kumparan
4 September 2018 9:33

Seperti Anak Kecil, Arsenal Membuat Kesalahan dan Belajar

Alexandre Lacazette
Lacazette rayakan gol di laga melawan Cardiff. (Foto: Reuters/Andrew Couldridge )
Pekan keempat Premier League 2018/19 ditutup Arsenal dengan kemenangan 3-2 atas Cardiff City. Kemenangan, sekecil apa pun itu pantas untuk dirayakan. Namun, ada celah yang tidak bisa diabaikan dalam kemenangan itu.
ADVERTISEMENT
Trigol Arsenal di laga itu berbanding dengan gol torehan Cardiff. Yang menjadi masalah adalah dua gol yang berhasil disarangkan oleh lawan ini. Sebabnya, jumlah gol ini menjadi penanda bahwa Arsenal melakoni laga dengan pertahanan yang buruk.
Tiga gol yang disarangkan Arsenal menjadi bukti bahwa pressing tinggi menjadi cara Arsenal merengkuh kemenangan. Dalam wawancara-wawancara terdahulunya pun Unai Emery menegaskan bahwa ia akan memainkan sepak bola yang seofensif mungkin. Risikonya, garis pertahanan tinggi juga menjadi ciri permainan Arsenal. Celah inilah yang pada akhirnya berhasil dimanfaatkan lawan, termasuk Cardiff.
Alexandre Lacazette yang mencetak satu gol di laga ini tak menampik bahwa timnya perlu membenahi area pertahanan. Namun, perubahan macam itu bukan hal yang bisa dituntaskan dalam semalam dua malam. Terlebih, gaya permainan Emery berbeda dengan Arsene Wenger. Arsenal butuh waktu, melalui proses yang tak sebentar hingga akhirnya bisa menemukan gaya permainan terbaik dan paling pas untuk mereka.
ADVERTISEMENT
"Kami belajar banyak dari satu pertandingan ke pertandingan lain. Tapi, pelatih kami juga mengatakan satu hal: Kami harus kebobolan dulu, sehingga kami memahami semuanya. Kami melakukan kesalahan-kesalahan karena belajar layaknya anak kecil, jadi ini bukan situasi yang buruk. Kondisinya akan semakin membaik dari pekan ke pekan," jelas Lacazette, dilansir The Guardian.
Arsenal bukan tim yang menuntaskan empat laga pembuka Premiere League 2018/19 dengan kemenangan 100 persen. Dua dari empat pertandingan ditutup dengan kekalahan. Yang pertama, kekalahan 0-2 dari Manchester City. Yang kedua, kekalahan 2-3 dari Chelsea. Penyebabnya sama.
Pressing ketat yang diusung Arsenal mendorong mereka untuk bermain dengan garis pertahanan tinggi. Dalam laga melawan City, misalnya. Tertinggal 0-1, Emery memutuskan untuk memasukkan Lacazette demi menambah daya gedor. Garis pertahanan Arsenal menjadi bertambah tinggi dan hal ini membuat mereka kebobolan untuk kali kedua lewat sepakan Bernardo Silva.
ADVERTISEMENT
Begitu pula di pertandingan melawan Chelsea. Keputusan untuk bermain dengan gaya ini harus dibayar mahal dengan gol kedua Chelsea yang dicetak Alvaro Morata. Pemain yang digaet dari Real Madrid itu berhasil lolos dari kawalan Shkodran Mustafi usai menerima umpan lambung Cesar Azpilicueta.
Cardiff City vs Arsenal
Perayaan gol pemain Arsenal. (Foto: REUTERS/Rebecca Naden)
Namun, dua kekalahan di laga awal itu tak memupuskan asa Lacazette. Terlebih, dua lawan yang mengganjar mereka dengan kekalahan itu bukan tim sembarangan. Ketimbang mengungkit-ungkit kekalahan, ia lebih suka untuk menjadikan kemenangan atas Cardiff yang merupakan kemenangan tandang pertama Arsenal di Premier League 2018/19 sebagai momentum kebangkitan tim.
"Keempat laga pembuka itu berjalan baik buat kami. Bahkan, walau kami harus menutupnya dengan dua kekalahan. Apalagi, lawan kami itu adalah dua juara terakhir Premier League. Tapi, kalau melihat kualitas pertandingan, saya pikir kami masih baik-baik saja. Orang-orang merasa senang saat melihat kami bermain. Kami yang ada di atas lapangan pun disenangkan dengan sistem permainan yang seperti ini," ucap pemain asal Prancis itu.
ADVERTISEMENT
"Kami mendapatkan kemenangan tandang pertama kami saat melawan Cardiff. Saya harap, segala sesuatunya akan berjalan lebih baik untuk Arsenal di sepanjang musim. Saat kami memulai pertandingan, kami harus bisa meyakinkan diri sendiri, bisa berkata 'OK, kami bisa bertanding seperti di laga kandang.' Yang pasti, kemenangan itu adalah hal baik dan menang di laga tandang adalah pencapaian penting bagi kami," jelas Lacazette.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan