kumparan
24 Agustus 2018 19:41

Sederet Kontroversi Shaun Evans: Dulu Persib, Kini Timnas U-23

Pemain Persib protes kepada wasit Shaun Evans (Foto: PT LIB)
Pupus sudah harapan Timnas Indonesia U-23 untuk melaju ke babak delapan besar Asian Games 2018. Hal itu menyusul kekalahan dari Uni Emirat Arab (UEA) lewat adu penalti 3-4 usai bermain imbang 2-2 selama 120 menit dalam pertandingan babak 16 besar di Stadion Wibawa Mukti, Jumat (24/8/2018).
ADVERTISEMENT
Namun, di balik kekalahan itu, terselip satu nama yang langsung menjadi perbincangan. Tak lain ialah Shaun Roberts Evans yang bertindak sebagai wasit antara Timnas U-23 vs UEA.
Evans dianggap tak memimpin dengan baik pada laga tadi. Sejumlah keputusannya dianggap tak menguntungkan skuat 'Garuda Muda', terutama menyoal hukuman dua penalti pada babak pertama dan kedua.
Sepanjang laga, nama Evans langsung diperbincangkan netizen. Rata-rata mereka menghujat keputusan wasit asal Australia itu.
Nama Evans sejatinya tak asing bagi pecinta sepak bola nasional. Pasalnya, wasit berlisensi FIFA ini sempat memimpin Liga 1 pada musim lalu.
Namanya bahkan sempat mencuri perhatian manakala mengambil keputusan kontroversial dalam laga Persija Jakarta vs Persib Bandung. Pada laga yang berlasung di Stadion Manahan, Solo, 3 November 2017, Evans mengambil keputusan untuk menyelesaikan laga pada menit ke-83.
ADVERTISEMENT
Keputusan itu diambil setelah pemain Persib melakukan mogok main karena tak terima pemainnya, Vladimir Vujovic, dikenai kartu merah. Sebelum hal itu, kepemimpinan Evans juga sudah mendapat sorotan karena tak mengesahkan gol Ezechiel N'douassel meski bola telah melewati garis gawang.
Loading Instagram...
Tak hanya di Liga 1, nama Evans sejatinya sudah sempat tercoreng manakala memimpin di negaranya, Liga Australia. Itu terjadi pada musim 2016 lalu ketika Evans memimpin laga antara Adelaide vs Western Sydney.
Masalah bermula ketika pemain Adelaide, Sergio Cirio, mendapat tekel keras dari lawan. Akan tetapi, Evans ketika itu hanya memberikannya kartu kuning.
Hal itu lantas membuat kubu Adelaide murka. Apalagi, Cirio menderita cedera parah akibat terjangan tersebut yang harus memaksanya menepi selama sepuluh pekan.
ADVERTISEMENT
Usai laga, Chairman Adelaide Greg Griffin melayangkan protes resmi kepada Federasi Sepak Bola Australia (FFA). Tak tanggung-tanggung, mereka meminta agar Evans tak lagi memimpin pertandingan yang melibatkan Adelaide.
Meski demikian, nasib Evans masih selamat setelah FFA menolak permintaan Adelaide tersebut. Akan tetapi, bukan berarti kontroversi Evans berhenti sampai di situ. Namanya kembali menjadi perbincangan ketika ditunjuk sebagai wasit pertama yang memimpin pertandingan A-League menggunakan sistem Video Assistant Referee (VAR).
Video
Ketika itu, Evans memimpin partai antara Sydney FC melawan Wellington Phoenix pada April lalu. Kontroversi terjadi ketika ia membutuhkan waktu hingga 30 detik untuk mengecek sebuah kejadian handball di dalam kotak penalti melalui VAR.
Berawal dari umpan silang, bola yang menuju kotak 16 dihalau bek Wellington Michael Zullo menggunakan tangannya. Melihat hal itu, pemain Sydney FC langsung mengerubungi Evans yang meminta diberikannya penalti.
ADVERTISEMENT
Kendati demikian, wasit berlisensi FIFA itu tak menggubrisnya. Bola pun dikuasai oleh Wellington yang membangun serangan. Baru ketika bola mati--30 detik kemudian--Evans meniup peluitnya untuk melihat VAR.
Setelah menerima laporan dari wasit VAR, Evans lantas menunjuk titik putih untuk Sydney FC atas handball yang dilakukan pemain Wellington di dalam kotak penalti tadi. Kali ini, gantian pemain Wellington yang protes terhadap keputusan wasit 30 tahun ini.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan