kumparan
Bola & Sports13 Agustus 2018 12:49

Titik Balik Timnas U-23 Runtuhkan Tembok Kokoh Taiwan

Konten Redaksi kumparan
Timnas U-23
Selebrasi pemain sepakbola Indonesia dalam pertandingan Grup A Asian Games ke-18 di Stadion Patriot Chandrabhaga, Minggu (12/8). (Foto: INASGOC/Jessica Margaretha)
Langkah awal dipijak dengan begitu meyakinkan oleh Timnas Indonesia U-23 dalam memulai Asian Games 2018. Menghadapi Taiwan U-23 di Stadion Patriot, Minggu (12/8/2018), skuat ‘Garuda Muda’ sukses menghajar sang lawan dengan skor telak 4-0.
ADVERTISEMENT
Kemenangan itu pun membawa Timnas U-23 berada di posisi kedua klasemen Grup A dengan koleksi tiga angka. Mereka terpaut satu poin dari Palestina U-23 yang memuncaki klasemen dari dua laga yang sudah dilewati.
Perebutan puncak klasemen pun akan terjadi manakala Timnas U-23 menghadapi Palestina pada Rabu (15/8) mendatang. Akan tetapi, sebelum menatap laga itu, ada baiknya mencermati terlebih dahulu tentang apa yang terpampang selama 90 menit saat Timnas U-23 meladeni Taiwan.
Seperti biasa, pelatih Timnas U-23, Luis Milla, memakai pakem 4-2-3-1 dengan Stefano Lilipaly sebagai pengatur serangan. Sementara, Evan Dimas Darmono di luar dugaan turun sejak menit awal untuk berduet dengan Zulfiandi sebagai jangkar.
Namun, sepanjang 45 menit pertama, peran Lilipaly justru nyaris tak terlihat. Serangan-serangan yang dibangun Timnas U-23 lebih terkonsentrasi ke dua sisi sayap. Itu pun beban di antara kedua sayap lebih condong kepada sisi kiri yang ditempati Febri Hariyadi.
ADVERTISEMENT
Berulang kali kolaborasi Febri dengan Rezaldi Hehanusa mampu membuat gaduh. Sementara, Irfan Jaya yang berada di sisi kanan terlihat lebih ‘pendiam’. Hal itu juga tak lepas dari I Putu Gede Juni Antara yang bermain lebih dalam.
Meski kerap bentrok di sisi kanan pertahanan lawan, Milla tampaknya sudah membagi tugas antara Febri dan Rezaldi. Jika dicermati, setiap melakukan serangan, Febri lebih cenderung mengakhirinya dengan umpan silang datar menuju mulut gawang. Sedangkan, Rezaldi lebih condong untuk mengirimkan umpan silang lambung ke jantung pertahanan lawan.
Sayangnya, gaya main Timnas U-23 dengan mengeksploitasi sisi sayap lawan, tak membuahkan hasil sepanjang 45 menit pertama. kumparanBOLA mencatat Timnas U-23 setidaknya melepaskan hingga 10 umpan menuju kotak penalti lawan. Angka itu merupakan kombinasi dari umpan silang datar dan lambung serta direct ball dari lini kedua.
ADVERTISEMENT
Ya, Taiwan tampaknya sudah paham betul gaya main Timnas U-23. Mereka seakan-akan mempersilahkan Hansamu Yama dan kolega untuk menari-nari di tepi lapangan. Tetapi, begitu bola diangkat, lapisan pertahanan yang menumpuk di kotak penalti, sudah siap menghalau. Sialnya, penyelesaian akhir lini depan Timnas U-23 juga lumayan buruk.
Memasuki babak kedua, pola permainan Timnas U-23 tak banyak berubah. Akan tetapi, ada satu hal yang lumayan mencolok yakni posisi Lilipaly yang terlihat lebih ke depan. Ia kerap berdiri sejajar dengan Beto dan lebih sering muncul di kotak penalti lawan untuk menyambut umpan dari sisi sayap.
Timnas U-23
Pesepak bola Indonesia Saddil Ramdani (17) mengganjal pemain China Taipei Shengwei Chen (12) pada pertandingan Grup A Asian Games ke-18 di Stadion Patriot, Bekasi Minggu (12/8). (Foto: INASGOC/Charlie)
Dan, turning point (titik balik) bagi tim ‘Merah-Putih’ akhirnya hadir manakala Milla memutuskan untuk mengganti Irfan dengan Saddil Ramdani pada menit ke-60. Masuknya Saddil membuat sisi kanan Timnas U-23 yang terlihat senyap di babak pertama, menjadi jauh lebih hidup. Aliran bola pun seketika terdistribusi dengan lancar ke dua sayap tersebut.
ADVERTISEMENT
Dengan kemampuan olah bola di atas rata-rata, keberadaan Saddil sontak membuat konsentrasi lini pertahanan Taiwan terpecah. Jika di babak pertama mereka lebih fokus ke pos yang ditempati Febri, di paruh kedua, tugas pemain bertahan Taiwan bertambah seiring pergerakan Saddil yang mengancam.
Benar saja, bermula dari gocekannya, pemain Taiwan terpaksa menjatuhkannya di tepi garis lapangan. Dari situlah, gol perdana Timnas U-23 tercipta setelah bola mati Febri ke tiang dekat disambut dengan tandukan Lilipaly.
Gol tersebut rupanya cukup memengaruhi mental bertanding Taiwan. Hal itu masih ditambah faktor stamina penggawa Taiwan yang terlihat sudah terkuras mengingat mereka sudah memainkan laga perdana melawan Palestina pada dua hari sebelumnya.
Gol pembuka Timnas U-23 juga memberikan efek domino. Karena Taiwan ingin mengejar gol penyama kedudukan, maka menimbulkan konsekuensi terhadap pertahahan mereka menjadi longgar. Kondisi itu disadari betul oleh Timnas U-23 yang semakin meningkatkan agresivitas serangan.
ADVERTISEMENT
Terbukanya tembok pertahanan Taiwan bisa terlihat jelas dari proses gol kedua dan ketiga Timnas U-23. Pada gol kedua yang dicetak Beto, organisasi pertahanan Taiwan tampak kacau sehingga area tengah dari sepertiga pertahanan mereka, yang sulit ditembus pada babak pertama, terlihat meninggalkan lubang menganga.
Setali tiga uang dengan gol Lilipaly. Konsentrasi pertahanan Taiwan sudah sangat chaos sehingga tak ada pemain yang melakukan marking kepada pemain Bali United itu. Puncaknya, organisasi permainan Taiwan terlihat berantakan menyusul gol pamungkas dari Timnas U-23 yang tercipta lewat sepakan jarak jauh Hargianto.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan