kumparan
13 Juni 2019 19:06

Tepatkah McMenemy Mengusung Formasi 3-4-3 untuk Timnas Indonesia?

Latihan perdana Timnas Senior Indonesia
Pelatih timnas senior Indonesia Simon McMenemy (kanan) menyampaikan arahan kepada pemain timnas senior Indonesia dalam sesi latihan di Stadion Madya, Kompleks Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Jumat (8/3). Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Simon McMenemy memberikan warna baru untuk Timnas Indonesia. Di tangannya, skuat 'Garuda' menggunakan formasi yang cenderung 'baru' yakni 3-4-3.
ADVERTISEMENT
Sebelum bersama McMenemy, Timnas Indonesia lebih terbiasa dengan pola 4-4-2, 4-3-3, atau 4-2-3-1. Bersama Alfred Riedl misalnya, pada gelaran Piala AFF 2010, pakem 4-4-2 menjadi andalan. Irfan Bachdim dan Cristian Gonzales menjadi duet dengan Muhammad Ridwan serta Okto Maniani di kedua sisi.
Ketika Luis Milla mengambil tongkat kepemimpinan, Timnas Indonesia beralih kepada formasi 4-2-3-1 atau 4-3-3. Zulfiandi dan Evan Dimas kerap menjadi poros ganda untuk menopang permainan Timnas Indonesia, terutama di Asian Games 2018.
Formasi tersebut pun turun ke Timnas Indonesia kelompok umur. Fakhri Husaini bersama Timnas U-16 acapkali tampil dengan pola 4-3-3. Apalagi, 'Garuda Asia' kala itu memiliki sayap-sayap kilat semisal Muhammad Supriadi dan Fajar Fathur.
Begitu juga dengan Timnas U-19 dan U-23 ketika berada di bawah arahan Indra Sjafri. Pelatih asal Sumatera Barat itu memilih pola 4-2-3-1 atau 4-3-3 untuk dimainkan. Hanya sekali Indra tercatat bermain dengan skema tiga bek yakni ketika berhadapan dengan Jepang dalam babak perempat final Piala Asia U-19 2018 lalu.
ADVERTISEMENT
Piala Asia U-23, Timnas U-23 Indonesia, Indonesia vs Brunei Darussalam, Stadion My Dinh
Tim nasional U-23 Indonesia berfoto bersama menjelang pertandingan sepak bola Grup K kualifikasi Piala Asia U-23 AFC 2020 di Stadion Nasional My Dinh, Hanoi, Vietnam. Foto: Antara/R. Rekotomo
Khusus untuk McMenemy, ia sejatinya bukanlah pelatih yang gemar menggunakan pola tiga bek. Kala masih menangani Bhayangkara FC, juru latih asal Skotlandia itu justru terbiasa menggunakan pola 4-4-2 atau 4-3-3.
McMenemy pertama kali menerapkan formasi 3-4-3 kala menjalani debutnya. Ketika itu, Timnas Indonesia menghadapi tuan rumah Myanmar dalam laga uji tanding. Pola tersebut terasa berhasil karena Timnas Indonesia mampu pulang dengan kemenangan 2-0.
Yustinus Pae dan Ruben Sanadi yang berposisi sebagai wing back berperan dengan sangat apik. Keduanya mampu membuat serangan dan bertahan menjadi seimbang.
Belum lagi tiga bek yang dimainkan yakni Yanto Basna, Manahati Lestusen, dan Hansamu Yama yang terlihat tidak canggung. Koordinasi ketiganya sangat apik. Ketika bertahan, Rizky Pellu dan Evan Dimas juga membantu secara maksimal.
ADVERTISEMENT
Meski demikian, kendala didapat Timnas Indonesia di laga uji tanding kedua. Menghadapi Yordania di Stadion King Abdullah II, Amman, Rabu (12/6/2019), lini belakang Timnas Indonesia tampak porak poranda.
(not cover) Foto Timnas
Timnas Indonesia Foto: dok. Jordan Football Association (JFA)
Perubahan memang dilakukan oleh McMenemy di laga tersebut. Ruben Sanadi dicoba sebagai wing back kanan. Lalu di kiri, McMenemy menugaskan Rizky Pora. Akan tetapi, Ruben dan Rizky tampak canggung.
Khusus Ruben, pemain yang kini membela Persebaya acapkali kehilangan bola dan salah posisi. Ruben juga tak banyak membantu Riko yang berada di depannya. Keseimbangan yang terlihat kala melawan Myanmar seketika lenyap. Ini juga tak lepas dari pressing ketat dari Yordania sejak di wilayah pertahanan Indonesia.
Banyaknya kesalahan yang dilakukan ketika menggalang pertahanan akhirnya membuat Timnas Indonesia dihantam dengan empat gol berbalas satu. Perdebatan menyoal penggunaan tiga bek kemudian mengemuka. Tepatkah keputusan McMenemy?
ADVERTISEMENT
Pelatih Barito Putera, Jacksen F. Tiago, mendukung upaya yang dilakukan McMenemy dengan mengusung skema tiga bek. Pelatih yang pernah menangani Timnas Indonesia pada 2013 ini mengatakan skema tersebut memang sedang menjamur di sepak bola Eropa.
"Pola tiga bek menjadi tren yang digunakan oleh hampir 50% di Piala Dunia 2018 kemarin. Tapi, tidak ada pola yang efektif di dunia ini. Yang menentukan sukses atau gagal sebuah formasi adalah cara pemain menjalankan," ujar Jacksen ketika dihubungi kumparanBOLA, Kamis (13/6).
Di Piala Dunia 2018 lalu, pola tiga bek memang menjamur. Dua semifinalis yakni Inggris dan Belgia misalnya, sama-sama mengusung formasi 3-5-2. Timnas Inggris di bawah Gareth Southgate mampu tampil ciamik dengan pola tersebut. Kieran Trippier dan Ashley Young yang tampil sebagai wing back berperan aktif dalam menyerang maupun bertahan.
ADVERTISEMENT
"Kelebihan formasi 3-5-2 atau 3-4-3 ada pada wing back-nya yang bisa menjadi bek sayap saat bertahan atau menjadi gelandang saat menyerang. Sayap-sayap di posisi penyerang juga bisa membantu bertahan," tutur Jacksen.
Menurutnya, pemain-pemain Indonesia punya kualitas mumpuni untuk bermain dengan formasi tersebut. Ia juga menilai para pemain bisa beradaptasi dengan beragam skema bermain yang diinstruksikan sang pelatih.
Pandangan lain diberikan oleh pelatih Timnas Indonesia di Piala AFF 2012, Nilmaizar, yang menilai Andritany Ardhiyasa dan kolega masih butuh adaptasi. Apalagi, formasi dengan mengusung tiga pemain di belakang ini cenderung baru digunakan oleh Timnas Indonesia.
Nil Maizar
Nil Maizar. Foto: Instagram @coachnil70
"Secara umum permainan Timnas Indonesia saat menghadapi Yordania masih belum padu. Saya melihat beberapa faktor seperti soal adaptasi dengan pola permainan pelatih yang baru," ucap Nil.
ADVERTISEMENT
"Timnas Indonesia kali ini dalam proses transisi. Pastinya ke depan tim akan bisa berkembang," kata mantan pelatih Semen Padang ini.
Well, taktik tiga bek dari McMenemy memang masih baru. Masih akan ada uji tanding lainnya yang dihadapi oleh Timnas Indonesia dengan menjamu Vanuatu di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Sabtu (15/6) mendatang.
Lantas, apakah McMenemy masih tetap mempertahankan formasi 3-4-3 pada laga nanti? Menarik dinantikan.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan