Kumparan Logo

Teror Suporter: Menjatuhkan Mental Wajar, Menyerang Fisik Tidak Boleh

kumparanBOLAverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suporter membentangkan spanduk di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suporter membentangkan spanduk di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Pernah suatu waktu, ketika kumparanBOLA berdiskusi dengan Tobias Ginanjar, ketua Viking Frontline, ia mengungkapkan sesuatu seperti ini.

"Suporter tidak masalah saling meneror lawan, tapi dengan tujuan untuk menjatuhkan mental, bukan untuk melukai suporter lawan," ujarnya.

Tobias memang tidak salah. Selain untuk mendukung tim kesayangan ketika berlaga, salah satu tujuan suporter--yang membikin tim-tim kerap menyebut main di kandang adalah sebuah hal yang menyenangkan--adalah memberikan teror bagi tim lawan.

Itulah kenapa suporter kerap disebut pemain ke-12. Hal ini pula yang membuat tim yang mampu meraih kemenangan tandang adalah tim yang memiliki mental luar biasa, karena ia mampu lepas dari tekanan 12 orang yang mengepung mereka ketika bertanding di dalam stadion.

Maka, dengan status mereka sebagai pemberi teror bagi lawan, tak heran berbagai kelompok suporter acap memberikan "sambutan" bagi para rival mereka yang bertandang. Malah, tak jarang "sambutan" ini diberikan secara berlebihan, dalam wujud berupa kembang api maupun petasan.

Suporter Persikabo. Foto: Instagram @officialpersikabo

***

'Maung Bandung' bakal berhadapan dengan Arema FC dalam laga tunda pekan 4 Liga 1 2019, Selasa (30/7/2019) malam WIB. Harapan awal, tentunya kedua belah pihak ingin laga berjalan aman. Apalagi, saat sesi jumpa pers jelang laga, Robert Rene Alberts selaku pelatih Persib mengungkapkan romantismenya dengan Kota Malang.

"Setiap kembali ke Malang, selalu ada kesan tersendiri bagi saya. Karena saat itu tim sangat bagus dan yang mengejutkan kami bisa memenangi liga. Di sini saya juga punya memori yang bagus dan suporter juga memiliki memori seperti yang saya rasakan," ujarnya.

Meski begitu, hal itu tidak cukup untuk membendung "teror" yang sudah disiapkan oleh oknum suporter Arema. Pada malam hari jelang laga, sekelompok oknum suporter Arema sudah berkumpul di depan Hotel Savana, Jalan Letjen Sutoyo, Malang. Mereka berteriak-teriak "Persib Bandung is full of sh*t".

Tidak hanya itu, mereka juga melemparkan petasan dan kembang api ke arah hotel. Kejadian ini direkam oleh Rene Alberts dalam akun Instagram pribadinya, diiringi dengan sedikit kritik. "Sudah pukul 02.50 WIB dini hari, tak ada polisi. Mari kita sama-sama nikmati sepak bola. Sepak bola memang untuk dinikmati."

instagram embed

Teror yang diberikan di depan hotel ini seolah menambah berbagai kemuraman yang diderita Persib saat bertandang ke Malang. Ketika perjalanan ke Malang, bus Persib mogok di jalan tol. Hal itu membuat para penggawa Persib, beserta jajaran pelatih, harus menunggu selama 2 jam di jalan tol.

Perkaranya adalah, bus mengalami panas mesin sehingga mogok. Kejadian ini juga direkam oleh Rene Alberts lewat akun Instagram pribadinya, disertai kata-kata bernada kesal yang ia ucapkan.

"Ya, kembali lagi. Ada sesuatu yang terjadi. Kita menuju Malang untuk bertanding melawan Arema. Tapi di Indonesia, ada masalah yang bisa kamu dapat setiap harinya. Kami sekarang di jalan tol, dan kami terjebak, karena bus tidak berada dalam kondisi baik," ujarnya.

"Kami benar-benar terjebak, di tengah jalan tol, karena mesin bus kepanasan. Ini tidak pantas. Lalu, apakah pertandingan harus ditunda? Tidak. Jika perlu, kami akan berjalan kaki sampai ke Malang. Tidak akan ada yang bisa menghentikan kami untuk menuju Malang," lanjutnya.

Setelah bus mogok, teror juga mereka dapat ketika selesai melakukan latihan resmi. Sekelompok suporter Arema sudah menunggu mereka di luar Stadion Kanjuruhan, lalu melemparkan teriakan-teriakan yang berisi ejekan kepada Persib.

instagram embed

Teror yang dialami Persib ini tidak berselang lama dengan teror yang dialami Persija. Jelang menghadapi PSM Makassar dalam laga leg kedua final Piala Indonesia 2018, Persija mendapatkan teror berupa pelemparan terhadap bus yang mereka tumpangi.

Insiden yang dialami Persija ini sedikit lebih parah, karena beberapa orang yang ada di dalam bus mengalami luka-luka. Alhasil, pihak Persija meminta penundaan laga, dan itu dikabulkan oleh PSSI. Laga leg kedua final Piala Indonesia pun diundur menjadi 6 Agustus 2019.

Perkara teror yang dilakukan suporter, beberapa kelompok suporter di Eropa juga acap melakukan hal yang sama. Salah satu yang menyita perhatian adalah teror yang dilakukan oleh suporter Liverpool. Ketika itu, 'Si Merah' akan melawan Manchester City di laga leg pertama perempat final Liga Champions 2017/18.

Saat bus City memasuki jalan yang akan menuju ke Stadion Anfield. Tepat di persimpangan jalan antara Arkles Lane dan Anfield Road, bus City dilempari kaleng oleh para suporter. Suasana bertambah mencekam saat para suporter menyalakan kembang api merah, sembari berteriak-teriak ke arah bus City.

Atas kejadian tersebut, Juergen Klopp selaku manajer Liverpool langsung meminta maaf. Permintaan maaf Klopp ini juga dibarengi oleh permintaan maaf dari manajemen Liverpool. Menyambut niat baik mereka, Pep Guardiola selaku manajer City juga memberikan pandangannya.

"Saya berterima kasih kepada Juergen (Klopp) atas permohonan maafnya. Kami tidak mengharapkan hal seperti ini (teror suporter) terjadi kembali setelah apa yang terjadi di Dortmund pada musim 2016/17). Beruntung tidak ada yang terluka," ujar Guardiola.

Meski begitu, teror suporter ini tampak berpengaruh pada permainan City. Dalam laga leg pertama perempat final tersebut, mereka digasak tiga gol tanpa balas oleh Liverpool lewat gol-gol dari Mohamed Salah, Sadio Mane, dan Alex Oxlade-Chamberlain. Kekalahan di leg pertama ini juga yang membuat City gagal melangkah ke semifinal.

Teror suporter Liverpool. Foto: Reuters / Carl Recine

***

Tobias memang mengamini bahwa rivalitas itu perlu ada. Ia akan jadi bumbu tersendiri dari sebuah pertandingan, dan membuat pertandingan jadi berjalan dengan seru, tidak monoton. Tapi, ia juga memberi syarat tentang seperti apa rivalitas itu mestinya harus dilakukan.

"Rivalitas memang harus ada, tapi jangan sampai melakukan hal-hal yang di luar batas, sepert melukai seseorang. Rivalitasnya cukup berlangsung di lapangan saja, berlangsung seru," ujarnya.

Jika teror itu masih sekadar teriakan ataupun ejekan yang berusaha menjatuhkan mental, itu masih wajar untuk dilakukan. Namun, jika memang itu sudah melukai atau merugikan salah satu pihak, bahkan sampai membunuh seseorang, ada baiknya kita harus berpikir ulang mengenai konsep teror suporter itu sendiri.