kumparan
23 Desember 2019 17:14

Tertarik Jadi Sukarelawan Piala Dunia 2022? Begini Caranya

Piala Dunia 2020 potrait
Piala Dunia 2020. Foto: Dok: FIFA.
Piala Dunia 2022 bakal digelar dua tahun lagi. Qatar selaku pihak penyelenggara membuka kesempatan bagi mereka yang ingin turut repot menyukseskan Piala Dunia 2022.
ADVERTISEMENT
Caranya mudah. Mereka yang berminat hanya perlu mengisi sejumlah pertanyaan di situs ini. Informasi yang diminta adalah nama, alamat e-mail, dan tanggal lahir. Menurut situs resmi FIFA, pendaftar harus berusia di atas 16 tahun. Nantinya, mereka yang terpilih bakal mendapat sejumlah pelatihan dari Qatar.
Dari pantauan kumparanBOLA, per 23 Desember 2019 ini sudah ada 265.361 sukarelawan yang mendaftar. Sayangnya, tidak disebut pasti berapa jumlah sukarelawan yang bakal dipanggil. Pendaftaran ini bakal ditutup pada 31 Desember 2021.
Tidak ada salahnya mengadu keberuntungan Anda. Pasalnya, banyak keuntungan mengikuti program semacam ini. Contohnya, sukarelawan bisa lebih diutamakan untuk diterima menjadi sukarelawan saat Piala Dunia 2022 berlangsung. Selain itu, mereka juga bisa berkenalan dengan ratusan ribu orang dari berbagai belahan dunia.
ADVERTISEMENT
"Kami memiliki jadwal sangat padat sampai kick-off nanti. Mengikuti program ini memberi kesempatan untuk mendapat keahlian baru, bertemu orang baru, dan mempelajari apa saja yang ada di Piala Dunia nanti," kata Nasser Al Khater, wakil Qatar untuk turnamen ini, seperti dilansir situs FIFA.
"Kami tak sabar menyambut dan bekerja dengan para sukarelawan, tak peduli usia, kemampuan, atau asal mereka," lanjut dia.
piala dunia 2020
Pembukaan pencarian sukarelawan untuk pra Piala Dunia 2020. Foto: Dok: FIFA.
Para sukarelawan ini bakal mendapat beberapa tugas di Qatar. Di antaranya adalah membantu mulusnya acara pembukaan stadion-stadion baru untuk kepentingan Piala Dunia 2022.
Sedihnya, stadion-stadion itu seakan dibangun di atas darah manusia. The Guardian melaporkan bahwa banyak kasus-kasus kematian para pekerja akibat lingkungan proyek yang tidak aman.
ADVERTISEMENT
Contohnya, adalah kasus kematian Tej Nerayan Tharu. Dia adalah pekerja asal Nepal yang meninggal dunia dalam proyek pembangunan Stadion Al-Wakrah yang bernilai 512 juta poundsterling.
Selain Tharu, Ada juga kasus Zachary Cox yang meninggal saat menyelesaikan proyek Stadion Khalifa. Parahnya, hasil autopsi Cox menunjukkan bahwa pria asal Inggris itu meninggal lantaran peralatan kerja yang di bawah standar.
Bukan itu saja masalah para pekerja proyek stadion di Qatar. Ada laporan dari Al Arabiya yang mengungkap jam kerja tak sehat. Mereka menemukan bahwa pekerja-pekerja di Qatar harus bekerja sampai 72 jam per pekan. Selain itu, ada pekerja yang tak pernah libur dalam 148 hari.
Bahkan, Amnesty International pernah melaporkan bahwa banyak pekerja yang tidak diperbolehkan minum saat sedang berada di situs pengerjaan proyek. Padahal, suhu udara di Qatar bisa mencapai 47 derajat Celcius di siang hari.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan