kumparan
search-gray
Bola & Sports16 Agustus 2018 19:00

Ronaldo Dihantui Tabu Sejak Era Platini

Konten Redaksi kumparan
Cristiano Ronaldo
Ronaldo bikin gol pada laga 'debut' bersama Juventus. (Foto: Reuters/Massimo Pinca)
Lampur sorot terus tertuju kepada Cristiano Ronaldo sejak memutuskan bergabung dengan Juventus pada Juli 2018. Tak terkecuali ketika publik Italia mulai meramu daftar kandidat pencetak gol terbanyak Serie A, Ronaldo hadir sebagai salah satu unggulan.
ADVERTISEMENT
Memang sulit mengabaikan nama Ronaldo dari bursa perebutan top scorer. Torehan 44 gol dari 44 partai berbagai pentas musim lalu menjadi barometer ketajaman kapten Tim Nasional Portugal ini.
Berbekal catatan itu pula, Ronaldo diprediksi akan menjadi sumber gol utama I Bianconeri. Tak peduli ada pemain subur lainnya macam Paulo Dybala. Dibandingkan dengan Ronaldo, Dybala memang tampak inferior--cuma merangkum 26 gol dari 46 pertandingan musim lalu.
Merebut predikat pencetak gol terbanyak di liga pun sudah biasa buat Ronaldo. Bersama Manchester United, dia menorehkannya satu kali di Premier League. Kemudian, dalam sembilan tahun kariernya di Madrid, sosok 33 tahun ini memenangi tiga Pichichi alias penghargaan untuk pencetak gol terbanyak La Liga.
Maka itu, Massimiliano Allegri terlihat berupaya mengekspos betapa tajam seorang Ronaldo melalui formasinya. Tengok saja uji tanding internal antara Juventus dan tim U-23 miliknya, Rabu (15/8/2018). Dalam formasi 4-2-3-1, Ronaldo berperan sebagai penyerang tunggal di depan Paulo Dybala dan menyumbangkan satu gol.
ADVERTISEMENT
Tujuannya jelas: mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari rapor tajam Ronaldo sehingga mahar 117 juta euro yang dibayarkan ke Real Madrid tidak mubazir. Kalau bisa bahkan sampai Ronaldo merebut penghargaan Capocannoniere atau pencetak gol terbanyak di Serie A.
Kendati begitu, segala fakta di atas dan plan Allegri bisa buyar apabila menimbang kiprah pemain debutan di Serie A dari musim ke musim. Tak ada satu pun pemain yang mampu merebut penghargaan Capocannoniere pada tahun perdananya di kompetisi level teratas Italia sejak 1983. Baik itu yang berpaspor Italia atau berstatus asing.
Kurun tersebut, Serie A sebetulnya menghadirkan banyak penyerang asing yang memenangi predikat pemain tertajam. Mulai dari Diego Maradona, Marco van Basten, Gabriel Batistuta, Olivier Bierhoff, Marcio Amoroso, Andriy Shevchenko, Hernan Crespo, David Trezeguet, Zlatan Ibrahimovic, sampai Edinson Cavani.
ADVERTISEMENT
Andriy Shevchenko
Shevchenko kala memperkuat Milan. (Foto: Denis Charlet/AFP)
Tiga edisi terakhir turut mengonfirmasi dominasi striker asing di 'Negeri Pizza'. Hadir Gonzalo Higuain, Edin Dzeko, dan teraktual Mauro Icardi di daftar pencetak gol terbanyak. Ada satu hal perlu digarisbawahi. Para striker asing di atas tidak merebut penghargaan bergengsi tersebut pada pada musim pertamanya di Serie A.
Ambil contoh pemain sekaliber Van Basten dan Maradona. Bergabung dengan Napoli pada 1984, Maradona membutuhkan setengah windu untuk menjadi pencetak gol terbanyak Serie A. Van Basten sebetulnya sempat digadang-gadang keluar sebagai pemain tertajam pada musim perdana di AC Milan, 1987/88, tetapi baru mewujudkannya tiga tahun berselang.
Wajar saja demikian. Sudah menjadi rahasia umum bahwa sepak bola Italia berbeda ketimbang negara-negara lainnya. Taktik dan organisasi bertahan merupakan prioritas tim-tim kebanyakan sehingga sulit buat striker pendatang baru untuk langsung tampil tajam.
ADVERTISEMENT
Ronaldo de Lima
Ronaldo de Lima di Inter Milan. (Foto: Mike Hewitt)
Tak jarang penyerang asing kaget dengan permainan keras dan 'kotor' ala bek-bek Italia. Derita Van Basten dan Ronaldo de Lima bisa jadi bukti. Van Basten cuma bisa tampil 11 kali karena cedera pada musim pertamanya. Begitu pula Ronaldo de Lima yang menghabiskan 663 di ruang perawatan selama berseragam Inter Milan.
Pengecualian hanya untuk Michel Platini. Ya, dialah yang terakhir kali merebut gelar top scorer pada musim pertamanya di Serie A. Hebatnya lagi, gelandang serang Prancis ini melakukannya tiga kali beruntun sejak mulai memperkuat I Bianconeri pada 1982/83.
Mampukah Ronaldo mengikuti jejak Platini? Atau, jangan-jangan sang bintang malah kaget dengan gaya Italia seperti penyerang asing kebanyakan sehingga ketajamannya mendadak hilang.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white