kumparan
9 Januari 2019 15:34

Real Madrid vs Leganes: Momentum Hapus Tren Buruk

Pemain Madrid dan Leganes berebut bola. (Foto: Reuters / Javier Barbancho)
Kamis (8/1/2019) dini hari WIB, Real Madrid akan dijajal Leganes pada leg pertama babak 16 besar Copa del Rey. Well, Madrid sebenarnya punya banyak alasan untuk memenangi laga tersebut. Selain unggul dari tradisi dan kualitas pemain, mereka juga punya rekam jejak yang oke dari klub yang baru mencicipi kompetisi La Liga sejak 2016/17 lalu itu.
ADVERTISEMENT
Tiga perjumpaan termutakhir berhasil diakhiri Madrid dengan kemenangan. Kuantitas gol yang mereka hasilkan juga terbilang tinggi karena menyentuh rata-rata 3 gol per laga. Bandingkan dengan Leganes yang hanya mampu mencetak sebiji gol di tiap pertandingan.
Pasukan Mauricio Pellegrino itu memang bermasalah soal mencetak gol. Cuma 21 kali mereka menjebol gawang lawan di pentas La Liga, terburuk bersama Real Valladolid dan Valencia. Tak berhenti sampai di situ, Leganes juga selalu gagal memetik kemenangan dalam lima laga terakhirnya.
Para pemain Real Madrid meratapi gol Santiago Cazorla pada laga kontra Villarreal. (Foto: Jose Jordan/AFP)
Namun, catatan minor itu tak lantas menipiskan kans Leganes untuk menjungkalkan Madrid nanti. Terlebih, bukan rahasia lagi bila juara bertahan Liga Champions itu sedang dalam performa jeblok. Karim Benzema dan kawan-kawan gagal menggamit poin penuh dalam dua laga terbaru, imbang dengan Villarreal dan keok dua gol tanpa balas dari Real Sociedad.
ADVERTISEMENT
Satu hal lagi yang melambungkan potensi Leganes: Keberhasilan mereka menyingkirkan Madrid pada babak perempat final Copa del Rey edisi 2017/18. Usai takluk 1-0 di leg pertama, Los Pepineros sukses mempermalukan Madrid 2-1 pada pertemuan selanjutnya di Santiago Bernabeu.
Selain punya kenangan yang buruk, Madrid juga sedang dilanda badai cedera. Ya, Santiago Solari tak bisa mementaskan Toni Kroos, Marco Asensio, Mariano, Marcos Llorente, dan juga Gareth Bale. Absennya pemain yang disebut belakangan ini yang nantinya bakal menimbulkan problem bagi Madrid.
Kegagalan Madrid dalam dua laga sebelumnya lahir karena ketiadaan Bale. Laga versus Villarreal cukup untuk dijadikan acuan. Setelah Bale ditarik keluar usai rehat karena cedera, mereka kemudian gagal mempertankan keunggulan alih-alih menambah torehan golnya.
ADVERTISEMENT
Tanpa bantuan lulusan akademi Southampton itu, Madrid cuma mampu melepaskan 2 tembakan tepat sasaran di babak kedua, 3 tembakan lebih sedikit dibanding interval sebelumnya. Peran Bale tak sekadar sebagai pelontar tembakan saja, tetapi juga memberikan ruang kepada pemain lainnya.
Gareth Bale dan Santiago Solari usai Real Madrid mengalahkan Kashima Antlers di semifinal Piala Dunia Antarklub. (Foto: REUTERS/Andrew Boyers)
Celakanya, Madrid memang tak memiliki opsi penyerang klinis lagi. Tengok laga saat mereka dibekuk Sociedad 0-2 akhir pekan lalu. Biang keladinya apa lagi jika bukan penyelesaian akhir yang buruk.
Tak ada satu pun upaya yang sukses dari total 28 tembakan yang dilepaskan Madrid. Terlepas dari penampilan ciamik Geronimo Rulli di bawah mistar gawang Sociedad, akurasi tembakan para penggawa Madrid terbilang rendah.
Benzema dan Vinicius Junior cuma mengukir persentase tembakan tepat sasaran sebesar 50%. Luka Modric yang diharapkan muncul dari lini kedua juga cuma mampu melepaskan sebiji tembakan tepat sasaran dari lima percobaan. Casemiro, Lucas Vazquez, dan Isco lebih buruk lagi karena tak ada satupun upayanya yang mengarah ke sasaran.
ADVERTISEMENT
Khusus Isco, Solari sudah seharusnya menurunkannya sebagai starter dalam duel dini hari nanti. Pasalnya, Madrid tengah kehilangan kreator serangan di area sentral seiring dengan absennya Kroos. Di antara duo gelandang lainnya, Modric dan Casemiro, Kroos merupakan pemain yang paling aktif dalam melepaskan umpan kunci. Hal itu tertuang lewat rata-rata 2 key pass yang dibuatnya pada tiap laga di La Liga--hanya kalah dari Marcelo.
Sementara untuk membantu Benzema dari sisi sayap, Vinicius bisa dijadikan pilihan. Kendati baru mengemas sebiji gol di La Liga, mantan pemain Flamengo itu akan memperkaya varian serangan melalui penetrasi dari sisi sayap.
Ketajaman, kreativitas, dan alternatif serangan amat dibutuhukan Madrid untuk melumpuhkan pertahanan Leganes. Gini-gini, mereka tergolong sebagai tim yang piawai dalam meredam agresivitas lawan.
ADVERTISEMENT
Hingga La Liga pekan 18 ini, baru 21 gol yang bersarang ke gawang mereka. Jumlah tersebut masih lebih baik daripada Madrid yang sudah kebobolan 23 kali. Adalah pakem lima bek yang jadi rahasia di balik kokohnya pertahanan Leganes.
Skema semacam ini pula yang membuat mereka sukses menaham imbang Atletico Madrid dan Sevilla, serta menjungkalkan Barcelona di paruh pertama lalu. Rahasianya adalah dengan menerapkan garis pertahanan rendah dan memaksimalkan umpan lambung untuk mencetak angka. Buktinya, 3 dari 4 gol yang disarangkan Leganes ke gawang Barcelona, Atletico, dan Sevilla berawal dari skema umpan lambung.
Para pemain Leganes merayakan kemenangan atas Barcelona di ajang La Liga 2018/19. (Foto: Ocar Del Pozo/ AFP)
Selain masalah mental, produktivitas jadi salah satu problem terbesar Madrid. Terlebih mereka bakal mentas tanpa Bale dan Kroos yang berkontribusi besar atas agresivitas dan kreativitas lini serang Madrid.
ADVERTISEMENT
Kemungkinan besar Madrid memang akan mendominasi jalannya pertandingan--meliputi lewat persentase penguasaan bola dan kuantitas tembakan. Namun, soal mencetak gol, misi Madrid tak akan berjalan mudah. Sebab Pellegrino akan menurunkan pakem lima beknya lagi, skema yang sukses membawa Leganes mencuri angka dari Barcelona, Atletico, dan Sevilla.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan