kumparan
26 Juli 2018 18:06

Sven-Goeran Eriksson dan Sepak Bola Irak Memang Berjodoh

Eriksson saat masih menangani Shanghai SIPG. (Foto: AFP/Johannes Eiselle)
Hidup, kata Forrest Gump, seperti sekotak cokelat. Tak seorang pun bisa menebak apa yang akan dia dapatkan darinya. Pepatah itu memang fiktif karena ia berasal dari potongan dialog film 'Forrest Gump'. Akan tetapi, bagi Sven-Goeran Eriksson, begitulah hidup. Betul-betul aneh dan tidak bisa ditebak.
ADVERTISEMENT
Pada 2004 lalu, Eriksson masih berstatus sebagai manajer Tim Nasional (Timnas) Inggris. Prestasinya lumayan. Dua tahun sebelumnya dia mampu mengantarkan Inggris ke perempat final Piala Dunia. Namun, di balik itu semua Eriksson juga terlibat dalam sejumlah lembaga amal, khususnya yang melibatkan sepak bola.
Salah satu hasil dari aktivitas Eriksson di lembaga-lembaga amal itu adalah tur Timnas Irak ke Inggris. Lewat tajuk Iraq's UK Goodwill Tour 2004, Irak bermain dalam tiga pertandingan di Inggris, yakni menghadapi Timnas Trinidad & Tobago, English Non-League XI, dan UK Parliamentary Football Club.
Tur tersebut merupakan bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat Irak yang negaranya luluh lantak akibat perang. Lewat sepak bola, Timnas Irak berupaya mempromosikan bahwa negara mereka punya hal lain yang pantas diceritakan selain perang. Kebetulan, pada saat itu mereka juga tengah bersiap untuk mengikuti Piala Asia dan Olimpiade.
ADVERTISEMENT
Usai menjalani tiga pertandingan tadi, Timnas Irak juga sempat berlatih selama dua pekan di Bisham Abbey. Setelah itu, Irak berhasil menapak semifinal Olimpiade dan babak 16 besar Piala Asia.
Kisah Eriksson dan Irak tak berhenti sampai di situ. Tiga tahun kemudian, setelah Irak sukses menjuarai Piala Asia yang digelar di Indonesia, Vietnam, Malaysia, dan Thailand, ada satu pemain yang mencuat. Namanya Nashat Akram.
Saat itu, Eriksson sudah tak lagi menangani Timnas Inggris. Kendati begitu, mantan pelatih Lazio itu masih bertahan di Inggris sebagai manajer Manchester City. Oleh Eriksson, Akram direkrut. Bahkan, pemain berambut gondrong itu sudah menyepakati kontrak selama dua tahun bersama The Citizens.
Sayang, hasrat Eriksson memainkan Akram di timnya harus pupus. Sebab, Home Office menolak untuk memberi izin kerja kepada pemain kelahiran 1984 itu. Masalah ini sebenarnya sudah coba dirampungkan City dengan mengajukan beragam banding. Namun, Home Office bergeming. Sampai akhirnya, Eriksson pergi, Akram pun angkat kaki.
ADVERTISEMENT
Namun, Eriksson dan Irak tampaknya memang berjodoh. Sebab, pada Kamis (26/7/2018), pelatih asal Swedia itu dikabarkan telah setuju menangani Timnas Irak. Meski demikian, menurut laporan Sky Sports, Eriksson baru akan membuat keputusan final pekan depan.
Sejak meninggalkan City pada 2008, Eriksson memang seperti tenggelam. Dia hampir tidak pernah menangani satu tim lebih dari setahun. Terhitung, sejak 2008 itu dia hanya sekali menangani tim dengan kurun waktu dua tahun, yakni saat membesut Shanghai SIPG antara 2014 sampai 2016. Selebihnya, pria yang akrab disapa Svennis ini selalu tampak sudah kehilangan sentuhan magisnya.
Buruknya nasib Eriksson di senjakala kariernya ini amat kontras dengan capaiannya di masa silam. Pada 1982, dia sukses mengantarkan IFK Goeteborg jadi kampiun Piala UEFA. Kemudian, bersama Lazio dia berhasil mendapat trofi Piala Winners, Piala Super Eropa, serta juara Serie A.
ADVERTISEMENT
Meski belakangan ini tak pernah sukses sebagai pelatih, Eriksson sebenarnya selalu laku di pasaran. Sekarang, giliran Irak yang menggantungkan masa depan sepak bolanya kepada pria asal kota Sunne ini. Jika nanti Eriksson betul-betul memutuskan untuk menangani Timnas Irak, dia diproyeksikan memimpin 'Singa-singa Mesopotamia' ini berlaga di Piala Asia, Januari 2019 mendatang.
Akankah jabatan pelatih Timnas Irak ini bisa membuat nama Eriksson kembali harum? Well, mari kita nantikan saja.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan