kumparan
1 Nov 2018 14:54 WIB

Piala AFF 2007: Memori Tak Menyenangkan Bagi Timnas dan Peter Withe

Timnas Indonesia (Foto: BAY ISMOYO/AFP)
Internal Timnas Indonesia agak goyah di Piala AFF 2007. Sang juru taktik, Peter Withe, dituding tebang pilih dalam menentukan starting XI. Menurut isu yang mencuat saat itu, pelatih asal Inggris tersebut memasukkan 'kedekatan' ke dalam indikator untuk menjadi starter.
ADVERTISEMENT
Dari rekam jejak, modal Timnas sudah begitu dekat dengan kata ideal untuk menjadi kampiun. Lima edisi terakhir turnamen dua tahunan se-Asia Tenggara itu, Timnas menembus semifinal. Bahkan, pada tiga gelaran teraktual selalu menapaki final.
Karena serangkaian capaian yang tergolong positif, PSSI menargetkan gelar juara. Withe dituntut memasukkan trofi Piala AFF untuk kali pertama ke dalam kabin Timnas.
Untuk merealisasikan misi besar itu, Withe memadupadankan pemain senior dan junior. Ia memanggil 11 pemain yang sukses mengantarkan Timnas menjejak final Piala AFF 2004, seperti Hendro Kartiko, Ismed Sofyan, Ilham Jaya Kesuma, dan Ponaryo Astaman.
Pria kelahiran Liverpool itu juga menyertakan pemain muda bertalenta macam Atep dan Eka Ramdani. Berangkat dari perpaduan itulah semangat tinggi menaungi skuat 'Garuda'. Ada sosok vokal yang bisa membakar spirit dan pemain muda yang memiliki letupan ambisi besar.
ADVERTISEMENT
Dominasi pemain lama membuat Peter Withe enggan mengganti skema 4-4-2. Formasi yang menjadi kunci keberhasilan Peter Withe membawa Timnas melaju ke final Piala AFF 2004.
Dalam pola tersebut, Ilham Jaya Kusuma dan Bambang Pamungkas menjadi tumpuan Peter Withe di lini depan Timnas. Itu terlihat dalam starting XI partai pertama fase grup melawan Laos.
Namun, kedua striker itu gagal menunjukkan ketajaman. Dalam laga yang berlangsung di National Stadium, Kallang, Singapura, itu Timnas menang 3-1 melalui lesakan Atep (51' dan 75') serta Saktiawan Sinaga (67').
Jika merujuk pada kualitas Laos saat itu, hasil tersebut tergolong butut. Karena Singapura dan Vietnam, yang menjadi pesaing Timnas di Grup B, bisa mendulang gol lebih banyak. Singapura, misalnya, menang 11-0 atas Laos. Sedangkan, Vietnam mengandaskan Laos dengan skor 9-0.
ADVERTISEMENT
Video
Pada laga kedua melawan Vietnam, Timnas bermain 1-1. Hasil imbang itu bahkan diraih dengan susah payah lewat gol Saktiawan di pengujung laga. Timnas tertinggal 0-1 dari Vietnam setelah Supardi Nasir mencetak gol bunuh diri pada menit ke-35.
Hasil tersebut membuat posisi Timnas di klasemen terhimpit. Harapan melaju ke babak selanjutnya tak cuma ditentukan oleh kaki sendiri, tetapi juga nestapa tim lain. Maka itu, skuat asuhan Withe wajib mengalahkan tuan rumah, Singapura, di partai pamungkas.
Jika imbang, langkah Timnas ditentukan oleh hasil Vietnam vs Laos. Sejumlah skenario mencuat. Pertama, Laos mesti mengalahkan Vietnam. Opsi ini bisa dikatakan mustahil karena kualitas kedua tim yang tergolong jauh. Oleh karena itu, Timnas berharap Vietnam tak menang dengan surplus 3 gol.
ADVERTISEMENT
Yang terjadi adalah Timnas bermain imbang 2-2 dengan Singapura. Dan Vietnam menang telak 9-0 atas Laos. Timnas pun tersingkir di fase grup untuk kali pertama sejak 1996 karena kalah produktivitas gol dari Singapura dan Vietnam.
Kegagalan tersebut menghadirkan kambing hitam, yakni Peter Withe. Itu karena keputusan Peter Withe yang terus memasang Ilham sejak awal turnamen. Padahal, saat itu, Ilham dinilai sudah habis atau ketajaman ia telah menumpul. Nada-nada sumbang terkait hubungan keduanya berdentum.
Peter Withe (Foto: Justin Jin/REUTERS)
PSSI merespons hasil minor tersebut dengan memecat Withe. Langkah itu dipijak PSSI karena Timnas mesti mempersiapkan diri menatap Piala Asia 2007. Dan enam bulan adalah waktu yang dimiliki Timnas untuk berbenah dan memperkuat skuat.
ADVERTISEMENT
Tak berselang lama, PSSI mengutus Ivan Venkov Kolev untuk menukangi Timnas. Dalam waktu singkat, Kolev mampu membuat Timnas bertaji. Hal tersebut tercermin dari kiprah Timnas di Piala Asia.
Memang, Timnas gugur di fase grup setelah keok 0-1 dari Korea Selatan di laga pamungkas, tetapi performa Timnas cukup mengesankan. Terlebih pada partai pertama babak penyisihan grup, Timnas berhasil menekuk Bahrain dengan skor 2-1. Kemenangan tersebut tergolong mengejutkan karena sebelumnya Timnas tak pernah diperhitungkan.
Piala AFF 2007 tak cuma menghadirkan memori tak menyenangkan bagi Timnas , tetapi juga untuk Withe. Eks pelatih Thailand itu untuk kali pertama mengakhiri Piala AFF di fase grup setelah pada tiga edisi sebelumnya ia selalu membawa tim besutannya melaju ke partai final.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan