kumparan
1 Mei 2018 9:37 WIB

Sayap Patah Garuda dan Tak Adanya Penembak Jitu

Timnas Indonesia vs Timnas Korea Utara. (Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan)
Tak perlu memandang hebat Tim Nasional (Timnas) Korea Utara (Korut) di PSSI Anniversary Cup 2018. Mereka bukanlah tim yang sama ketika hanya kalah 1-2 dari Brasil pada Piala Dunia 2010.
ADVERTISEMENT
Tengok saja bagaimana kiprah mereka saat menahan Timnas Indonesia dengan skor 0-0 di Stadion Pakansari, Senin (30/4/2018). Tak ada serangan yang benar-benar menakutkan. Pertahanan mereka pun tidak sesolid ketika menerapkan 'parkir bus' dalam laga melawan Selecao delapan tahun silam.
Begitu banyak kesempatan buat pasukan Luis Milla memasuki sepertiga akhir area Korut serta melepaskan tembakan. Hanya karena kesalahan-kesalahan Ilija Spasojevic dan kolega, gawang Kim Yu Il tetap steril.
Ya, mari menyoroti bagaimana pola permainan Timnas Indonesia ketika menyerang karena untuk pertahanan, kehadiran Andi Setyo sudah memperbaiki aspek koordinasi yang lemah saat kalah 0-1 dari Bahrain di laga pertama.
Menurut pengamatan kumparan (kumparan.com), ada dua aspek yang memengaruhi Indonesia gagal mencetak gol. Berikut ini adalah selengkapnya:
ADVERTISEMENT
Febri-sentris
Pada paruh pertama, alur distribusi lini tengah Timnas Indonesia, tanpa seorang Evan Dimas sebagai 'otak', cenderung monoton. Terus-menerus bola dialirkan ke sisi kiri yang ditempati Febri Hariyadi. Sementara Saddil Ramdani di kanan jarang mendapatkan suplai. Alhasil, 'Garuda' gagal terbang karena sayapnya berat sebelah.
Distribusi intens terhadap dirinya membuat Febri mendapatkan banyak kesempatan untuk melakukan penetrasi. Pada babak pertama, Febri beberapa kali menari-nari di sisi kiri dan bahkan kerap mendapatkan ruang tembak berkat kemampuannya melakukan cut inside.
Kendati begitu, Febri terlihat berjuang seorang diri. Tanpa Rezaldi Hehanusa yang terkena skors, sisi kiri pertahanan diisi oleh Ricky Fajrin. Bek Bali United ini tidak seeksplosif Rezaldi dalam membantu serangan.
Begitu pula melihat koneksi antara Febri dan Ilija Spasojevic yang didaulat sebagai target man. Spaso --demikian sang striker naturalisasi disapa-- cenderung menunggu servis di kotak tanpa ada inisiatif turun dan melakukan kombinasi dengan Febri. Praktis Febri hanya bisa melepaskan umpan silang yang kebanyakan mampu diantisipasi pertahanan Korut.
ADVERTISEMENT
Kegagalan Indonesia menghadirkan gol melalui serangan di sisi sayap bukan hanya kegagalan pemain lain dalam mendukung Febri. Ini juga menyoal kematangan bermain dari penggawal Persib Bandung tersebut.
Ketika ada kesempatan menciptakan peluang, Febri kerap salah dalam mengambil keputusan atau kadang terlambat. Lihat saja bagaimana aksinya pada menit ke-39. Ruang cukup terbuka dan Spaso berlari tanpa kawalan, tetapi Febri telat melepaskan operan sehingga bola mampu dihalau oleh bek Korut.
Begitu pula pada paruh kedua, ketika Saddil sudah diganti oleh Osvaldo Haay. Terjadi sejumlah kans via serangan balik lantaran Korut mulai tampil menyerang. Seharusnya ini menjadi peluang buat Febri yang kencang dan Osvaldo bermodalkan kelicinannya. Penetrasi mereka malah selalu dipotong pertahanan Korut karena telat melepaskan operan ke rekan setimnya. Ini memang bukan menyoal skill, melainkan kematangan bermain.
ADVERTISEMENT
Maka itu, sebuah saran logis apabila di sosial media, suporter timnas mulai menyuarakan agar Riko Simanjuntak, yang tampil impresif bersama Persija, mengisi satu dari tiga slot pemain senior di Asian Games 2018.
Atau, Milla sebetulnya tidak perlu jauh-jauh melihat keluar. Masih ada Egy Maulana Vikri yang belum mendapatkan jatah tampil di ajang ini. Untuk laga ketiga kontra Uzbekistan, alangkah bijak Milla mencoba calon pemain Lechia Gdansk itu untuk mengeksplorasi opsi sekaligus mematangkan Egy sendiri.
Timnas Indonesia vs Timnas Korea Utara. (Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan)
Tak Ada Penembak Jitu
Dalam pertandingan pertama melawan Bahrain, Lerby Eliandry yang dipasang sebagai striker gagal melepaskan percobaan tembakan. Wajarlah setelah laga, Milla mengatakan ingin menjajal Spaso di laga kedua melawan Korut.
Spaso lebih baik dalam hal upaya. Beberapa kali pemain berdarah Montenegro tersebut mendapatkan upaya menembak, tetapi arahnya selalu melenceng alias tak satu pun on target. Ada pula peluang emas buat Spaso dalam situasi kemelut pada paruh pertama dan bola sepakannya membentur tiang.
ADVERTISEMENT
Penghamburan peluang Spaso pun koheren dengan permainan timnas secara umum. Selama 90 menit, ada 8 upaya dan cuma 2 di antaranya mengarah ke gawang. Lebih miris lagi karena 2 tembakan tepat sasaran tersebut tercipta pada babak pertama. Itu artinya, tak ada ancaman ke gawang Korea setelah jeda pertandingan.
Timnas Indonesia vs Timnas Korea Utara. (Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan)
Sulit untuk mencari solusi dari masalah di poin ini. Sebab, kebanyakan striker lokal, terutama yang berusia di bawah 23 tahun, cenderung menjadi cadangan di kompetisi Liga 1. Lerby dan Spaso sudah menjadi solusi terbaik apabila satu slot pemain senior ingin diisi oleh striker.
Mungkin yang dibutuhkan Lerby dan Spaso hanyalah waktu lebih lama bersama dengan para pemain U-23. Selama ini, keduanya kerap keluar masuk timnas. Tak pelak, terlihat jelas bagaimana Spaso kurang klop dengan Febri-Saddil di sayap atau Septian di belakangnya.
ADVERTISEMENT
Dengan lebih banyak berada di timnas, tentu konsekuensinya mengorbankan klub, Spaso mungkin bisa lebih mengintegrasikan dirinya dalam permainan tim. Dia bisa memahami bagaimana pergerakan para pemain sayap sehingga bisa melakukan kombinasi dengan mereka. Sebaliknya, para pemain sayap bisa mengetahui bagaimana servis yang disukai seorang Spaso.
Melibatkan Spaso lebih intens dalam pemusatan latihan, terutama yang digelar dalam kurun panjang, adalah solusi logis buat lini depan timnas. Tak ada lagi agenda Bali United di AFC Cup. Praktis tidak ada alasan buat 'Serdadu Tridatu' menghalangi pemanggilan Spaso.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan