kumparan
25 Februari 2019 14:38

Mereka yang Menolak Pergantian seperti Kepa Arrizabalaga

Ekspresi Kepa Arrizabalaga dalam laga Chelsea vs Manchester City. Foto: Carl Recine/Reuters
Publik mulai meragukan karisma Maurizio Sarri di ruang ganti Chelsea. Karena di hadapan kiper Kepa Arrizabalaga saja, pelatih berpaspor Italia itu tampak tak berdaya.
ADVERTISEMENT
Momennya hadir di pengujung babak tambahan final Piala Liga Inggris antara Chelsea dan Manchester City, Senin (25/1/2019) dini hari WIB. Kedua tim tengah bersiap melakoni adu penalti setelah berbagi angka 0-0 dalam duel di Stadion Wembley.
Untuk skenario yang ada di kepala Sarri, Kepa tak berdiri di bawah mistar Chelsea pada babak tos-tosan tersebut. Oleh karenanya, Willy Caballero sudah mengenakan kostum tanding dan berdiri di pinggir lapangan.
Melihat nomor punggungnya di papan pergantian pemain, Kepa bukannya berjalan mendekati Caballero. Dia tetap berdiri di lapangan dan menunjukkan gestur menolak, meski David Luiz dan wasit sudah membujuknya. Sarri pun terlihat kecewa, bahkan sempat memukul-mukul bangku cadangan sebelum ngeloyor melalui lorong pemain.
Insiden tersebut sebetulnya sudah diklarifikasi baik oleh Sarri maupun Kepa. Keduanya menyebut ada faktor kesalahpahaman karena Sarri sempat menganggap penjaga gawangnya cedera dan kiper pengganti dibutuhkan untuk adu penalti.
ADVERTISEMENT
Kendati begitu, pemberontakan Kepa yang sudah viral tetap mengundang kritik. John Terry, eks kapten Chelsea, menjadi salah satu sosok yang menyerangnya. Dia bahkan mengaku ingin memaksa Kepa keluar apabila berada di posisi Sarri.
"Sikap Kepa menciptakan situasi sulit. Saya terkejut karena Sarri tak memaksanya keluar," ucap Terry kepada Sky Sports.
Caballero ketika disiapkan jadi pengganti Kepa. Foto: Reuters/Carl Recine
Sementara itu, Vincent Kompany selaku kapten Manchester City mengatakan kepada Associated Press, "Saya tidak pernah melihat hal seperti itu sebelumnya. Kalau tahu bisa begitu, saya juga pasti melakukan hal serupa kalau hendak diganti."
Pemberontakan Kepa memang tergolong langka. Karena dalam kondisi normal, seorang pemain pasti tunduk terhadap instruksi pelatih di lapangan.
Bukan berarti tak ada sama sekali. Berikut ini, kumparanBOLA coba menyajikan sejumlah kasus serupa. Silakan.
ADVERTISEMENT
Lukasz Fabianski
Kisah paling menyerupai Kepa adalah perlawanan Lukasz Fabianski ketika membela Swansea City pada pertandingan Premier League 2016/17. Dalam pertandingan di Liberty Stadium itu, Swansea sempat unggul 1-0 atas Tottenham Hotspur.
Sebuah alarm untuk pelatih The Swans, Paul Clement, muncul pada menit ke-81. Fabianski tumbang gara-gara berbenturan dengan penyerang Spurs, Vincent Janssen. Kristoffer Nordfeldt selaku kiper cadangan pun bersiap ketika tim medis tengah menangani Fabianski.
Meski merasa tak nyaman di bagian rusuknya, Fabianski melanjutkan pertandingan. Keputusannya memang jitu. Empat menit berselang, penjaga gawang Polandia ini melakukan penyelamatan heroik terhadap bola tandukan Dele Alli. Penonton di stadion pun semakin yakin bahwa Fabianski tidak apa-apa.
Anggapan tersebut hanya bertahan semenit. Fabianski malah mengangkat tangan ke arah bangku cadangan, seolah-olah minta diganti. Dari situlah, Clement meminta pergantian dan tampak nomor punggung 1 miliki Fabianski di papan.
ADVERTISEMENT
Lagi-lagi Fabianski merasa mampu bertahan. Dia berteriak, "Tidak, tidak." Clement dan Nordfeldt sempat menunggu beberapa saat sebelum sang juru taktik akhirnya membatalkan pergantian.
Fabianski di laga menghadapi Chelsea. Foto: Reuters/Peter Cziborra
Dari momen itulah, para pemain Spurs menangkap ada yang tak beres menyoal kondisi Fabianski. Mereka coba memanfaatkannya dengan meningkatkan intensitas tembakan. Toby Alderweireld yang notabene seorang bek saja berani melepaskan spekulasi.
Sementara itu, keputusan Fabianski untuk bertahan terbukti salah kali ini. Kurun 10 menit sampai menit kelima injury time, hujan tembakan dari pemain Spurs berujung tiga gol yang bersarang di gawangnya. Dele Alli, Son Heung-min, serta Christian Eriksen sukses menuliskan namanya di papan skor.
Les Sealey
Pemberontakan kiper di final Piala Liga Inggris juga sempat terjadi pada edisi 1991. Saat itu, Manchester United bersua Sheffield Wednesday yang berasal dari kompetisi level kedua tersebut.
ADVERTISEMENT
Aktornya adalah Les Sealey. Dia sudah menderita sekali kemasukan lewat gol John Sheridan pada menit ke-37. Semakin sulit posisi kiper berkebangsaan Inggris itu karena mengalami cedera saat waktu normal menyisakan 12 menit.
Jim McGregor, fisioterapis United yang memeriksa Sealey, mengusulkan pergantian kepada pelatih Alex Ferguson. Namun, sang penjaga gawang menolak.
Alasannya cukup logis. Setiap tim hanya boleh membawa dua pemain cadangan untuk laga Piala Liga Inggris ketika itu. Mike Phelan telah masuk menggantikan Neil Webb pada menit ke-55. Tersisa Mal Donaghy yag merupakan pemain belakang sebagai pilihan untuk menggantikan Sealey.
Dampaknya yang buruk. Saat tim tengah menanti pesawat di Bandara Heathrow, London, Sealey tumbang dan tim medis melarikannya ke Rumah Sakit Middlesex. Di situ, dokter melakukan operasi darurat.
ADVERTISEMENT
Sealey tak lama-lama di ruang perawatan. Hanya tiga pekan berselang, dia sudah kembali merumput dalam laga final Piala Winners menghadapi Barcelona. Kali ini, dia merasakan sukacita mengangkat trofi lantaran United menang 2-1.
Jasper Cillessen
Kalau kasus Kepa, Fabianski, serta Sealey menyoal kondisi tubuh, kisah pergantian Jasper Cillessen menyangkut kebutuhan taktik Timnas Belanda. Pada Piala Dunia 2014 lalu, pelatih Louis van Gaal menarik keluar sang kiper menjelang babak adu penalti di laga perempat final menghadapi Kosta Rika.
Bukan tanpa dasar keputusan tersebut. Rapor Cillessen menyoal duel penalti sungguh buruk. Sebelum pertandingan itu, dia sudah menghadapi 13 penalti dan tak mampu menghentikan satu pun. Maka dari itu, Van Gaal lebih memilih Tim Krul untuk babak tos-tosan.
ADVERTISEMENT
Tim Krul menggantikan Jasper Cillessen saat Timnas Belanda mengarungi Piala Dunia 2014. Foto: Evaristo Sa/AFP
Cillessen memang tidak menolak seperti halnya Fabianski dan Sealey, tetapi ia tidak menyembunyikan kekesalannya. Meski awalnya tak menunjukkan ekspresi aneh, sekadar menuju penggir lapangan dan memeluk Krul selaku penggantinya, tetapi dia langsung menendang ember air di sekitar bangku cadangan Timnas Belanda.
"Saya tidak mendapatkan pemberitahuan. Saat melihat Krul melakukan pemanasan, saya hanya berasumsi bahwa itu hanyalah langkah antisipatif apabila terjadi sesuatu kepada saya," tutur Cillessen selepas laga.
"Namun, saya ingin mengajukan permintaan maaf. Saya sudah melakukannya kepada Frans Hoek (pelatih kiper Belanda) dan seluruh skuat," ujarnya.
Pantaslah Cillessen meminta maaf. Dia juga seharusnya patut berterima kasih kepada Krul yang tampil apik dan mengantarkan Belanda melaju ke semifinal.
Situasi adu penalti juga terulang saat Belanda berjumpa Argentina di babak empat besar. Sayang buat Belanda karena Van Gaal telah menghabiskan jatah pergantian. Alhasil, Cillessen melakoni babak adu penalti dan menderita empat kemasukan. Belanda pun tersingkir.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan