kumparan
14 Agustus 2018 16:21

Sehabis Gelap, Terbitlah Terang untuk Parma

Parma
Parma saat mengangkat trofi Piala UEFA 1999. (Foto: AFP/Boris Horvat)
"Ini pasti hanya mimpi. Ini mustahil. Betul-betul sulit dipercaya," kata Alessandro Lucarelli dengan suara bergetar. Matanya berkaca-kaca dan siapa pula yang bisa menyalahkan dirinya?
ADVERTISEMENT
Lucarelli sudah berkepala empat dan karier sepak bolanya sudah habis. Akan tetapi, petualangan berusia lebih dari dua dasawarsa itu berhasil dia tutup dengan cara yang barangkali takkan bisa dilakukan oleh siapa pun.
Tiga tahun sebelumnya, Lucarelli melakukan sebuah pengorbanan besar. Klub yang dia kapteni, Parma, harus mengulang segalanya dari titik terendah. Pemilik klub, Tommaso Ghirardi, melakukan blunder fatal dengan bisnis plusvalenza yang dilakukannya sejak mulai memimpin Parma pada 2007. Blunder itu membuat Parma gagal membayar utang sebesar 218 juta euro, termasuk 63 juta euro dalam bentuk gaji yang belum terbayar.
Plusvalenza sendiri sebetulnya merupakan bisnis menjanjikan. Secara sederhana, bisnis ini tak ubahnya bisnis 'peternakan' pemain. Sebuah klub membeli pemain muda dalam jumlah banyak, mengembangkan mereka lewat berbagai cara (termasuk meminjamkan ke klub lain), kemudian menjual para pemain itu dengan harga lebih tinggi ketimbang harga beli. Idenya seperti itu.
ADVERTISEMENT
Akan tetapi, entah karena pengamatan yang kurang jeli atau penanganan yang ala kadarnya, bisnis plusvalenza Parma itu gagal total. Pada musim 2014/15, ketika dinyatakan bangkrut hanya dalam sepuluh menit oleh pengadilan, Parma memiliki lebih dari 200 pemain yang tersebar di berbagai klub. Alih-alih menjadi ladang keuntungan, para pemain itu justru akhirnya menjadi beban bagi pihak klub.
Alhasil, duit yang semestinya bisa digunakan untuk keperluan lain jadi terfokus pada biaya pengembangan pemain itu. Parma pun menderita. Mereka bahkan sempat tak mampu membayar steward untuk mengawal pertandingan. Selanjutnya, mereka juga jadi tak memiliki sumber daya yang cukup untuk membayar biaya listrik, air, bahkan binatu. Tidak bisa tidak, Parma pun harus terdepak ke Serie D.
ADVERTISEMENT
Situasi itu tentu saja tak ideal bagi para pemain. Akhirnya, semua pemain I Ducali pun angkat kaki, kecuali Lucarelli. Adik kandung legenda Livorno, Cristiano Lucarelli, itu memilih untuk bertahan. Bek yang kala itu berusia 38 tahun tersebut berjanji untuk membawa Parma kembali ke Serie A. Akhir Mei 2018 lalu, janji itu tunai. Parma, yang kini berlaga dengan nama Parma Calcio 1913, akan berlaga di Serie A pada musim 2018/19.
***
Kebangkrutan Parma pada 2015 itu bukanlah yang pertama. Sebelas tahun sebelumnya, mereka pernah hampir mengalami nasib serupa. Setelah Parmalat, perusahaan susu yang menjadi sponsor mereka sejak 1990, bangkrut pada 2003, Parma juga ikut-ikutan kolaps. Saat itu, klub yang berbasis di Emilia-Romagna ini memiliki utang sampai 77 juta euro.
ADVERTISEMENT
Tanpa bekingan Parmalat, Parma pun tak sanggup melunasi utang tersebut. Pada musim 2004/05, mereka seharusnya dinyatakan bangkrut dan harus turun ke Serie D. Akan tetapi, manajemen klub saat itu berhasil menemukan celah agar Parma bisa tetap berlaga di Serie A. Caranya adalah dengan melepaskan diri dari Parmalat -- yang memiliki 98 persen saham klub -- dan mengganti nama dari AC Parma menjadi Parma FC.
Musim 2004/05 akhirnya tetap dijalani Parma di Serie A kendati tanpa sokongan Parmalat. Menariknya, di situasi seperti itu Parma malah berprestasi dengan menembus babak semifinal Piala UEFA. Akan tetapi, prestasi di Eropa itu tak sejalan dengan pencapaian di kancah domestik. Di Serie A, Parma terancam degradasi dan harus menjalani play-off menghadapi Bologna yang mempunyai poin sama.
ADVERTISEMENT
Situasi di Serie A itu membuat pelatih Parma, Silvio Baldini, berjudi. Piala UEFA sengaja dia lepas. Dalam dua leg menghadapi CSKA Moskva, Baldini selalu menurunkan pemain cadangan. Hasilnya, Parma pun tersingkir dengan agregat 0-3. Namun, Baldini tak memusingkan kekalahan itu. Baginya, yang penting adalah Parma bisa tetap bertahan di Serie A.
Perjudian Baldini itu berhasil. Meski pada leg pertama kalah 0-1 kala bermain di Stadio Ennio Tardini, Parma sukses membalikkan keadaan lewat kemenangan 2-0 di Stadio Renato dall'Ara, markas Bologna. Parma pun berhak untuk berlaga di Serie A pada musim 2005/06.
Namun, akal-akalan Baldini itu tak ubahnya plester yang ditempelkan di atas luka menganga. Dua musim setelah keberhasilan melakukan salvezza itu, Parma betul-betul harus turun kelas. Pada musim 2007/08, Parma resmi terdegradasi ke Serie B setelah hanya mampu finis di urutan ke-19. Padahal, itu adalah musim perdana Parma dengan Ghirardi sebagai pemilik anyar.
ADVERTISEMENT
Tommaso Ghirardi (NOT COVER)
Mantan presiden Parma, Tommaso Ghirardi. (Foto: AFP/Giuseppe Cacace)
Terdegradasinya Parma itu membuat Ghirardi bergerak cepat. Salah satu transfer penting yang dibuat manajemen Parma saat itu adalah mendaratkan Cristiano Lucarelli dari Shakhtar Donetsk. Striker kawakan itu, bersama pemain muda Alberto Paloschi, berhasil menjadi pencetak gol terbanyak Parma di Serie B. Parma pun kemudian mendapatkan promosi ke Serie A sebagai runner-up di bawah Bari.
Sejak promosi pada 2009 itu, Parma perlahan mulai mencari bentuk terbaik. Pemain-pemain berkualitas dengan harga miring mereka datangkan, termasuk Hernan Crespo yang direkrut kembali pada musim 2010/11. Meski tertatih, Parma kemudian mampu mencapai titik tertinggi pada musim 2013/14. Di bawah besutan Roberto Donadoni, klub yang lahir pada 1913 ini berhasil finis di urutan enam klasemen Serie A.
ADVERTISEMENT
Akan tetapi, keberhasilan Donadoni -- yang dibantu pemain-pemain seperti Antonio Cassano, Ezequiel Schelotto, Gabriel Paletta, Antonio Mirante, Marco Parolo, dan Jonathan Biabiany -- itu pada akhirnya hanya menjadi fajar palsu bagi Parma. Sebab, dari situlah kebobrokan manajemen Ghirardi mulai terkuak.
Dengan keberhasilan finis di urutan keenam, Parma semestinya berhak mewakili Italia di Liga Europa. Akan tetapi, oleh UEFA, keuangan mereka dinilai bermasalah. Parma pun akhirnya dicoret dan keikutsertaan mereka digantikan oleh Palermo. Dari sini, kejatuhan Parma untuk yang kedua kalinya di abad ke-21 mulai bergulir cepat bak bola salju.
Hanya semusim setelah dicoret dari Liga Europa, Parma finis di posisi buncit Serie A. Penyebabnya tak lain adalah masalah finansial itu tadi. Gaji yang tak terbayar, sampai kegagalan memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar, membuat pihak berwajib di Italia, tanpa pikir panjang, menjatuhkan vonis bangkrut pada Parma. Bahkan, keikutsertaan Parma di Serie A sampai pekan terakhir saat itu adalah sebuah keajaiban tersendiri.
ADVERTISEMENT
Pada musim 2014/15 itu, Parma berganti pemilik sampai dua kali. Pada Desember 2014, Ghirardi menjual kepemilikan mayoritas Parma kepada pengusaha Albania bernama Rezart Taci. Akan tetapi, hanya dua bulan kemudian, Taci kembali melego kepemilikan Parma, kali ini kepada Giampietro Manenti. Satu hal paling menarik dari sini adaah Taci dan Manenti sama-sama membeli kepemilikan klub dengan harga 1 euro.
Parma
Parma FC. (Foto: GIUSEPPE CACACE / AFP)
Dengan harga beli 1 euro itu, diharapkan pemilik baru Parma dapat melunasi utang lebih dari 200 juta euro yang ditinggalkan Ghirardi dengan lebih mudah. Akan tetapi, harapan tinggal harapan. Manenti bahkan kemudian ditangkap pada Maret 2015 atas tuduhan penggelapan dan pencucian uang. Bak ayam tanpa kepala, Parma akhirnya mati.
Akan tetapi, bukan Parma namanya kalau tidak tahu caranya bangkit kembali. Setelah Parma FC dinyatakan bangkrut, sebuah grup joint venture bernama Nuovo Inizio (Awal Baru) membentuk sebuah klub bernama Parma Calcio 1913 dari puing-puingnya. Dengan bekingan sejumlah pengusaha lokal seperti Guido Barilla (pemilik Barilla Group), Paolo Pizzarotti (bos Impresa Pizzarotti), dan beberapa jebolan Parmalat, Parma yang sekarang lahir.
ADVERTISEMENT
Modal untuk mendirikan Parma Calcio 1913 itu sama sekali tidak besar; hanya 250 ribu euro. Namun, dengan manajemen yang rapi, semua bisa diraih Parma dengan mudah. Awalnya, mereka menunjuk Nevio Scala sebagai presiden klub dan Luigi Apolloni sebagai pelatih. Kedua orang itu merupakan aktor krusial dalam era keemasan Parma di dekade 1990-an dan dengan segera, mereka mengangkat Parma ke Serie C.
Di Serie C, Parma sempat kesulitan dan itulah mengapa, Apolloni kemudian didepak. Sosok yang ditunjuk menggantikan Apolloni adalah pelatih yang sampai sekarang masih menangani Parma, Roberto D'Aversa. Menunjuk D'Aversa, bagi Parma, adalah sebuah perjudian karena saat itu pelatih kelahiran Stuttgart tersebut baru punya pengalaman melatih dua tahun bersama Virtus Lanciano.
ADVERTISEMENT
Namun, D'Aversa akhirnya sukses membayar kepercayaan besar tersebut. Setelah finis di urutan kedua, Parma dibawa D'Aversa menaklukkan babak play-off dengan mengalahkan Piacenza, Lucchese, Pordenone, serta Alessandria. Satu tiket ke Serie B pun berhasil digenggam.
Keberhasilan Parma meraih dua promosi berturut-turut itu membuat mereka masuk dalam radar pengusaha China bernama Jiang Lizhang. Lewat perusahaan induk bernama Desports Group, Jiang yang juga memiliki saham di Granada dan Minnesota Timberwolves itu membeli 60 persen saham Parma dari Nuovo Inizio.
Parma Calcio
Selebrasi para pemain Parma. (Foto: Dok. Parma)
Jiang memang sengaja hanya membeli sekian persen saham agar aktor-aktor yang terlibat dalam kebangkitan kembali Parma tak merasa tertinggal. Saat ini, 30 persen saham Parma masih dikuasai Nuovo Inizio, sementara 10 persen sisanya menjadi milik para suporter yang tergabung dalam Parma Partecipazione Calcistiche.
ADVERTISEMENT
Di bawah rezim kepemilikan baru ini, Parma mendatangkan cukup banyak pemain baru. Sebagian lewat pembelian permanen, sebagian lain lewat pinjaman. Pemain-pemain yang mereka datangkan umumnya sudah punya pengalaman berarti di kancah persepakbolaan Italia, seperti Luca Siligardi, Fabio Ceravolo, sampai Jacopo Dezi. Parma pun kemudian finis di urutan kedua Serie B dan berhak lolos otomatis ke Serie A.
Meski begitu, Parma tidak mendapatkan itu dengan cara mudah. Mereka harus menunggu betul-betul sampai menit terakhir pertandingan melawan Spezia. Situasinya adalah saat itu Parma wajib menang atas Spezia, sembari berharap Frosinone kehilangan poin saat menjamu Foggia. Sampai menit ke-61, semua berjalan lancar bagi Parma karena mereka sudah unggul 2-0 atas Spezia, sementara Frosinone tertinggal satu gol dari Foggia.
ADVERTISEMENT
Akan tetapi, pada menit ke-68 dan 73, Frosinone berhasil mencetak dua gol ke gawang Foggia lewat Luca Paganini dan gol bunuh diri Matteo Rubin. Mendadak, Parma harus turun ke peringkat ketiga dan sepertinya bakal harus menjalani play-off lagi untuk bisa naik kelas. Beruntung, pada menit ke-89, Roberto Floriano membobol gawang Frosinone untuk kali kedua untuk memaksakan hasil imbang.
Parma pun akhirnya tetap di urutan kedua dan mereka langsung lolos ke Serie A mendampingi Empoli yang keluar sebagai juara Serie B. Meski sempat terancam degradasi akibat tuduhan pengaturan skor, Parma akhirnya dinyatakan tak bersalah dan akan tetap berlaga di Serie A musim 2018/19.
***
Parma memang berbeda. Dalam sejarah panjangnya, klub satu ini sebenarnya tidak pernah benar-benar menjadi kekuatan besar di persepakbolaan Italia. Sejak berdiri pada 1913, pertama kalinya Parma menjejak Serie A adalah pada 1990. Akan tetapi, keberhasilan mereka lolos kembali ke Serie A pada musim 2018/19 ini tetap dirayakan seperti kembalinya raksasa tertidur.
ADVERTISEMENT
Stefano Tanzi
Stefano Tanzi (kanan) menghadiri pertandingan Parma. (Foto: AFP/Paolo Cocco)
Besarnya kerinduan publik sepak bola terhadap Parma sebetulnya sangat bisa dimengerti. Pasalnya, meskipun tidak lama berada di masa keemasan, masa itu betul-betul dihiasi Parma dengan rentetan prestasi yang sulit dicari tandingannya. Bagi Parma dan para Parmagiani (sebutan bagi suporter tim atau orang-orang dari Kota Parma), masa keemasan itu tak bisa dilepaskan dari Parmalat yang dimiliki Keluarga Tanzi.
Pada paruh kedua dekade 1980-an, di bawah pimpinan presiden Ernesto Ceserini, Parma sebenarnya hampir berhasil naik kelas ke Serie A. Pada musim 1986/87, di bawah rezim kepelatihan Arrigo Sacchi, Parma hanya berjarak tiga angka dari keberhasilan promosi ke Serie A.
Capaian itu kemudian membuka lembar sejarah baru bagi Parma. Sacchi memang memilih hengkang ke Milan, tetapi Ceserini kemudian menjalin kesepakatan dengan Parmalat yang bakal membuat Parma punya sumber daya melimpah. Sebagai ganti Sacchi, manajemen menunjuk Scala sebagai pelatih.
ADVERTISEMENT
Untuk memahami relasi Parma dan Parmalat, kita harus kembali ke tahun 1961 ketika Calisto Tanzi, patron Keluarga Tanzi, mewarisi sebuah usaha dagang kecil dari ayahnya. Calisto Tanzi yang saat itu berusia 22 tahun menyulap usaha kecil itu jadi perusahaan multinasional bernama Parmalat. Pada puncak kejayaannya, Parmalat memiliki 36 ribu karyawan di seluruh dunia dan pendapatannya setara dengan 1 persen produk domestik bruto Italia.
Ya, sebesar itulah Parmalat. Nama perusahaan ini juga akhirnya jadi lebih besar ketimbang Barilla, perusahaan pasta asal Parma yang sudah berdiri sejak 1877. Akan tetapi, seperti yang dituliskan Kevin Nolan di These Football Times, jika Barilla adalah perusahaan dengan fondasi solid, Parmalat dibesarkan dengan kebohongan dan ambisi beracun.
ADVERTISEMENT
Namun, ketika Ceserini menjalin kerja sama dengan Parmalat itu, kebusukan Calisto Tanzi sama sekali belum terlihat. Menyusul berbagai pembelian cerdas, Parma pun kemudian mereka bawa promosi ke Serie A pada 1990. Sayangnya, Ceserini wafat pada tahun yang sama dengan keberhasilan Parma tersebut. Parmalat pun dengan leluasa bisa mengambil alih 98 persen saham klub.
Parmalat
Suasana pabrik Parmalat pasca-kebangkrutan. (Foto: AFP/Stringer)
Sisanya adalah sejarah. Sampai akhirnya bangkrut pada 2003, Parmalat bertanggung jawab atas delapan trofi bergengsi yang direngkuh Parma. Di Italia, Parma sukses menjuarai tiga Coppa Italia dan satu Supercoppa Italiana. Kemudian, di Eropa, dua Piala UEFA serta masing-masing satu Piala Winners dan Piala Super Eropa jadi bukti kebesaran Parma.
Puncak keberhasilan Il Grande Parma itu terjadi pada musim 1998/99 ketika mereka merengkuh gelar ganda Coppa Italia dan Piala UEFA. Setelah itu, perlahan-lahan mereka mengalami kemunduran dengan penjualan Crespo ke Lazio serta Gigi Buffon dan Lilian Thuram ke Juventus. Kebangkrutan Parmalat pada 2003 akhirnya jadi ketok palu terakhir yang mengirim Parma ke masa kegelapan.
ADVERTISEMENT
Parmalat sendiri akhirnya kolaps karena kasus penggalapan uang yang dilakukan Calisto Tanzi dan anaknya, Stefano. Pada 2003, Parmalat terlilit utang pajak sampai 150 juta euro. Calisto dan Stefano Tanzi mengatakan bahwa utang itu akan segera bisa dilunasi karena ada dana cadangan senilai 3,9 miliar euro di Bank of America cabang Italia.
Awalnya, klaim itu dipercayai oleh pihak yang berwajib. Akan tetapi, belakangan diketahui bahwa dana cadangan di Bank of America itu sama sekali tidak ada. Bahkan, Parmalat justru memiliki utang sampai 14,3 miliar euro di bank tersebut. Puncaknya, gugatan class action dari senilai 10 miliar euro dilayangkan oleh kreditur dan pemerintah Italia sampai harus mempercepat kebangkrutan Parmalat agar masalah tak berlarut-larut.
ADVERTISEMENT
Kejatuhan Parmalat itu sendiri sama sekali tidak mengejutkan jika sepak terjang Keluarga Tanzi dalam menjalankan Parma bisa dijadikan patokan. Pada musim 1995/96, seiring dengan ekspansi Parmalat ke Eropa Timur, Keluarga Tanzi mendatangkan Hristo Stoichkov ke Parma.
Kedatangan Stoichkov itu jadi sebuah pertanda kesewenang-wenangan Keluarga Tanzi. Pemain Bulgaria itu dijadikan alat untuk menyingkirkan Scala. Pelatih yang berjasa mengantarkan Parma promosi ke Serie A dan jadi juara di Eropa itu didepak karena Stefano Tanzi menginginkan nama besar sebagai pelatih Parma. Keengganan Scala memainkan Stoichkov itulah yang lantas dijadikan alasan untuk menyingkirkan sang pelatih.
Dengan kata lain, Keluarga Tanzi memang tidak segan menggunakan cara kotor untuk mencapai apa yang mereka mau. Kongkalikong mereka dengan direktur Bank of America cabang Italia terkit dana pinjaman itu jadi bukti lain. Namun, sepandai-pandai tupai melompat, ia akan jatuh juga. Sepandai-pandainya Keluarga Tanzi berbuat culas, semua akan ketahuan pada akhirnya.
ADVERTISEMENT
***
Dalam mitologi Mesir, feniks (phoenix) adalah burung api yang terbakar habis ketika sudah waktunya mati dan dari abu yang tercecer itu, ia akan lahir kembali. Parma, dalam terminologi sepak bola, adalah klub feniks, atau klub yang lahir kembali setelah mati. Tentunya, saat ini jalan mereka untuk menjadi feniks dewasa yang gagah masih sangat panjang.
Namun, dengan manajemen yang sehat, kemungkinan Parma untuk kembali menjadi penantang serius di Serie A tetap bakal terbuka. Di bawah kendali Keluarga Tanzi, kesuksesan didapat Parma secara instan. Kali ini, Jiang yang bijaksana itu memilih untuk tidak terburu-buru dalam menghamburkan uang. Dengan skuat yang ada, target Parma paling realistis adalah bertahan di Serie A.
Target itu memang tidak muluk-muluk, tetapi bukan berarti bakal mudah diraih. Apalagi, kekuatan tim-tim di papan tengah-bawah Serie A dalam beberapa musim terakhir seringkali begitu seimbang. Keberhasilan bertahan atau tidak di Serie A bisa jadi bakal ditentukan oleh satu, dua momen.
ADVERTISEMENT
Walau demikian, Parma tak perlu khawatir. Mereka sudah melalui hal terburuk dengan ketabahan luar biasa. Kini, mereka pun menatap kompetisi musim 2018/19 dengan optimisme yang membara. Salah satu buktinya adalah dengan merilis jersi yang terinspirasi dari keberhasilan merebut gelar ganda dua puluh tahun silam.
Kendati punya optimisme membara, mereka masih menjaga kewarasan dengan tidak jor-joran membeli pemain baru. Klub juga masih mempercayai D'Aversa untuk jadi juru kemudi. Dengan kata lain, Parma menatap musim baru di Serie A dengan perpaduan yang pas antara ambisi dan kerendahan hati. Untuk saat ini, semua itu sudah lebih dari cukup untuk Parma.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan