kumparan
2 Februari 2019 21:38

Qatar Juara Asia: Karena yang Pertama Begitu Berharga

Almoez Ali melakukan selebrasi usai menjebol gawang Uni Emirat Arab. Foto: Reuters/Suhaib Salem
Piala Asia 2019 sudah resmi berakhir pada Jumat (1/2/2019) malam WIB. Dari partai final yang digelar Zayed Sports City Stadium, Abu Dhabi, lahirlah juara baru bernama Qatar. Pada laga itu Qatar sukses menundukkan Jepang dengan skor meyakinkan 3-1.
ADVERTISEMENT
Qatar, yang dalam perjalanannya ke final mampu mengalahkan tim-tim kuat macam Arab Saudi, Irak, dan Korea Selatan, tampil dengan pakem sedikit berbeda. Jika sebelum-sebelumnya mereka doyan bermain dengan formasi 4-2-3-1, kali ini pelatih Felix Sanchez Bas menerapkan skema defensif 5-3-2.
Jepang pun berhasil mendominasi penguasaan bola dan unggul dalam jumlah tembakan. Akan tetapi, Qatar lebih efisien. Lewat pressing ketat di tengah, mereka sukses membuat Jepang kalang kabut lewat serangan balik cepat. Dua dari tiga gol Qatar lahir lewat cara demikian.
Pada gol pertama, striker andalan Qatar Almoez Ali sukses mencetak gol lewat tendangan salto untuk mengakhiri serangan kilat yang dilancarkan secara berpindah dari kanan ke kiri. Pada gol kedua, Abdulaziz Hatem melepas tembakan kaki kiri keras dari luar kotak yang tak sanggup dihentikan kiper Jepang, Shuichi Gonda.
ADVERTISEMENT
Jepang lantas menipiskan ketertinggalan lewat aksi Takumi Minamino pada babak kedua. Minamino berhasil lepas dari kawalan serta perangkap offside untuk menaklukkan kiper Qatar dari jarak dekat. Namun, sepuluh menit jelang bubaran, handball Maya Yoshida membuat wasit menunjuk titik putih. Akram Hasan Afif yang menjadi algojo dengan mudah membobol gawang Jepang untuk kali ketiga.
Dari pertandingan itu ada beberapa hal menarik yang, well, patut untuk diperbincangkan. Apa saja? Simak di bawah ini.
1) Qatar Negara Kesembilan yang Juara Piala Asia
Qatar adalah juara baru dan ini merupakan catatan istimewa bagi mereka. Sebab, sebelum ini pun mereka sama sekali belum pernah mencapai babak final. Jangankan ke final, semifinal saja mereka tak pernah mampu sebelumnya.
ADVERTISEMENT
Dengan keberhasilan Qatar ini, Piala Asia sekarang sudah pernah dijuarai oleh sembilan negara. Jepang masih memegang rekor dengan empat gelar juara disusul Arab Saudi dan Iran yang sama-sama punya koleksi tiga trofi.
2) Almoez Ali dan Rekor Baru Piala Asia
Almoez Ali benar-benar tampil fenomenal pada Piala Asia 2019 ini. Golnya ke gawang Jepang itu merupakan yang ke-9 dari 7 pertandingan. Dengan demikian, striker berdarah Sudan itu punya rasio gol 1,28 gol per pertandingan. Dia pun sah menjadi topskorer turnamen, jauh mengungguli pemain-pemain lainnya yang paling banter cuma bisa bikin empat gol.
Tak cuma itu, dengan 9 golnya itu, Almoez Ali sukses memecahkan rekor Ali Daei untuk gol terbanyak dalam satu turnamen. Pada 1996, Ali Daei yang merupakan striker legendaris Iran itu mencetak 8 gol dalam satu turnamen.
ADVERTISEMENT
3) Tiga Juara Baru dalam Empat Turnamen Terakhir
Keberhasilan Qatar menjadi juara menunjukkan bahwa persebaran kekuatan sepak bola Asia semakin merata. Beberapa tim seperti Jepang dan Korea Selatan memang secara konsisten menjadi penantang serius di tiap turnamen. Akan tetapi, lahirnya juara baru adalah harapan.
Sejak Piala Asia 2007 di Indonesia, Malaysia, Vietnam, dan Thailand, ada tiga negara yang berhasil jadi juara baru. Sebelum Qatar, ada Australia (2015) dan Irak (2007) yang melakukannya.
Selain juara baru, bukti lain bahwa persebaran kekuatan sepak bola Asia kian merata adalah keberhasilan Vietnam mencapai babak perempat final. Pada 2007, mereka pernah mencapai prestasi serupa sebagai tuan rumah, tetapi pada 2011 dan 2015 mereka gagal lolos. Perempat final Piala Asia 2019 ini adalah bukti kehebatan sepak bola Vietnam saat ini.
ADVERTISEMENT
4) Kesiapan Qatar Jelang Piala Dunia 2022
Sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022, Qatar tak cuma disorot karena berbagai pelanggaran HAM yang mereka lakukan dalam proses pembangunan stadion serta infrastruktur, tetapi juga kualitas sepak bola mereka yang semenjana. Sebelum ini, Qatar tak pernah bisa melaju lebih jauh dari perempat final Piala Asia. Lolos ke Piala Dunia juga mereka belum pernah.
Timnas Qatar jelang pertandingan lawan Timnas Irak. Foto: Reuters/Suhaib Salem
Meski demikian, diam-diam Qatar selalu berprogres. Sejak 2006 mereka membenahi persepakbolaannya lewat kerja sama dengan figur-figur sepak bola Spanyol. Lewat kerja sama itu terbentuklah Aspire Academy yang jadi kawah candradimuka para pemain muda Qatar. Almoez Ali adalah mantan anak didik Aspire Academy, sementara pelatih Felix Sanchez Bas dulunya melatih di sana.
ADVERTISEMENT
Qatar sudah secara otomatis lolos ke Piala Dunia 2022 sebagai tuan rumah. Dengan progres seperti ini, mampukah mereka kembali membuat kejutan?
5) Jepang Gagal Maning, Gagal Maning
Di sepak bola Asia, Jepang masih menjadi tim yang selalu bisa mengancam siapa pun. Itu terbukti di dua gelaran level Asia terakhir di mana Jepang selalu berhasil mencapai final. Yakni, Asian Games dan Piala Asia.
Asian Games memang berbeda dengan Piala Asia karena di Asian Games yang ikut serta adalah pemain-pemain U-23. Namun, timnas level U-23 adalah timnas yang paling dekat dengan level senior sehingga kualitas pertandingan yang tersaji pun tidak kalah jauh.
Di Asian Games, Jepang dikalahkan oleh Korea Selatan pada partai final. Sementara, kali ini 'Samurai Biru' ditundukkan oleh Qatar. Meski begitu, di level dunia, Jepang tetap jadi negara Asia yang paling ditakuti. Buktinya, pada Piala Dunia 2018 lalu, Jepang jadi satu-satunya tim Asia yang lolos ke fase gugur.
ADVERTISEMENT
Jepang memang tersingkir di sana usai kalah 2-3 dari Belgia. Namun, perlawanan yang diberikan Jepang sangat luar biasa dan Belgia pun akhirnya butuh keberuntungan serta persistensi lebih untuk bisa memenangi laga.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan