kumparan
30 September 2019 17:48

Taribo West Gagal di Milan karena Ulah Mafia?

Taribo West
Taribo West (kanan) berduel dengan bek Strasbourg, Valerien Ismael. Foto: AFP/Franck Fife
Sulit untuk tidak menemukan sosok Taribo West di lapangan hijau karena pemain satu ini punya ciri khas yang membuatnya begitu menonjol. Tiap kali merumput, West selalu tampil dengan rambut berwarna mencolok yang sebagian kecilnya dia kuncir ke atas dan sisanya dia biarkan tergerai.
ADVERTISEMENT
Dari situ saja orang sudah dengan mudah menemukan West. Namun, yang membuat mantan bek Timnas Nigeria itu mudah dikenali bukan cuma gaya rambutnya, tetapi juga penampilan trengginasnya di lapangan. Tekel-tekelnya keras meskipun pembawaannya tetap flamboyan.
Pada pertengahan sampai akhir 1990-an, West bermain di dua liga top Eropa, Ligue 1 dan Serie A. Dari 1993 sampai 1997 dia bermain untuk Auxerre dan pada masa itulah dia sukses keluar sebagai juara Olimpiade Atlanta bersama Tim Nigeria U-23.
Ronaldo, Taribo West
Taribo West berusaha menghentikan Ronaldo di Olimpiade Atlanta 1996. Foto: AFP/Gabriel Bouys
Tim itu berisikan banyak sekali legenda. West adalah salah satunya, tentu saja. Selain dia ada juga Celestine Babayaro, Nwankwo Kanu, Tijani Babangida, Daniel Amokachi, Sunday Oliseh, sampai Augustin 'Jay-Jay' Okocha. Pemain-pemain ini kemudian jadi tulang punggung Super Eagles di Piala Dunia 1998.
ADVERTISEMENT
Ketika tampil di Piala Dunia 1998 itu West berstatus sebagai pemain Internazionale. Di situ dia bahu-membahu menjaga lini belakang bersama pemain-pemain macam Beppe Bergomi, Francesco Colonnesse, Salvatore Fresi, serta Fabio Galante. Hasilnya tak buruk. Satu trofi Piala UEFA berhasil digamit.
Sederet prestasi ini menunjukkan bahwa West sama sekali bukan pemain kacangan. Meski demikian, bukan prestasi-prestasi itu saja yang membuat perjalanan kariernya jadi menarik. Ketika pindah ke Milan dari Inter pada Desember 1999, West mendapat pengalaman yang belum bisa dia lupakan.
West tidak lama bermain di Milan. Hanya setengah musim, tepatnya. Nah, menurut penuturannya kepada Score Nigeria, selama bermain di Milan dia tak pernah mengecap kesuksesan karena peran mafia.
Hristo Stoichkov, Taribo West
Taribo West (belakang) mengawal ketat striker Bulgaria, Hristo Stoichkov. Foto: AFP/Eric Cabanis
ADVERTISEMENT
Ketika kita bicara mafia di sini, kita tak bicara soal mafia sepak bola macam Johar Lin Eng atau Vigit Waluyo melainkan mafia sungguhan. Mafia yang kehidupannya bisa Anda intip lewat karya-karya Mario Puzo. Kata West, para mafia itu melakukan segala cara untuk membuatnya gagal di Rossoneri.
"Para mafia itu menyebarkan berita palsu kepada media bahwa aku cedera. Itu mereka lakukan agar aku segera angkat kaki dari Milan. Para dokter disuap untuk berkata bahwa aku mengalami cedera. Mereka tidak terima posisi para bek yang sudah menua itu diisi oleh seorang pemain Afrika," ungkap pria 45 tahun itu.
West pindah ke Milan pada musim 1999/2000. Ketika itu lini belakang 'Iblis Merah', khususnya di area sentral, memang menjadi wilayah kekuasaan dua pemain berumur. Mereka adalah Paolo Maldini (31 tahun) dan Billy Costacurta (33 tahun). West sendiri kala itu masih berumur 25.
ADVERTISEMENT
Entah benar atau tidak ucapan West tersebut. Yang jelas, selama berkostum Inter, dia bisa bermain sampai 64 kali dalam dua setengah musim. Namun, selama setengah musim bersama Milan, dia hanya turun berlaga sebanyak 4 kali. Kontrasnya memang begitu terasa.
Meski demikian, di Milan ketika itu West tak cuma harus bersaing dengan Maldini dan Costacurta. Ada pemain-pemain seperti Bruno N'Gotty, Luigi Sala, sampai Roberto Ayala yang harus dia kalahkan. Apa pun musabab aslinya, yang jelas West gagal dan pada musim berikutnya dia dipinjamkan ke Derby County.
Bersama Derby, West tampil sebanyak 18 kali di Premier League dan pada musim berikutnya Milan melegonya secara permanen ke klub Jerman, Kaiserslautern. Sayangnya, sejak itu karier West menurun. Meski hanya memperkuat klub-klub gurem, West kesulitan merebut posisi utama.
ADVERTISEMENT
Pada 2013, mantan pejabat Partizan--klub yang diperkuat West pada musim 2003/04--mengatakan bahwa pemain kelahiran Port Harcourt itu melakukan pencurian umur. Katanya, West sebetulnya 12 tahun lebih tua dari aslinya.
Tidak cuma West sebenarnya yang dituduh sudah mencuri umur. Kanu dan Okocha juga disebut-sebut sebagai aktor lainnya. Tentu saja, kabar itu kemudian dibantah mentah-mentah oleh West yang pensiun pada 2007 bersama klub Iran, Paykan.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan