kumparan
11 Mei 2018 19:39 WIB

Piala Dunia 1998: Di Prancis, Kroasia Keluar dari Bayang-bayang Perang

Timnas Kroasia di Piala Dunia 1998. (Foto: JACQUES DEMARTHON / AFP)
Lima jam sebelum Timnas Kroasia mengalahkan Jerman di babak perempat final Piala Dunia 1998, pelatih Kroasia, Miroslav Blazevic, menerima surat lewat faksimile dari ahli astrologi personalnya di Zagreb.
ADVERTISEMENT
Surat itu dibacakan oleh salah satu staf kepelatihan Timnas Kroasia saat itu, Darko Tironi. Isinya: Berti Vogts dan 11 pemain Jerman akan menghadapi masalah besar.
Mengapa astrologi? Karena umat manusia di dunia ini bisa dibagi dalam dua kelompok besar, mereka yang percaya astrologi dan mereka yang enggan percaya pada astrologi. Blazevic masuk dalam golongan yang pertama.
Selain sepak bola, ada empat hal yang disukai Blazevic: rokok, cokelat, semangka, dan astrologi. Untuk kali ini, percaya atau tidak percaya, apa yang disampaikan oleh astrolog personalnya itu jadi kenyataan.
Empat puluh menit setelah laga berjalan, bek Jerman, Christian Woerns, diganjar kartu merah. Hukuman ini menjadi momentum penting bagi Kroasia untuk memperkuat fakta bahwa mereka memang bukan tim penggembira.
ADVERTISEMENT
Terlebih, ini kali pertama mereka ikut berpartisipasi dalam Piala Dunia. Tujuh tahun sebelum Piala Dunia 1998, Kroasia resmi merdeka dari Yugoslavia.
Presiden Kroasia saat itu, yang juga merupakan seorang penggila sepak bola, Franjo Tudjman, sampai ikut terbang ke Prancis. Sebelum laga yang digelar pada Sabtu malam itu, ia mengajak seluruh tim makan siang bersama.
Slaven Bilic, salah satu penggawanya, berkata demikian, “Ia mencerabut semua beban yang menancap di pundak kami. Katanya waktu itu, kami sudah menjadi satria bagi Kroasia.”
Hanya karena Kroasia baru pertama kali bertanding di Piala Dunia 1998, bukan berarti mereka datang sebagai anak bawang dengan langkah lunglai. Mereka tampil perkasa sejak babak grup. Mendapat tempat di Grup H, Kroasia berebut tempat ke babak knock out melawan Argentina, Jamaika, dan Jepang.
ADVERTISEMENT
Dari tiga pertandingan grup, Kroasia hanya sekali menelan kekalahan. Itupun cuma kalah tipis 0-1 dari Argentina. Dua laga lain ditutup dengan kemenangan. Jepang, menjadi tim yang tak berhasil meloloskan diri dari gempuran di babak grup.
Serupa dengan kemenangan-kemenangan di babak grup, Kroasia juga mengalahkan Romania di fase knock out dengan skor tipis. Waktu itu, gol tunggal Davor Suker dari titik putih di menit 47 menjadi awal dari keberhasilan Kroasia menyegel tiket ke babak perempat final.
Ada banyak penyaksi yang mengakui bahwa Kroasia bertanding sebagai tim yang percaya diri di Piala Dunia 1998 itu. Bukan kepercayaan diri yang kosong, tapi kepercayaan diri yang berpondasikan tempaan hidup yang tak mudah.
ADVERTISEMENT
Kroasia bukan sekadar percaya diri, tapi tangguh. Ketangguhan Kroasia bukan perkara yang datang dalam satu atau dua malam.
Penyerang mereka, Petar Krpan, misalnya. Sebelum membela Timnas, ia sudah terlebih dulu membela Kroasia melawan pasukan Serbia dalam konflik negara yang mencapai periode paling intensnya sejak tahun 1991 hingga 1995. Konflik itu perkara serius karena menghilangkan nyawa 20.000 orang Kroasia.
Aljosa Asanovic, dalam satu wawancaranya, pernah menyebutkan bahwa ia kehilangan dua orang sahabatnya. Sementara, saudara laki-laki salah seorang bek mereka, Igor Stimac, tewas saat membela negaranya dalam konflik ini.
“Kalau sepak bola saja masih bisa tetap hidup, maka kami juga bisa hidup. Saya pikir, kami menjadi orang-orang yang lebih kuat di atas lapangan karena berhasil melalui masa-masa sulit itu.”
ADVERTISEMENT
“Kalau berperang saja kami tak takut, masa kami harus takut bertanding di atas lapangan hijau?” seperti itu Stimac menjelaskan dalam wawancaranya bersama Jere Longman untuk The Newyork Times tentang apa yang sebenarnya menjadi kekuatan timnya.
Kroasia sendiri sebenarnya tak baru-baru amat di ranah kompetisi sepak bola dunia. Empat orang pemain mereka di skuat Piala Dunia 1998 itu merupakan bagian dari skuat Timnas Yugoslavia di Piala Dunia U-20 tahun 1987. Sementara, lima orang di tim itu juga bermain untuk Timnas Yusgoslavia di Piala Dunia 1990.
Blazevic dan pasukannya di Piala Dunia 1998. (Foto: PATRICK HERTZOG / AFP)
Skuat ini diisi oleh pemimpin-pemimpin di klubnya masing-masing. Suker yang di gelaran Piala Dunia di Prancis itu dinobatkan sebagai pencetak gol terbanyak berkat raihan enam golnya sudah tercatat sebagai penggawa Real Madrid.
ADVERTISEMENT
Pada musim 1997/1998, Suker ikut membantu Madrid merebut gelar juara Liga Champions dengan empat golnya. Pun dengan Alen Boksic yang ikut mengantarkan Juventus merebut scudetto musim 1996/1997, walaupun saat itu ia sudah hijrah ke Lazio.
Zvonimir Boban dipandang sebagai sosok petarung di klubnya saat itu, AC Milan. Bahkan sebelum hijrah ke Milan pada tahun 1991, Boban dikenal sebagai pesepak bola yang melebih sosok nabi di klub terdahulunya, Dinamo Zagreb.
Sebabnya, Boban bahkan tak segan membela suporter klubnya. 13 Mei 1990, dalam gelaran Liga Yugoslavia, Dinamo Zagreb suporternya didominasi oleh orang-orang Kroasia bertanding melawan Red Star Belgrade, klub yang suporternya merupakan orang-orang Serbia.
Pertandingan tak cuma jadi pertandingan biasa. Dalam konflik antarsuporter, Boban menendang seorang polisi Yugoslavia yang hendak menangkap suporter Zagreb.
ADVERTISEMENT
Tindakan ini dibayar mahal oleh Boban. Ia tak diizinkan bertanding di Piala Dunia 1990. Namun, selalu ada kehormatan di balik harga yang mahal: Seketika, Boban menjadi pahlawan nasional Kroasia.
"Di sini, saya menjadi sosok yang mempersiapkan diri mempertaruhkan hidup, karier, dan segala ketenaran yang sudah saya miliki. Semuanya berkat satu hal, untuk satu kepentingan: kepentingan Kroasia," tegas Boban menyoal insiden tersebut.
Tendangan ini tak hanya melahirkan hukuman bagi Boban, tapi mitos soal Perang Kemerdekaan Kroasia. Katanya, tendangan inilah yang menjadi pemicu awal perang. Beruntung, Simon Kuper, lewat esainya yang berjudul Political Football: Zvonimir Boban (tayang tahun 2004) berhasil mematahkan mitos tadi.
Video
Menurut Kuper, tindakan politikuslah yang menjadi pemicunya. Kalaupun nama Boban kerap disebut, ia tak lebih dari sekadar tunggangan.
ADVERTISEMENT
Blazevic waktu itu melatih Timnas Kroasia saat berusia 63 tahun. Di kalangan pesepak bola, ia dikenal sebagai sosok yang eksentrik. Di awal tahun 1980-an, ia melatih Dinamo Zagreb. Kala itu, ia tampil sebagai pelatih yang gemar mengenakan syal putih.
Sementara, di gelaran Piala Dunia 1998 itu, ia kerap memasuki pertandingan dengan membawa topi gendarme (topi yang biasa dikenakan oleh polisi Prancis -red) sebagai bentuk penghormatan kepada polisi Prancis yang koma akibat bentrokan dengan hooligans Jerman di awal-awal turnamen.
Sebelum mengawal Kroasia di Piala Dunia 1998, Blazevic juga terkenal sebagai pelatih Nantes. Namun, nama baiknya tercemar pada tahun 1995 akibat dugaan terlibat skandal kecurangan dalam pertandingan melawan Olympique Marseille. Kala itu, ia sempat dipenjara selama dua minggu. Untungnya, ia dibebaskan tanpa tuntutan apa pun.
ADVERTISEMENT
Serusak apa pun nama Blazevic di Prancis, ia tetap pujaan sepak bola Kroasia. Sejak berlaga di Piala Eropa 1996, Blazevic sudah berkata kepada anak-anak asuhnya bahwa mereka adalah tim terbaik di dunia. Bagi anak-anak didiknya, Blazevic tampil sebagai pelatih yang tahu kapan bicara dan kapan tutup mulut. Ia selalu menemukan kata-kata yang membakar semangat tim.
“Tadinya, kami tertawa saat Blazevic mengucapkan kata-kata tadi. Kata-katanya seperti lelucon. Namun, sekarang, kami tak lagi tertawa. Kami sadar, kami berhak untuk menjadi tim yang mengisi posisi empat besar di Piala Dunia ini,” seperti itu pengakuan Bilic menjelang laga perempatan tempat ketiga melawan Belanda.
Kroasia tak sekadar menjadi tim kuda hitam, tapi kuda hitam yang ganas. Jerman yang perkasa itu berhasil disingkirkan dengan skor telak 3-0 di babak perempat final. Satu gol Robert Jarni di babak pertama dilanjutkan dengan gol Goran Vlaovic di menit 80. Lantas, Suker hanya butuh lima menit dari gol kedua tadi untuk memastikan Kroasia melangkah ke babak semifinal dengan kemenangan 3-0 atas Jerman.
ADVERTISEMENT
Seantero Kroasia bersorak. Presiden mereka yang tetap tinggal di Prancis menyaksikan laga tersebut langsung masuk ke ruang ganti begitu peluit panjang dibunyikan. Di hadapan tim, ia berjingkrak-jingkrak layaknya bocah yang bertemu dengan cosplay pahlawan super kesukaannya. Di depan wajah para penggawa Timnas ia berseru, laga semifinal di hari Minggu bakal mereka tutup dengan kemenangan.
Suker merayakan juara ketiga di Piala Dunia 1998. (Foto: GERARD CERLES / AFP)
Sayangnya, ucapan Tudjman tak jadi kenyataan. Di semifinal mereka kalah 1-2 dari Prancis. Kepahlawanan Boban akibat tendangan itu sama masyhurnya dengan kesalahan umpan yang berhasil dimanfaatkan oleh Youri Djorkaeff untuk melepaskan umpan matang kepada Lilian Thuram yang berarti gol kemenangan Prancis di laga tersebut.
Piala Dunia 1998 berakhir pada 12 Juli 1998. Prancis menjadi raja di rumah sendiri berkat kemenangan 3-0 atas Brasil. Sehari sebelumnya, Kroasia menutup perjalanan mereka di turnamen sepak bola sejagat itu dengan kemenangan 2-1 atas Belanda yang baru saja memukau dunia lewat gol ajaib Dennis Bergkamp ke gawang Argentina di babak perempat final.
ADVERTISEMENT
Di pertandingan tempat ketiga itu, Suker kembali mencetak gol kemenangan. Kali ini di menit 35. Sebelumnya, keunggulan pertama Kroasia hadir di menit 13 berkat gol Robert Prosinecki yang sudah ikut bertanding dan mencetak gol di Piala Dunia 1990 bersama Timnas Yugoslavia dengan menenteng-nenteng darah Kroasia.
Sehari sebelum Prancis berpesta, Kroasia sudah dikalungi medali perunggu, pengukuh bahwa nama mereka ada di antara tiga negara terkuat di gelaran tahun itu. Sementara Yugoslavia, sudah hengkang di putaran kedua.
Suker merayakan gol penentu kemenangan ke gawang Belanda tadi dengan berlari merentangkan kedua tangannya, sesekali matanya terpejam. Lantas, ia dan kawan-kawannya berlari ke tepi lapangan, tepat juru potret pertandingan bersiaga mengabadikan apa-apa yang tak dapat ditangkap oleh mata telanjang.
ADVERTISEMENT
Boban mengenang medali perunggu itu. Setelah kekalahan di laga melawan Prancis itu, ia meminta maaf kepada publik Kroasia. Katanya, kesalahan itu akan selalu diingatnya, karena itulah cara terbaik baginya untuk menerima kekalahan.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan