada 1995 silam--, para suporter dan pemain PSM mulai dinaungi kepercayaan diri. Mereka yakin bahwa PSM bisa bicara banyak di kompetisi Asia. Tapi, mereka juga lupa bahwa semakin tinggi mereka melaju, semakin berat lawan yang mengadang.
Hal itu pun terbukti dalam perhelatan perempat final Liga Champions Asia 2001 ini. Diusung dengan format grup (delapan peserta dibagi dua grup), PSM berada satu grup dengan tim-tim kuat Asia macam Shandong Luneng (China), Jubilo Iwata (Jepang), dan Suwon Bluewings (Korea Selatan).
ADVERTISEMENT
Dari tiga laga di babak perempat final format grup ini, PSM sama sekali tidak mampu meraih kemenangan. Melawan Shandong, PSM kalah 1-3. Menghadapi Suwon Bluewings, PSM dibantai 1-8. Terakhir, menghadapi Jubilo, PSM kalah 0-3. PSM gagal mendulang satu poin pun di babak perempat final ini. Mereka gagal melaju ke babak semifinal (yang lolos adalah Suwon Bluewings dan Jubilo Iwata, keduanya juga bertemu lagi di babak final).
Meski perjalanan mereka harus berakhir di babak perempat final Liga Champions Asia 2001, walau diperkuat nama-nama macam Kurniawan Dwi Yulianto, Suwandi Hadi Siswoyo, Miro Baldo Bento, Yuniarto Budi, Bima Sakti, Carlos de Melo, Alexander Pulalo, dan Hendro Kartiko, setidaknya PSM boleh berbangga.
ADVERTISEMENT
Bersama Persib, Persipura, Arema, dan Semen Padang, PSM jadi tim asal Indonesia yang mampu tampil apik di kompetisi Asia. Sekarang pertanyaannya, apakah mereka mampu mengulang prestasi apik itu tahun ini?
***
Untuk tahun 2019 ini, PSM lolos ke AFC Cup sebagai runner-up Liga 1 2018. Setelah menunggu lama, akhirnya mereka mampu kembali merasakan atmosfer kompetisi Asia. Berbekal pemain-pemain yang tidak kalah apik macam Marc Klok, Wiljan Pluim, Zulkifli Syukur, Rizky Pellu, Aaron Evans, dan Zulham Zamrun, PSM mestinya bisa bicara banyak.
PSM sendiri akan memulai perjalanan mereka di AFC Cup 2019 ini dengan bertandang ke markas Home United di Singapura, Rabu (27/2/2019) malam WIB. Sekadar info, Home United adalah lawan yang dikalahkan Persija di babak kualifikasi Liga Champions Asia, tapi mereka mampu lolos ke semifinal Inter-zone play-off AFC Cup 2018.
ADVERTISEMENT
Namun, PSM juga tidak boleh lupa bahwa mereka pernah mengalahkan Home United di ajang Asia Super Cup 2018. Catatan itu setidaknya jadi pengingat, bahwa PSM mampu bersaing dengan tim Asia lain di AFC Cup 2019 ini.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan