kumparan
21 Nov 2018 0:40 WIB

Van Dijk: Mengawal Pertahanan, Mencetak Gol, Menghibur Wasit

Virgil van Dijk saat merayakan gol ke gawang Jerman. (Foto: REUTERS/Leon Kuegeler)
Virgil van Dijk adalah bek yang garang. Ketika menjaga lini pertahanan, dia tak akan segan untuk menghentikan para penyerang yang akan masuk ke wilayah pertahanan. Namun, di balik kegarangannya itu, terdapat kelembutan yang memberikan kekuatan kepada orang-orang di dekatnya.
ADVERTISEMENT
Ketika itu, Van Dijk menjadi bagian dari skuat Timnas Belanda yang menghadapi Timnas Jerman dalam laga keempat Grup 1 Liga A UEFA Nations League. Meski timnya harus kebobolan dua gol (hasil akhir, Belanda main imbang dengan Jerman 2-2), bek yang kini membela Liverpool itu tampil ciamik.
Bersama Matthijs de Ligt, sang penggawa Liverpool mengawal lini pertahanan Belanda di laga itu. Jika De Ligt menjadi pemain yang rajin melakukan intersep (total 4 intersep dia bukukan, terbanyak di antara pemain Belanda lain), Van Dijk menjadi pemain yang paling sering melakukan sapuan (total 6 sapuan, terbanyak di antara pemain Belanda lain). Dalam beberapa momen, Van Dijk juga tidak segan beradu fisik dengan para pemain Jerman yang notabene lebih muda daripadanya.
ADVERTISEMENT
Puncaknya, kegarangan Van Dijk mewujud dalam gol penyama kedudukan yang sukses dicetaknya pada menit 90+1. Sundulannya sukses menembus gawang Manuel Neuer, mengubah papan skor dari 2-1 menjadi 2-2. Selain terhindar dari kekalahan, gol ini mengantarkan Belanda ke babak semifinal UEFA Nations League.
Tapi, segala kegarangan dan penampilan apik tak menggerus sisi humanis Van Dijk. Usai laga, ia menghampiri wasit yang memimpin pertandingan, Ovidiu Hategan. Wasit berusia 38 tahun itu ternyata memimpin pertandingan sambil menanggung beban berat.
Jauh di kampung halamannya di Rumania sana, ada kabar yang berembus ke telinga Hategan bahwa sang ibu telah meninggal dunia. Kabar ini dia terima sesaat sebelum memimpin laga Jerman lawan Belanda di Veltins Arena. Namun, atas nama profesionalisme, Hategan tetap berangkat memimpin laga. Usai memimpin laga, tangisnya pun tak terbendung dan perlahan keluar dari matanya.
ADVERTISEMENT
Melihat hal tersebut, Van Dijk langsung menghampiri sang wasit. Dia terlihat berbincang sebentar dengan Hategan, sebelum akhirnya memberikan pelukan pada sang wasit. Setelahnya, Van Dijk beranjak meninggalkan lapangan pertandingan.
"Wasit itu (Hategan) sedang bersedih karena dia barus saja kehilangan ibunya. Saya pun menghampirinya untuk menguatkannya. Saya bilang kepadanya bahwa dia sudah memimpin laga dengan baik. Mungkin itu hal yang kecil, tapi saya harap itu bisa membantu menguatkannya," ungkap Van Dijk, dilansir BBC.
Hategan sendiri adalah wasit yang cukup sering memimpin pertandingan di Eropa. Salah dua di antaranya, laga Liga Champions 2018/19 antara Barcelona Inter Milan di Camp Noulaga serta semifinal Liga Europa 2016/17 yang mempertemukan Celta Vigo dan Manchester United.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan