kumparan
7 Agustus 2018 18:22

Tanpa Belanja Besar, City Sudah Punya Modal untuk Pertahankan Gelar

Manchester City menangi Community Shield. (Foto: REUTERS/Toby Melville)
Di Premier League, tim juara bertahan kurang kalah agresif di pasar transfer. Mereka terlalu percaya diri dengan komposisi skuat juara sehingga kesenjangan dikejar oleh rival-rivalnya. Akankah skenario serupa dialami Manchester City?
ADVERTISEMENT
Untuk musim 2018/19, predikat tersebut memang disandang oleh City. Begitu dominan mereka ketika keluar sebagai kampiun musim lalu. Rekor demi rekor mengiringi kesuksesan The Citizens. Ditambah lagi gap 19 poin dengan Manchester United di peringkat kedua.
Kesuksesan City tidak lepas dari kebijakan mereka membenahi problem di pertahanan dengan catatan 39 kemasukan di musim sebelumnya. Manajemen merekrut sejumlah nama top guna menutup lubang tersebut, di antaranya Aymeric Laporte, Benjamin Mendy, Kyle Walker, Danilo, dan Ederson Moraes. Tak tanggung-tanggung, 220,68 juta poundsterling dikucurkan untuk mereka berlima.
Hasilnya positif. Barisan belakang menjadi salah satu faktor penting dalam langkah City ke podium juara. Hanya 27 kali gawang mereka bergetar atau paling sedikit di antara kontestan Premier League lainnya.
ADVERTISEMENT
Plus torehan 106 gol sebagai bukti betapa tajam lini serang City, skuat asuhan Pep Guardiola memang hampir sempurna. Karena itulah, City menatap musim anyar dengan keyakinan terhadap komposisi lama dan enggan melakukan renovasi terlalu besar.
Di pasar transfer musim panas 2018, mereka cuma memburu pemain untuk dua posisi. Yakni, Jorginho sebagai pelapis sekaligus kompetitor Fernandinho di posisi jangkar dan Riyad Mahrez guna memperdalam opsi lini serang. Hanya nama terakhir yang mendarat ke Etihad karena Jorginho menyeberang ke Chelsea.
Sikap tersebut sekaligus menekan pengeluaran The Citizens. Harga Mahrez mencapai 61,2 juta poundsterling. Ditambah Philippe Sandler yang dibeli dari PEC Zwolle senilai 2,25 juta pounds, pengeluaran City untuk belanja pemain berarti 'cuma' 63,27 pounds.
ADVERTISEMENT
Riyad Mahrez memamerkan kostum Manchester City. (Foto: Dok. Manchester City)
Dibandingkan anggota Big Six, nominal tersebut tergolong kecil. Lihat saja bagaimana pengeluaran 71,1 juta pounds dari Arsenal, 163,98 juta pounds dari Liverpool, atau 74,43 juta pounds dari Manchester United. Hanya Chelsea yang menggelontorkan uang lebih kecil dengan nominal 51,3 juta poundsterling.
Kalau fakta sejarah menjadi indikator, catatan di atas merupakan alarm bahaya untuk Manchester City. Sebab, catatan dari musim 2011/12 menunjukkan bagaimana tim juara bertahan menekan pengeluaran, kemudian malah kalah bersaing dengan klub rival yang jorjoran di pasar transfer.
Pengecualian untuk musim 2015/16. Namun, perlu diingat bahwa Leicester City adalah juara musim tersebut. The Foxes bukanlah anggota Big Six yang notabene memiliki sumber daya finansial melimpah. Dan, kesuksesan Leicester ketika itu juga bisa dikategorikan sebagai kejutan.
ADVERTISEMENT
Musim selanjutnya, Leicester coba menambah kedalaman skuat untuk tampil Liga Champions. Mereka mengucurkan 80,1 juta pounds, tetapi melego N'Golo Kante selaku pemain kunci ke Chelsea. Dengan mengucurkan 119,52 pounds termasuk untuk membajak Kante, The Blues akhirnya keluar sebagai kampiun.
Bukti teraktual dari tren tersebut bisa dilihat ketika City juara musim lalu. Demi merenovasi pertahanan dan lini serang, mereka menggelontorkan 285,75 pounds. Sedikit lebih besar daripada sang juara bertahan, Chelsea, yang mengucurkan 234,54 juta pounds untuk belanja.
Apa yang dilakukan Chelsea dan Leicester memang bisa disebut kesalahan besar. Atas nama menambah kedalaman skuat demi mengarungi kompetisi Eropa, mereka membongkar the winning team. Seperti Leicester dengan Kante, Chelsea juga menyingkirkan Diego Costa yang menjadi pemain kunci di depan.
ADVERTISEMENT
Hasilnya, para rekrutan anyar malah dicecar kritik alih-alih menuai pujian. Ambil contoh Alvaro Morata karena penampilan tumpulnya dan para pemain mahal yang gagal menembus tim inti, seperti Timoue Bakayoko, Davide Zappacosta, serta Danny Drinkwater.
Morata buang-buang peluang. (Foto: Reuters/Dylan Martinez)
Mengapa salah? Coba kita belajar dari kiat Sir Alex Ferguson dalam mempertahankan gelar juara Premier League. Ferguson adalah orang terakhir karena setelah pria Skotlandia ini pensiun, tak ada tim atau pelatih yang mampu juara dua tahun beruntun di Inggris.
"Ketika mencapai suatu fase dengan mental juara dan kesuksesan merebut trofi, Anda sudah melakukan semuanya dengan tepat dengan para pemain. Yang Anda butuhkan adalah merekrut satu atau dua pemain yang bisa mengantarkan Anda ke level lebih tinggi dan mengubah dinamika tim," tutur Mike Phelan yang orang kepercayaan Ferguson di United.
ADVERTISEMENT
Selain itu, mempertahankan gelar di mata Ferguson menyoal bagaimana menjaga motivasi pemain. Maka itu, dia menerapkan sebuah sistem di ruang ganti United pada 1992. Ferguson menyatakan kepada pemain bahwa dirinya mencatat dua pemain yang telah puas dengan gelar juara. Namanya akan diumumkan pada akhir musim.
"Gary Pallister selalu menanyakan siapa nama pemain tersebut setiap pekan. Di akhir musim, Ferguson mengatakan, 'Tidak ada nama. Karena kalau sudah merasa puas, Anda tidak akan berada di ruang ganti ini'," tutur Professor Damian Hughes, seorang psikolog olahraga asal Inggris, kepada BBC.
Pep Guardiola dan gelar Premier League pertamanya. (Foto: Carl Recine/Reuters)
Itulah yang dilakukan oleh City. Guardiola tidak membongkar the winning team seperti Antonio Conte bersama Chelsea. Memang tidak ada urgensi buat City merenovasi salah satu lini seperti musim lalu, kecuali menambah opsi kalau Fernandinho atau pemain di lini serang absen.
ADVERTISEMENT
Adapun, guna mengatasi kekhawatiran menurunnya motivasi, Guardiola sudah memiliki eks atlet polo air, Manuel Estiarte. Tugasnya mencakup kondisi mental City dan bagaimana mendongkraknya dengan cara-cara inovatif, seperti yang dilakukan Ferguson di ruang ganti United.
Dua cara itulah yang membuat Guardiola kerap sukses mempertahankan gelar juara liga di klub sebelumnya. Baik bersama Barcelona maupun Bayern Muenchen, dia selalu sukses mencatatkan tiga gelar juara liga secara beruntun. Memang level persaingan di Spanyol dan Jerman tidak seketat Inggris. Namun, itulah modal besar Guardiola untuk mempertahankan gelar tanpa belanja masif seperti tim rival.
Selain itu, jangan abaikan bagaimana kesenjangan Manchester City dengan tim-tim lain musim lalu. Meski klub-klub rival melakukan belanja lebih besar, kesenjangan mungkin akan sulit dikejar hanya dalam kurun satu musim.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan