kumparan
25 Juli 2018 15:47

Yerry Mina: Disisihkan di Barcelona, Terbang Tinggi di Piala Dunia

Yerry Mina
Yerry Mina rayakan gol di laga vs Inggris. (Foto: REUTERS/Maxim Shemetov)
Pada mulanya adalah keputusan, lalu singgah kepada ketidakpastian, dan bertemu dengan harapan baru. Yerry Mina ada dalam perjalanan yang demikian.
ADVERTISEMENT
Tepat 13 Januari 2018, Mina diperkenalkan secara resmi sebagai skuat baru Barcelona. Selayaknya pemain baru, ia diperkenalkan di Camp Nou. Walau waktu itu stadion tak penuh, ia tetap semringah dan menyapa ramah siapa pun yang hadir. Ia melambaikan tangan, memasang tampang ceria. Walau berstatus sebagai ‘perantauan’ baru di Catalunya dan sepak bola Spanyol, ia mempertontonkan gerak-gerik luwes.
Mina lantas melanjutkan langkahnya ke rumput lapangan Camp Nou. Namun, ada pemandangan asing. Kali ini, ia melepas sepatu dan kaus kakinya. Dengan bertelanjang kaki ia menginjak rumput Camp Nou dan mengangkat kedua tangannya. Setelah selesai melakukan ‘ritual’ itu, ia kembali mengenakan sepatunya dan melakukan sedikit atraksi juggling.
"Banyak yang bilang seperti ini di negara saya; 'Sentuh tanah yang ingin kamu kuasai dengan bertelanjang kaki. Dengan menginjak rumput, artinya kamu menyentuh medan yang ingin dikuasai.' Saya ingin menciptakan sejarah di sini, dengan apa pun dan siapa pun yang saya miliki. Saya selalu melakukannya dan saya berharap, kali ini juga akan berhasil," kata Mina pada sesi wawancara.
ADVERTISEMENT
Namun, kenyataan sering bertingkah kurang ajar. Alih-alih menjadi bintang muda, Mina justru tersisih. Pemain berusia 23 tahun ini hanya bermain 377 menit untuk Barcelona pada musim 2017/2018.
Yang menyedihkan, musim pertamanya ditutup dengan tudingan sebagai kambing hitam. Permainan Mina yang dianggap tak padu dengan Barcelona dianggap sebagai penyebab terputusnya rekor tak terkalahkan Barcelona di La Liga 2017/2018. Bertanding melawan Levante di pertandingan terakhir La Liga, Barcelona kalah 4-5. Rumor bahwa ia akan segera dijual pun berembus kencang.
Ernesto Valverde memaparkan apa yang menjadi alasannya tidak memercayakan menit bermain yang banyak untuk Mina. Kata Valverde, Mina masih harus beradaptasi dengan gaya permainan Barcelona. Akibatnya, Mina kalah bersaing dengan Gerard Pique dan Samuel Umtiti. Malahan, ia sering menjadi pilihan keempat setelah Thomas Vermaelen.
ADVERTISEMENT
Didatangkan dari Palmeiras dengan harga sebesar 11,8 juta euro, Mina tadinya digadang-gadangkan sebagai harapan baru Barcelona di lini pertahanan. Wacana ini beralasan karena di Brasil sana, ia diperhitungkan sebagai salah satu bek terbaik.
Musim pertamanya di Palmeiras memang hanya diwarnai dengan 13 laga, tapi ia berhasil masuk dalam tim terbaik liga pada 2016. Catatannya waktu itu juga mengesankan, ia berhasil membukukan rataan 1,8 tekel dan 2,2 intersep per pertandingan.
Perkembangannya dari tahun ke tahun membuatnya diperhitungkan untuk masuk dalam tim senior Kolombia. Sebelum Piala Dunia 2018, ia berhasil mencetak empat gol dari 13 pertandingannya bersama Kolombia.
Minggu, 24 Juni 2018, Kolombia sedang berupaya menundukkan Polandia. Mereka turun lapangan dengan satu tekad untuk merebut kemenangan pertama mereka di Piala Dunia 2018. Laga pertama di Rusia ditutup dengan kekalahan 0-1 dari Jepang. Polandia lantas menjadi musuh yang harus ditaklukkan dengan kemenangan supaya langkah Kolombia semakin pasti.
ADVERTISEMENT
Polandia memulai laga dengan berani. Tekanan demi tekanan dijejali kepada kubu Kolombia. Alhasil, pemain-pemain bertahan Kolombia dipaksa untuk bekerja keras sejak peluit wasit dibunyikan.
Hal pertama yang barangkali luput dari permainan Polandia adalah pemahaman bahwa sepak bola adalah elemen penting bagi kehidupan orang-orang Kolombia. Bila kehidupan orang-orang Kolombia dibedah, maka di dalamnya akan terlihat bahwa sepak bola lebih dari sekadar olahraga, permainan, dan kompetisi. Ia menjadi atom yang menyusun materi-materi terkecil dalam tubuh negara Kolombia.
Makanya, Kolombia tak cepat-cepat menyerah menghadapi tekanan di atas lapangan bola. Alih-alih panik, Kolombia justru menerapkan skema pertahanan efektif. Tujuh pemain Kolombia, termasuk Mina, tetap ada di area pertahanan sendiri. Keberadaan mereka menjadi tembok yang menghimpit ruang Zielinski, Lewandowski, dan Kownacki untuk berkreasi.
ADVERTISEMENT
Hal kedua yang tidak diketahui Polandia, Kolombia punya senjata rahasia dalam permainan Mina. Cerita manis memang kerap dimulai dengan awal yang tak terduga. Menerima umpan matang James Rodriguez, Mina berhasil membobol gawang Polandia lewat sundulan di menit 40.
“Saya begitu gugup di pertandingan pertama karena sebelumnya saya tidak bermain sama sekali. Saya tidak punya menit bermain, benar-benar tidak ada.”
“Berangkat ke sana (Rusia), menunggu, dan menerima kenyataan bahwa (di laga pertama -red) saya tidak mempunyai kesempatan untuk memberikan apa yang saya miliki adalah hal yang sangat sulit. Tetapi, Tuhan pada akhirnya memberikan saya kesempatan untuk melangkah maju dan menunjukkan apa yang sebenarnya ada dalam diri saya," papar Mina kepada ESPN.
ADVERTISEMENT
Selayaknya film epik bertemakan olahraga, adegan berikutnya yang muncul di pertandingan itu begitu melenakan, begitu memihak pada permainan Kolombia. Tim asuhan Jose Pekerman itu tidak menutup laga dengan kemenangan 1-0, tapi 3-0.
Yerry Mina
Yerry Mina di Camp Nou (Foto: REUTERS/Albert Gea)
Bila Mina gagal berkawan dengan La Liga, maka Piala Dunia 2018 datang menyelamatkannya. Di laga terakhir fase grup, Mina kembali mencetak gol. Sundulannya kembali bertuah. Menerima umpan sepak pojok Quintero, tandukan Mina membuahkan keunggulan pertama bagi Kolombia di menit 74. Kemenangan di pertandingan ini kemudian dibarengi dengan keberhasilan Kolombia melangkah ke babak 16 besar.
Tak ada yang bisa menjawab roh macam apa yang merasuk dalam kepala Mina di dalam Piala Dunia. Melawan Inggris di babak 16 besar, sundulannya kembali bertuah. Dalam waktu normal, pasukan Jose Pekerman tertinggal 0-1 akibat gol penalti Harry Kane.
ADVERTISEMENT
Kolombia berusaha keras mengejar. Hasilnya, pada masa injury time, Kolombia sukses menyamakan kedudukan lewat sundulan Mina. Yang lahir lewat gol ini ternyata bukan sekadar keharusan untuk melanjutkan pertandingan ke babak tambahan waktu, tapi juga tiga rekor.
Pertama, gol Mina membuat Inggris kebobolan untuk kali pertama pada masa injury time babak kedua laga Piala Dunia. Kedua, gol Mina menjadi gol ke-99 yang tercipta pada menit 90-an sepanjang sejarah Piala Dunia. Ketiga, Mina menjadi pemain pertama yang mencetak tiga gol sundulan di Piala Dunia sejak Miroslav Klose pada 2002.
Sayangnya, tuah kepala Mina belum cukup kuat untuk mengantarkan Kolombia ke babak perempat final. Melakoni adu penalti, Kolombia menelan kekalahan 3-4.
“Saat saya menyadari bahwa saya bahkan tidak ada di bench, bahwa saya tidak dipertimbangkan untuk dimainkan (oleh Barcelona -red), saya mulai berlatih sendiri di rumah. Rasanya berat untuk menyaksikan teman-temanmu bertanding lewat televisi. Momen itu terasa begitu sulit, saya sadar saya tidak diharapkan oleh pemain mana pun.”
ADVERTISEMENT
“Momen-momen berat itu membuat saya sangat sedih karena saya sadar bahwa sebenarnya saya tidak bekerja dengan baik. Di momen itu, saya menyadari, apa yang tadinya saya harapkan berhasil justru memberikan hasil sebaliknya."
"Saya merasa segalanya runtuh, tak satu hal pun berjalan dengan benar. Saya bahkan tidak dapat mengumpan dengan benar, tidak dapat berlatih dengan baik. Pokoknya, tidak ada satu pun yang berjalan dengan benar," seperti itu Mina menggambarkan hari-hari awalnya di Barcelona.
Yerry Mina
Yerry Mina menangis. (Foto: REUTERS/Christian Hartmann)
Di Piala Dunia 2018, Mina adalah cerita tersendiri. Ia sukses membungkam omongan orang-orang bahwa ia tak lebih dari sekadar pemain aji mumpung. Terlebih, ia berhasil menyumpal keraguannya sendiri akan kualitasnya sebagai pesepak bola. Ia bertanding dengan sekuat-kuatnya, mengawal area pertahanan dengan segigih-gigihnya.
ADVERTISEMENT
Lewat rataan 1,3 tekel dan 1 intersep, 7 sapuan, dan 0,7 dribel per pertandingan, dengan torehan 3 gol yang membuatnya sebagai pencetak gol terbanyak di Timnas Kolombia di Piala Dunia 2018, Mina membuktikan bahwa perjalanan sepak bolanya yang diawali dengan keputusan untuk mengakhiri ceritanya sebagai penjaga gawang memang tepat.
Darah sepak bola mengalir di dalam tubuhnya, walau tak ada yang benar-benar tahu sederas apa alirannya. Ayah dan pamannya bermain sebagai penjaga gawang untuk klub asal Cali, America de Cali.
Sepak bola Mina selalu tentang menghentikan bola. Namun, ia tidak memulainya sebagai bek tengah seperti sekarang. Mina mengawali kiprahnya di atas lapangan bola dengan berdiri di antara tiang gawang. Hanya, pada akhirnya ia memang memutuskan untuk menjadi bek tengah. Alasannya sederhana, ia ingin ada di tengah ‘keramaian’ lapangan sepak bola.
ADVERTISEMENT
Seperti kisahnya bersama Barcelona, sepak bola tidak selalu menjadi perkara yang menyenangkan untuk Mina. Walau ayah dan pamannya tercatat sebagai mantan pemain America de Cali, klub itu menolak ‘lamarannya’ sewaktu muda dulu. Setelahnya, ia kembali menerima penolakan dari Deportivo Cali, tapi perjalanan sepak bola Mina benar-benar dimulai. Adalah Deportivo Pasto U-20 yang membukakan pintu untuk bakat-bakatnya.
Setelahnya, cerita sepak bola Mina berubah. Ia tak lagi mengambil latar lapangan kosong berumput dekat rumahnya di Guachene, tapi dari stadion ke stadion. Narasi sepak bolanya tak lagi dipenuhi dengan gelak tawa saat kawan-kawannya gagal mencetak gol di permainan sepak bola jalanan zaman bocah itu. Narasinya bergeser, berganti menjadi cerita mengangkat trofi gelar juara, menelan kekalahan, berlatih sendirian melawan keterasingan, dan mencetak gol di Piala Dunia.
ADVERTISEMENT
Pesta sepak bola empat tahunan ke-21 itu memang sudah berakhir, tapi persahabatannya dengan Mina belum juga usai. Setelah gelaran di Rusia itu selesai, Mina dihubungkan-hubungkan dengan sejumlah klub punya nama. Setidaknya, ia punya tiga pilihan menjanjikan, Manchester United, Lyon, dan Everton.
Entah apa yang akan menjadi keputusannya kali ini. Tidak ada yang dapat mengetahui akibat apa yang akan mengikuti keputusannya kali ini. Termasuk kemungkinan datangnya keterasingan-keterasingan yang lain, yang menjadi buah dari keputusannya kali ini.
Namun, menyadur perkataan Eduardo Galeano, kalau bola saja tak pernah ingin ditendang dalam dendam, maka tembok pertahanan pun tak suka dibangun dengan pahit dan dingin. Lantas, semoga pemahaman ini yang bersemayam dalam kepala Yerry Mina.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan