kumparan
26 September 2018 14:18

Napoli vs Parma: Sisi Kanan yang Rentan

Parma
Selebrasi pemain-pemain Parma atas gol Federico Dimarco di laga melawan Inter. (Foto: Getty Images/Emilio Andreoli)
Keberadaan Parma di Serie A musim 2018/19 ini adalah sebuah bukti bahwa Roberto D'Aversa merupakan sosok yang tahu bagaimana caranya melewati ketidakmungkinan. Setiap kali dihadapkan pada situasi demikian, D'Aversa tak pernah ciut. Justru, dari sinilah kekuatannya, serta tim asuhannya, berasal.
ADVERTISEMENT
Jelang menghadapi juara Italia tujuh kali beruntun, Juventus, D'Aversa berkata bahwa tak ada yang mustahil bagi Parma. Meski di pertandingan itu Parma kalah 1-2, mereka menunjukkan performa yang boleh dibilang mengejutkan.
Parma memang kalah telak dari segi penguasaan bola (34% berbanding 66%), tetapi dari sana mereka sanggup mencatatkan 11 tembakan, dengan 4 di antaranya mengarah ke gawang. Sebagai perbandingan, Juventus saat itu hanya mampu melepas 6 tembakan tepat sasaran.
Seharusnya, mustahil bagi Parma untuk bisa memberi perlawanan sehabat itu pada Juventus. Namun, nyatanya justru tidak ada yang mustahil. Apa yang terjadi sejalan dengan perkataan D'Aversa.
Kekalahan dari Juventus itu adalah kekalahan kedua Parma dalam tiga pertandingan pertamanya. Kekalahan pertama mereka derita dari SPAL, sementara satu hasil imbang mereka raih saat menghadapi Udinese di pekan pertama. Sejak kalah dari Juventus, Parma sudah menjalani dua pertandingan lagi dan hasilnya, enam poin berhasil mereka kemas.
ADVERTISEMENT
Yang menarik, salah satu kemenangan itu diraih Parma atas Internazionale. Meski harus bermain tandang ke Giuseppe Meazza dan menerima bombardir tanpa henti dari para penggawa Nerazzurri, Parma berhasil pulang dengan tiga angka berkat tendangan spektakuler Federico Dimarco yang, ironisnya, ia merupakan pemain pinjaman dari Inter. Di pertandingan berikutnya, giliran Cagliari yang jadi korban Parma.
Dengan dua kemenangan dari lima pertandingan, Parma saat ini berhak untuk duduk di posisi sepuluh klasemen sementara, di atas tim-tim seperti Milan, Roma, serta Atalanta. Namun, ujian berat akan kembali mengadang mereka di pekan keenam. Pada Kamis (27/9/2018) dini hari WIB, Parma bakal bertamu ke San Paolo untuk meladeni tuan rumah Napoli.
Seperti halnya saat menghadapi Juventus dan Inter, pada laga ini Parma akan kembali berperan sebagai David dalam duel melawan Goliath. Secara historis, Parma memang pernah berada di atas Napoli. Akan tetapi, situasinya kali ini benar-benar lain. Napoli saat ini berada di posisi kedua klasemen, terpaut tiga poin dari Juventus, dan menunjukkan bahwa capaian mereka musim lalu bukanlah kebetulan belaka.
ADVERTISEMENT
Di bawah Carlo Ancelotti, Napoli memang belum semeyakinkan kala masih diasuh oleh Maurizio Sarri. Setidaknya, dari segi permainan demikianlah adanya. Kekalahan Napoli di tangan Sampdoria menjadi bukti bahwa ada yang belum bekerja dari sistem permainan Ancelotti, di mana Napoli begitu rentan terhadap serangan balik, khususnya yang dilancarkan dari sektor tengah.
Namun, empat kemenangan dari lima pertandingan adalah bukti lain bahwa Napoli besutan Ancelotti ini sama mematikannya dengan Napoli milik Sarri. Memang benar bahwa permainan mereka belum terlalu impresif, tetapi dengan begitu pun mereka tetap sanggup meraih banyak poin. Artinya, dalam taraf tertentu, Napoli yang ini bisa jadi lebih matang dan lebih berbahaya ketimbang Napoli musim lalu.
Tak seperti Sarri, Ancelotti tak lagi memainkan Dries Mertens sebagai penyerang tengah. Di bawah Don Carlo, Arkadiusz Milik-lah yang dipercaya untuk jadi penggedor utama pertahanan lawan. Namun, sesungguhnya penyerang Polandia itu bukanlah eksekutor utama.
ADVERTISEMENT
Carlo Ancelotti
Ancelotti siap bawa Napoli melangkah jauh di Liga Champions. (Foto: REUTERS/Ciro De Luca)
Meski bermain sebagai ujung tombak, Milik sebenarnya hanyalah poros yang ditempatkan di area pertahanan lawan untuk mengoptimalkan kemampuan para pemain lini kedua. Produktifnya Lorenzo Insigne dan Piotr Zielinski adalah bukti keberhasilan sistem baru milik Ancelotti ini.
Sejauh ini, Insigne sudah mencetak 4 gol untuk Napoli, sementara Zielinski punya koleki 2 gol. Yang menarik, dua pemain itu justru belum mencatatkan assist sama sekali, sementara Milik telah mengemas satu.
Dari catatan tembakan per gim juga bisa terlihat bagaimana sistem ini bekerja. Insigne sebagai penyerang lubang bisa membuat 5 tembakan per gim. Sedangkan, jumlah tembakan Milik dan Zielinski -- yang bermain sebagai gelandang kiri -- hampir sama. Milik punya 2,5 tembakan per laga, Zielinski 2,4.
ADVERTISEMENT
Sistem ini sendiri dijalankan Ancelotti dalam pakem dasar 4-4-1-1. Saat menyerang, formasi ini berubah menjadi 4-1-4-1 di mana Allan Marques, Zielinski, Insigne, dan Jose Callejon menjadi gelandang serang sejajar di belakang Milik. Di belakang mereka, ada Marek Hamsik yang menjadi semacam quarterback,
Dengan formasi seperti ini, Napoli memang jadi lebih lugas dalam menyerang ketimbang pada era Sarri. Menurut catatan WhoScored, persentase penguasaan Napoli (53,6%) hanya ada di urutan keenam di Serie A. Namun, dari situ mereka tetap mampu menciptakan banyak peluang, di mana tembakan per laga yang mereka catatkan ada di angka 18, sama dengan Milan dan Roma serta hanya kalah dari Juventus (23).
Secara perlahan, identitas permainan Napoli di bawah Ancelotti semakin terbentuk. Selain itu, apabila rencana permainan ini tidak bekerja, Napoli masih memiliki senjata lain di bangku cadangan dalam diri Mertens. Pemain asal Belgia itu menjadi andalan utama di bawah Sarri, tetapi harus mengalami reduksi peran bersama Ancelotti. Akan tetapi, Mertens sejauh ini tetap mampu menunjukkan kontribusi apik lewat satu gol dan satu assist-nya.
ADVERTISEMENT
Napoli vs Fiorentina
Bartlomiej Dragowski gagalkan upaya Insigne menjebol gawang Fiorentina. (Foto: REUTERS/Ciro De Luca)
Pada pertandingan menghadapi Parma nanti, Napoli seharusnya bisa diperkuat oleh pemain-pemain terbaiknya, minus bek kiri Faouzi Ghoulam yang mengalami cedera panjang. Namun, ada selentingan kabar yang menyebutkan bahwa Ancelotti akan menggunakan pertandingan ini sebagai ajang untuk menguji coba Fabian Ruiz sebagai pendamping Allan di lini tengah. Atau, dengan kata lain, di sini Ancelotti bisa saja kembali membangkucadangkan Hamsik.
Parma, sementara itu, bakal turun dengan kekuatan penuh, seperti yang dikatakan D'Aversa dalam konferensi pers prapertandingan. Artinya, mereka bakal kembali memainkan pakem dasar 4-3-3 dengan pemain-pemain macam Leo Stulac, Luca Rigoni, Gervinho, serta Roberto Inglese.
Meski bermain dengan formasi 4-3-3 yang identik dengan penguasaan bola, Parma sama sekali tidak peduli akan hal itu. Di tangan D'Aversa, formasi suci milik Johan Cruyff itu diubah menjadi formasi defensif yang begitu mematikan dalam serangan balik. Bukti teranyar, dalam pertandingan kontra Cagliari, Parma hanya mencatatkan 28% penguasaan bola, tetapi unggul dalam urusan mengancam gawang lawan (18 tembakan berbanding 16).
ADVERTISEMENT
Apa yang ditunjukkan Parma saat melawan Cagliari itu sebenarnya sudah mereka tampilkan kala menghadapi Juventus dan Inter. Akan tetapi, ketika menghadapi dua raksasa tersebut, apa yang ditampilkan Parma tidak terlihat sebagai sebuah identitas, melainkan sebuah cara untuk bertahan hidup. Ternyata, dari laga melawan Cagliari terlihat bahwa identitas Parma adalah kemampuan bertahan hidup mereka itu.
Satu hal yang paling menonjol dari Parma asuhan D'Aversa adalah bagaimana mereka mampu mengoptimalkan kemampuan individual para pemain ofensif mereka, khususnya Gervinho. Gol ala George Weah yang dicetak Gervinho ke gawang Cagliari adalah bukti nyatanya.
Di laga menghadapi Juventus dan Inter, eks pemain Arsenal dan Roma itu sudah menunjukkan kebolehannya dalam melakukan aksi individual, tetapi itu semua baru terwujud secara konkret saat menghadapi Cagliari. Nah, di sini, Napoli kudu benar-benar waspada. Sebab, pada laga melawan Sampdoria, mereka menelan kekalahan karena gagal mencari solusi atas performa individual Fabio Quagliarella dan Gregoire Defrel.
ADVERTISEMENT
Meski demikian, Parma pun memiliki kelemahan yang sangat bisa dieksploitasi oleh Napoli. Kekalahan mereka dari Juventus menunjukkan kelemahan Parma dalam bertahan dari serangan-serangan sayap.
Kebetulan, Napoli adalah salah satu tim yang begitu tajam dalam melakukan itu. Keberadaan Zielinksi di kiri membuat Napoli begitu berbahaya dari sisi itu dan kebetulan lagi, sisi itu adalah sisi tempat Gervinho beroperasi yang membuat perlindungan terhadap full-back Simone Iacoponi menjadi minim. Dari sinilah gol Blaise Matuidi yang jadi gol kemenangan Juventus itu lahir.
Dengan demikian, sisi kanan pertahanan Parma itu akan menjadi titik krusial. Di satu sisi, Napoli bakal coba mengeksploitasi sisi itu karena ketiadaan Gervinho dalam aksi-aksi defensif, di sisi lain Parma pun bakal menggunakan Gervinho sejadi-jadinya untuk mengeksploitasi ruang yang ditinggalkan Mario Rui untuk membantu Zielinski.
ADVERTISEMENT
Secara keseluruhan, Napoli tentu saja bakal lebih diunggulkan. Apalagi, mereka akan bermain di hadapan publik sendiri. Namun, Parma sudah menunjukkan bahwa mereka tahu caranya keluar dari situasi sulit dan mentalitas itulah yang sama sekali tidak boleh diabaikan oleh Napoli.
=====
Parma akan bertamu ke markas Napoli, Stadio San Paolo, dalam laga Serie A pekan keenam, Kamis (27/9/2018) dini hari pukul 02:00 WIB.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan