kumparan
19 Oktober 2018 14:14

Reaksi Taktik Indra Sjafri Bawa Timnas U-19 Tekuk Taiwan

Egy Maulana Vikri saat Indonesia U-19 vs Chinese Taipei U-19
Egy Maulana Vikri saat Indonesia U-19 vs Chinese Taipei U-19 (Foto: Ikbal Firdaus/kumparan)
Rintangan pertama Timnas U-19 Indonesia untuk melaju ke Piala Dunia U-20 tahun depan sudah dilewati dengan baik. Menghadapi Taiwan di Piala Asia U-19, di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Kamis (19/10/2018) malam WIB, Timnas U-19 menang dengan skor 3-1.
ADVERTISEMENT
Witan Sulaeman menjadi bintang di laga kali ini. Dua gol serta satu assist kepada Egy Maulana membuat anak buah Indra Sjafri tersebut mendapatkan tiga angka perdana. Taiwan hanya mampu mencetak gol melalui kaki Wang Chung Yu pada menit ke-52.
Dengan kemenangan ini, Timnas U-19 memimpin klasemen sementara Grup A dengan tiga angka. Egy Maulana Vikri dan kolega berhasil unggul selisih gol dari tim yang berada di posisi dua yakni Uni Emirat Arab.
Ya, di hari yang sama, UEA berhasil menang atas Qatar dengan skor tipis 2-1. Kendati meraih tiga angka, permainan Timnas U-19 bukannya tanpa celah. Evaluasi harus segera dilakukan oleh Indra Sjafri menjelang laga kedua menghadapi Qatar, Minggu (21/10/2018) malam WIB.
ADVERTISEMENT
Reaksi Cepat Indra Sjafri di Babak Kedua
Pada babak pertama laga menghadapi Taiwan, Timnas U-19 sangat kesulitan untuk mencetak gol. Jangankan gol, peluang ke arah gawang saja sulit sekali dicetak oleh para penggawa 'Garuda Muda'. Catatan kumparanBOLA, Timnas U-19 baru bisa melakukan upaya ke arah gawang pada menit ke-21, itu pun melalui tendangan jarak jauh Muhammad Luthfi.
Selebihnya, pertahanan rapat dari Taiwan menyulitkan Timnas U-19. Dalam 45 menit babak pertama, pelatih Taiwan, Von Ca Nhum memainkan garis pertahanan yang sangat rendah. Bahkan, jarak gelandang dan pemain belakangnya dibuat rapat sekali.
Rapatnya pertahanan Taiwan membuat Timnas U-19 melakukan alternatif lain yakni lewat umpan silang. Namun, upaya tersebut juga sia-sia. Minimnya dukungan kepada Rafli di depan menejadi penyebab kegagalan skenario tersebut. Ya, pemain lulusan Liga Santri ini lebih banyak sendirian di kotak penalti ketika umpan silang datang. Egy dan Witan yang seharusnya melakukan bantuan lebih banyak berada di luar kotak penalti.
ADVERTISEMENT
Kerapatan itu yang membatasi ruang gerak Egy yang beroperasi tepat di bawah Rafli. Tak satu pun upaya yang dilakukan oleh pemain Lechia Gdansk ini di babak pertama. Bahkan, menurut catatan kumparanBOLA, tiga kali Egy mendapat ganjalan keras di babak pertama. Wajar saja karena saat bola berada di kaki Egy, setidaknya dua pemain Thailand datang menempel.
Selebrasi gol Witan Sulaeman di AFC U-19 Championship
Selebrasi gol Witan Sulaeman di AFC U-19 Championship (Foto: Ikbal Firdaus/kumparan)
Cerita menjadi berbeda di babak kedua. Ini tak lepas dari instruksi Indra. Menurut Egy, sang pelatih meminta para pemain untuk lebih sabar bermain agar bisa memecah pertahanan Taiwan. Tentu tak hanya sebatas itu. Fakta di lapangan, Indra Sjafri mereposisi sejumlah pemain.
Bila di babak pertama Egy dikekang di belakang Rafli, babak kedua pemain bernomor 10 ini lebih aktif. Posisinya yang lebih sejajar dengan Rafli membuat Egy jauh lebih bebas.
ADVERTISEMENT
Selain itu, Indra Sjafri juga meminta Syahrian Abimanyu untuk lebih aktif membantu serangan. Ya, di babak pertama pemain Sriwijaya FC itu sering berdiri terlalu dalam dan sejajar dengan Muhammad Luthfi.
Namun, di babak kedua pemain bernomor punggung 17 itu lebih aktif. Abi -panggilan Syahrian- sering mengisi sisi kiri serangan Indonesia. Dengan masuknya Abi ke sisi kiri membuat posisi Witan lebih fleksibel. Pemain asal Palu itu bisa bergerak bebas dan mengacaukan pertahanan Taiwan.
Nah, perubahan-perubahan ini yang tak dibaca oleh pelatih Taiwan. Akibatnya, tiga gol bisa dihasilkan oleh Timnas U-19 di babak kedua.
Lini Pertahanan Masih Jadi Titik Lemah
Di lini belakang, Timnas U-19 memang masih sangat rentan. Sebelum Piala Asia U-19, Timnas sudah menggelar empat kali uji tanding, tetapi belum cukup untuk merampungkan masalah di sektor belakang.
ADVERTISEMENT
Lihat saja bagaimana Timnas U-19 gagal mencatatkan clean sheet dalam empat laga tersebut. Buruknya antisipasi skema bola mati ditambah kesalahan-kesalahan individu menjadi catatan merah di lini belakang 'Garuda Muda'.
Nah, kelemahan itu kembali terasa saat laga menghadapi Taiwan. Kali ini, Indra Sjafri memainkan Asnawi Mangkualam, Rachmat Irianto, Nurhidayat, dan Firza Andika di lini belakang. Lalainya Rachmat Irianto dalam menyapu bola membuat pemain Taiwan leluasa merangsek ke pertahanan Timnas U-19. Melakukan umpan ke tengah, Wang Chu Yu yang sudah berhadapan dengan Muhammad Riyandhi bisa dengan mudah menceploskan bola.
Indonesia U19 vs Chinese Taipe U19 di AFC U-19 Championship, Gelora Bung Karno
Pertandingan Indonesia U19 vs Chinese Taipe U19 di AFC U-19 Championship di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)
Selain itu, garis pertahanan yang tinggi juga masih menjadi kelemahan Timnas U-19. Beberapa kali umpan-umpan terobosan bisa membelah pertahanan Timnas U-19. Beruntung bola masih lebih cepat keluar lapangan.
ADVERTISEMENT
Nah, kejadian-kejadian seperti sebaiknya diperhatikan dengan saksama oleh Indra Sjafri. Apalagi, lawan yang dihadapi pada matchday kedua memiliki kecepatan dan kekuatan di lini depan. Ya, Qatar tentu akan jauh berbeda dengan Taiwan.
Pemain-pemain Qatar akan jauh lebih tajam dan mematikan di depan kotak penalti Timnas U-19. Bila dibiarkan bukan tak mungkin malapetaka akan hadir di kubu Timnas U-19 dalam laga kedua akhir pekan nanti.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan